METODE TEOLOGI MODEL PRAKSIS
Oleh Robertus Cristianto Naku – Mahasiswa Universita
Sanata Dharma
Semacam Sebuah Pengantar
Kontekstualisasi
teologi adalah suatu upaya untuk memahami iman Kristen ditinjau dari suatu
konteks tertentu. Dengan kata lain, konteks atau situasilah yang mengharuskan
kita berteologi – sebuah imperatif teologis. Dewasa ini, kita boleh mengatakan
bahwa teologi memiliki tiga sumber, yakni Kitab Suci, tradisi dan pengalaman
manusia. Pada pemahaman awal mengenai teologi sebagai refleksi iman, kita hanya
mengenal dua sumber utama berteologi (loci
theologici), yakni Kitab Suci dan tradisi. Namun, pada pemahaman yang lebih
progresif, kita juga mengenal istilah teologi kontekstual yang menelurkan ciri
baru, yakni refleksi pengalaman manusia dikolaborasi dengan sumber utama –
Kitab Suci dan tradisi. Pengintegrasian tiga loci inilah yang membuat teologi menjadi kontekstual. Teologi yang
berwajah kontekstual menyadari bahwa kultur, sejarah dan model berpikir
temporer, harus dirangkul bersama dengan Kitab Suci dan tradisi.[1]
Sejarah
mencatat bahwa berteologi secara kontekstual telah membawa banyak perubahan
sekaligus pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Suatu revolusi sosial lahir
daricara berteologi seperti ini, contohnya teologi pembebasan di Amerika Latin.
Teologi kontekstual pada kenyataannya menawarkan berbagai model atau cara dalam
berteologi. Setiap model teologi menyajikan suatu cara berteologi yang khas, mengindahkan
konteks tertentu dan pengandaian-pengandaian yang juga khas. Pada kesempatan
ini, kelompok akan mengurai sebuah teologi model praksis – yaitu, model
berteologi yang bergerak melingkar, yakni dari aksi menuju refleksi, kembali ke
aksi, dan seterusnya (ada unsur repetition). Model praksis memberi ruang bagi
pengungkapan pengalaman personal dan komunal.[2]
Terminologi
Kata praksis sering digunakan
sebagai sebuah kata untuk menggantikan kata ‘praktik’ atau ‘aksi’. Memang
hubungan kata-kata tersebut mempunyai makna yang sama, tapi penggunaannya
sering tidak tepat dan hanya untuk memunculkan kesan pandai. Praksis adalah sebuah
term teknis yang memiliki akar-akarnya dalam Marxisme, dalam mazhab Frankfurt
(misalnya J. Habermas, A. Jorkheimer, T. Adorno)
dan dalam filsafat pendidikan Paolo Freire[3].
Menurut Jon Sobrino, seorang teolog
yang berkarya di El Salvador, untuk memahami gagasan mengenai praksis, maka perlulah memahami
terlebih dahulu hakikat dua ‘momen’ modernitas. Momen pertama modernitas
ditandai oleh pemikiran Descartes dan Kant. Mereka memperkenalkan gagasan
tentang rasionalitas dan tanggung jawab subyektif. Dari gagasan ini muncul
sebuah tanggapan, bahwa “tidak ada satu pun yang bisa disebut iman yang sejati
atau moralitas yang benar kalau bukan menjadi milik diri kita sendiri, dan
bahwa, sebagai
konsekuensinya, otoritas dari luar pada prinsipnya tidak memiliki dasar yang
kokoh dan penilaian individual bukan melulu sebuah hak melainkan kewajiban[4].”
Tentu saja hal ini berpengaruh dalam
pola pikir Gereja. Gereja tidak akan bisa mempertahankan kredibilitasnya jika
hanya mengandalkan cara klasik, yaitu mengutip Kitab Suci atau Magisterium.
Oleh karena itu Gereja dibantu oleh dua langkah untuk mempertahankan kredibilitasnya di tengah
dunia. Pertama, Historis Kritis,
menemukan apa yang sungguh Gereja percayai, kemudian alasannya, dan mencari
alasan untuk mempertahankan dalam realita zaman (teologi positif). Kedua, Refleksi Rasional, mengusahakan
untuk menemukan makna yang mendalam dari apa yang mesti dipercayai (teologi
spekulatif).
Moment kedua modernitas ditandai oleh Karl Marx.
Ia menemukan bahwa rasionalitas atau pengetahuan intelektual tidaklah cukup
untuk membentuk pengetahuan yang sejati. Kritiknya yang paling terkenal adalah
ditujukan kepada Feurbach yang berbunyi, “Para filsuf hanya menafsir dunia
dalam rupa-rupa cara, padahal persoalannya
ialah mengubah dunia.” Dengan demikian, Teologi adalah suatu
cara untuk merumuskan iman seseorang yang mengalir
keluar dari komitmen-komitmennya sebagai seorang Kristen kepada satu cara
bertindak tertentu serta menetapkan agenda bagi suatu rencana aksi di masa
depan yang lebih bijaksana dan lebih sarat pengabdian[5].
Model praksis dalam hubungannya
dengan teologi kontekstual akan memunculkan sebuah paham. Paham tersebut adalah
teologi bukan melulu berbicara mengenai teori-teori yang relevan bagi kehidupan
Kristiani, tapi lebih pada komitmen tindakan Kristiani. Hal ini selaras dengan
pemikiran Paolo Freire, yakni praksis merupakan “aksi dan refleksi”[6].
Para praktisi model praksis meyakini bahwa model ini mampu menilai dan memaknai
pengalaman masa lalu (Kitab Suci dan tradisi) dan bertindak pada realita masa
kini (pengalaman manusia, kebudayaan, lokasi sosial dan perubahan sosial).
Model Praksis ini sering disamakan
dengan model pembebasan. Hal ini diungkapkan oleh teolog politik di Eropa (J.
Moltmann dan J. B Metz), dan para teolog pembebasan di Amerika Latin. Ketika
mereka membaca dan mempelajari Kitab Suci dan tradisi Kristen sebagai dasar
iman, mereka menemukan akar konteksnya. Kitab Suci merupakan sebuah hasil dari
perjuangan pembebasan manusia, pewartaan Yesus bukanlah sebuah doktrin
melainkan aksi nyata yang mendobrak segala kemapanan struktur, bahwa dosa bukan
dilawan dengan kompromi tapi lebih pada penataan kembali kehidupan seseorang
secara radikal. Perubahan sosial mulai dilihat sebagai sumber utama teologi.
Menurut Stephen Bevans, meski
kedua model ini tampak saling berkaitan, tapi ada baiknya jika tidak menyamakan
kedua model ini. Ada beberapa perbedaan yang mampu dijadikan alasan untuk tidak
menyamakan kedua model ini. Pertama,
Teologi tidak mesti mengangkat tema-tema pembebasan. Kedua, kekhasan model praksis tidak terletak pada tema tertentu
tapi pada suatu metode tertentu.
Tinjauan Atas Model
Praksis
Ketika kita berbicara
tentang model praksis itu berarti
menyangkut teologi kontekstual, maka kita berbicara tentang sebuah
model, yang wawasan utamanya ialah bahwa teologi itu dilakukan bukan melulu
dengan menyediakan ungkapan – ungkapan yang relevan bagi iman kristen,
melainkan terutama oleh komitmen kepada tindakan Kristen; Model praksis
menggunakan sebuah metode yang dalam artinya yang mendasar dipahami sebagai
kesatuan antara pengetahuan sebagai aktivitas dan pengetahuan sebagai isi.[7]
Kekuatan utama model praksis adalah metode serta epistemologi yang
mendasarinya.[8]
Metode yang digunakan oleh model praksis adalah kesatuan antara pengetahuan
sebagai aktivitas dan pengetahuan sebagai isi. Metode teologi pembebasan
sebagai suatu yang khas namun terkait dengan gerak ganda yang lebih tradisional
berupa penyelidikan historis dan refleksi teologis. Semua teologi pembebasan –
Amerika Latin, feminis, hitam misalnya dilakukan seturut metode teologi kontekstual
ketiga ini.[9]
Salah satu segi paling positif dari model melakukan teologi kontekstual seperti
ini adalah dasar epistemologinya yang kuat. Hal terpenting bagi suatu
pengetahuan yang paling utuh bukan melulu pengetahuan intelektual tentang
kebenaran, melainkan satu pengetahuan yang didasarkan pada aksi dan refleksi
atas aksi itu (praksis); faktor positif lain yang mendukungnya sebagai salah
satu model ialah tanggapan dari para teolog dan umat sederhana terhadap cara
melakukan teologi ini. Inti model ini terdapat pada Frasa Jon Sobrino “
Mengenal Kristus berarti mengikuti Dia.”[10]
Teologi sebagai refleksi kritis pada praxis historis merupakan sebuah teologi
pembebasan, sebuah teologi yang mentransformasikan sejarah umat Allah dan juga
oleh karena itu, menjadi bagian dari umat Allah yang berkumpul dalam Gereja
(ecclesia) yang secara terbuka mengakui Kristus. Ini merupakan teologi yang
tidak hanya berhenti pada refleksi tentang dunia, tetapi lebih daripada itu
mencoba mengambil bagian dalam proses yang melaluinya dunia ditransformasi. [11]Membawa
refleksi atas suatu situasi khusus ke dalam tindakan itulah praksis yang
dimaksudkan. Para teolog dari model ini cenderung memulai dari bawah ke atas
(bottom up). Praksis menggabungkan praktik dan teori bersama – sama dan memulai
dari tindakan.[12]
Model ini dalam versi
teologi pembebasan terkadang terlalu dipengaruhi oleh ideologi pemikiran Marxis.
Baik jika kita mencoba melihat tulisan Marx: “Para filsuf hanya menafsir dunia
dalam beragam cara; persoalannya adalah mengubahnya.”[13]
Perspektif Marxis menyangkut primat praksis merupakan suatu cara mengenal yang jauh lebih utuh dan menyeluruh
daripada sekadar persetujuan intelektual. Perspektif praksis semacam ini tidak
terbatas sebagai milik kaum Marxis dapat dibuktikan oleh kenyataan bahwa
perspektif serupa juga oleh pemikir – pemikir yang dalam banyak hal sangat
berbeda dari Marx.[14]
Para pemikir itu antara lain Max Scheler, Karl Mannheim, Maurice Blondel, dan
Bernard Lonergan. Intipati para pemikir ini adalah pengetahuan itu sendiri
tidak cukup untuk suatu pemahaman yang utuh tentang sesuatu. Tujuan pengetahuan
bukan sekadar pengetahuan intelektual atas dunia, tetapi harus sampai pada
transformasi pribadi dan dunia.[15]
Oleh karena hakikatnya, sebagai salah satu metode teologi, model praksis
dikawinkan dengan sebuah konteks khusus. Ia tidak pernah menjadi sebuah teologi
yang “kakinya tidak berpijak di atas bumi”. Sekalipun sebagian besar tulisan
tentang model ini dibuat oleh orang -
orang yang mengangkat ihwal bahwa pembebasan sebagai fokusnya yang pertama dan
terutama, akan tetapi model ini memiliki aplikasi – aplikasi bagi kalangan yang
lebih luas.[16]
Kita mempunyai dua alasan
untuk berbicara mengenai model praksis.[17]
Alasan pertama adalah wawasan kunci model ini adalah sentralitas praksis, yakni
perpaduan antara praktik atau aksi dan refleksi atas aksi dalam sebuah spiral
yang berkelanjutan. Alasan kedua adalah metode ini dapat juga secara masuk akal
dilakukan dalam situasi di mana penindasan dan marginalisasi tidak menjadi
konteks di dalamnya orang – orang berteologi. Banyak metode refleksi teologis
yang menggunakan model ini. Sebagai salah satu contoh James dan Evelyn
Whitehead, yang menyajikan tiga langkah refleksi teologis yang berawal dari
praktik, bergerak ke dalam satu refleksi cermat atas dan analisis terhadap
pengalaman ini, terhadap budaya di mana pengalaman itu berlangsung serta
tradisi Kristen yang memberinya kedalaman teologis, dan kemudia bergerak lagi
ke arah sebuah refleksi tentang implikasi – implikasi pastoral yang mungkin
dari pengalaman tersebut dan bagaimana orang bisa bertindak secara lebih
efektif dan setia di masa depan.[18]
Teologi pembebasan juga menggunakan metode yang mencakup “ihwal melihat secara analitis, menimbang
secara teologis dan bertindak
secara pastoral atau politik, tiga tahap dalam satu komitmen seseorang dalam
iman. Sebuah teologi yang dalam cara tertentu tidak berakar dalam praksis,
dewasa ini tidak dapat dipandang sebagai teologi yang memadai.
Berteologi sebagai
refleksi kritis atas praksis, membuat teologi mampu menjadi sebuah ungkapan
yang ampuh mengenai agama Kristen. Dengan secara tetap mengadakan refleksi atas
kegiatan kita sehari – hari dalam bingkai Kitab Suci dan tradisi (dan yang
sebaliknya), agama Kristen bisa membawa banyak hal untuk dikenakan pada
kehidupan sehari – hari, dan sebaliknya kehidupan sehari – hari bisa membantu
mempertajam pengungkapan iman Kristen.[19]
Model praksis ini memenuhi autentisitas sebuah pengungkapan teologis karena
memiliki kekuatan untuk menantang dan memperkaya pengungkapan – pengungkapan
khusus lainnya. Teologi pembebasan misalnya, yang merupakan pelaku utama
walaupun bukan satu – satunya dari model praksis dapat membuktikan keabsahan
model ini. Model ini merupakan perkembangan yang paling penting dalam
teologi dan telah memberi ilham serta
menantang teolog lain seraya membantu mereka membahasakan keprihatinan –
keprihatinan mereka secara lebih jelas. Selain itu, model ini juga memiliki
pemahaman akan pewahyuan sangat segar lagi menarik dan memiliki akar – akar
yang kokoh dalam tradisi teologi.
Model praksis juga
mendapat krtitik dalam bentuknya yang konkret, yakni teologi pembebasan. Beberapa
kalangan merasa tidak nyaman dengan penggunaan Marxisme oleh teologi
pembebasan. Ada yang memperlihatkan ciri selektif bahkan naif dari cara teologi ini dalam membaca Kitab
Suci, sedangkan yang lain lagi mengkritik para teolog pembebasan yang terpusat
pada hal – hal negatif dalam masyarakat, serta ketidakmampuan mereka untuk
melihat perwujudan – perwujudan rahmat secara tidak langsung di tengah
masyarakat atau pengungkapan yang berkaitan dengan religiusitas kemasyarakatan.
Model praksis memberi
ruang yang luas bagi pengungkapan pengalaman personal dan komunal, pengungkapan
budaya atas iman, dan pengungkapan iman dari perspektif lokasi sosial. Pada
saat yang sama ia menyediakan pemahaman – pemahaman baru dan menarik tentang
Kitab Suci dan kesaksian – kesaksian teologis yang lebih tua. Ia juga
mengangkat situasi konkret secara lebih bersungguh – sungguh. Model ini
menerapkan teologi bukan sebagai suatu produk yang bisa diterapkan dan berlaku
untuk segala waktu dan tempat serta dianggap sudah tuntas paripurna, melainkan
sebagai suatu pemahaman tentang pergumulan dengan kehadiran Allah di dalam
situasi – situasi yang sangat khusus. Model praksis menawarkan pembenahan
kepada suatu teologi yang terlalu umum dan mau berlagak secara universal.[20]
Pengandaian-pengandaian
Model Praksis
Dalam
pengandaian-pengandaian model praksis ini, ada dua jenis pengandaian yang
penting, yakni:
1. Pengandaian
bahwa tingkat mengetahui yang paling tinggi ialah melakukan secara benar dan
bertanggungjawab. Maksudnya, kalau cara berteologi yang lebih tradisional,
teologi diterangkan sebagai suatu proses “iman yang mencari pemahaman”, maka
model praksis menegaskan bahwa teologi merupakan sebuah proses “iman yang
mencari tindakan yang benar”.
Salah satu contoh ialah
pada tahun 1976, sekelompok teolog Dunia Ketiga berkumpul di Dar es Salaam,
Tanzania guna berbicara tentang suatu jenis teologi baru yang muncul di
negeri-negeri mereka. Dalam pernyataan akhirnya, mereka menuliskan kata-kata
yang keras menghentak, sebagai berikut: “kami
menolak sebagai tidak relevan jenis teologi akademis yang terpisah dari
tindakan. Kami siap mengadakan sebuah perubahan radikal dalam epistemologi yang
menjadikan komitmen sebagai tindakan pertama dalam teologi, dan terlibat dalam
refleksi kritis atas praksis kenyataan Dunia Ketiga.[21]
Dengan pertama-tama
bertindak dan kemudian membuat refleksi atas tindakan iman tersebut, para praktisi
model praksis yakin bahwa kita dapat mengembangkan sebuah teologi yang
sungguh-sungguh relevan untuk satu konteks tertentu. Model teologi praksis
tidak bisa disusun dalam bentuk buku, esai, atau artikel tetapi lebih dalam
arti sebuah aktivitas, sebuah proses, sebuah cara hidup.
2.
Pengandaian kedua dalam model praksis ini
ialah gagasan tentang pewahyuan Allah.
Maksudnya bahwa model
praksis memandang pewahyuan sebagai kehadiran Allah di dalam sejarah, di dalam
peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari, dalam struktur-struktur sosial dan
ekonomi, dalam situasi-situasi penindasan, dan di dalam pengalaman kaum miskin
dan yang tertindas. Allah mewahyukan diri-Nya di dalam sejarah, namun bukan
hanya sampai di situ saja. Kehadiran Allah adalah suatu isyarat dan undangan,
yang mengajak manusia beriman untuk menemukan Allah dan bekerja sama dengan-Nya
dalam karya Allah yang menyembuhkan, mendamaikan, dan membebaskan. Kehadiran
dan undangan Allah untuk berkarya di samping-Nya disediakan bagi semua orang
tanpa pamdang bulu. Inilah alasannya mengapa pengandaian dari model praksis ini
menjadi penting sebab semua orang dipanggil untuk berteologi.
Pada
dasarnya, gerak dasar dari model praksis ini berbentuk lingkaran. Ada tiga
langkah yang dilakukan untuk berteologi melalui model praksis ini, yakni sebgai
berikut:[22]
a. Langkah pertama,
yakni aksi penuh pengabdian yang oleh para teolog praksis menandaskannya
sebagai syarat utama yang harus dilakukan.
b.
Langkah
kedua, yakni refleksi yang berupa analisis atas
tindakan-tindakan kita (pengalaman, kebudayaan, lokasi sosial serta perubahan
gerakan sosial) yang dalamnya kita bertindak; membaca ulang Kitab Suci dan
Tradisi.
c.
Langkah
ketiga, dari model praksis ialah sekali lagi mengadakan aksi
(tindakan), namun kali ini aksi yang lebih dimurinikan, lebih diakarkan dalam
Kitab Suci dan yang lebih diakarkan dalam realitas kontekstual.
Dari ketiga langkah
tersebut, tempat teologi berada terletak pada langkah kedua yakni tahap
refleksi dalam proses. Ketika kita beraksi, kita tahu, sebagaimana kita hanya
dapat tahu dari refleksi dan kontemplatif; dan ketika kita beraksi secara lebih
sadar, kita mengetahuinya secara lebih jelas lagi.
Contoh
Model Praksis
Sebagai contoh dari teologi model
praksis adalah gerakan pembebasan masyarakat Amerika Latin. Teologi pemebebasan
adalah suatu kemampuan melihat secara analitis, menimbang secara teologis dan
bertindak secara pastoral. Latar belakang munculnya teologi pemebebasan ini
dimotori oleh kenyataaan tertindas, ketidakadilan, kemiskinan, pemerasan, dll, yang dialami oleh masyarakat Amerika Latin.[23]
Revolusi sosial yang menyejarah sekaligus monumental di seluruh Amerika Latin
itu, lahir dari sebuah keprihatinan sosial – bukan sebuah usaha personal.
Metode dalam teologi pembebasan boleh kita ringkas demikian, “....refleksi atas
aksi dan aksi berdasarkan refleksi”. Refleksi yang terus-menerus antaraksi dan
refleksi ini yang kemudian disebut oleh Gutierrez sebagai “refleksi kritis atas
praksis”. Menurut Gutierrez, langkah pertama dalam teologi pembebasan adalah aksi,
yakni suatu komitmen dan tindakan nyata. Langkah kedua, menurutnya adalah
teologi, yakni refleksi atau teori sesudah aksi. Aksi terbenam, terbitlah
teologi atau refleksi, dalam roda melingkar (spiral).[24]
Perhatian teologi pembebasan tidak hanya sampai pada tataran intelektual
(refleksi atas refleksi atau interpretasi atas interpretasi), tetapi lebih dari
itu, yakni iman dalam segi perilaku. Teologi pembebasan berawal dari satu
komitmen, komitmen dalam iman kepada orang-orang yang terpinggirkan dan
tertindas – kaum anawim Allah – kaum miskin Amerika Latin, kaum perempuan yang
tertindas, terpinggirkan, dan lain – lain. Jadi, yang pertama-tama bukanlah
teologi, melainkan praktik pembebasan. Semboyan teologi pembebasan adalah
kembali beraksi.
DAFTAR PUSTAKA
Bevans,
B. Stephen, 2002, Model-Model Teologi
Kontekstual, Ledalero, Maumere.
Bevans,
B. Stephen, 2010, Teologi dalam
Perspektif Global, Ledalero, Maumere.
Lowy, Michael, 2013,Teologi Pembebasan, Insist Press, Yogyakarta.
Rosemary Radford Ruether, 1993, Sexim and God-Talk: Toward a Feminist Theology, Beacon Press,
Boston.
Gutieres, 1973, A
Theology of Liberation, Maryknoll, Orbis Book, N. Y.
J. J. Mueller, S.J., What Are They Saying About Theological Method?, Paulist Press, New
York,
Karl Marx, Theses
on Feuerbach, 1967, 11, dalam L.D. Easton and K. H. Guddat, eds., and
trans., Writings of the Young Marx on
Philosophy and Society (Garden City, N.Y.: Doubleday Anchor Books).
[1] Bevans, B. Stephen, Model-Model Teologi Kontekstual,
Ledalero, Maumere, 2002, hal. 1-2.
[2] Bevans, B. Stephen, Teologi dalam Perspektif Global,
Ledalero, Maumere, 2010, hal. 221.
[9] Bevans,
Stephen B., Teologi dalam Perspektif
Global, Sebuah Pengantar, Ledalero, Maumere, 2010, 245.
[12] J.
J. Mueller, S.J., What Are They Saying
About Theological Method?, Paulist Press, New York, 66.
[13] Karl
Marx, Theses on Feuerbach, 11, dalam
L.D. Easton and K. H. Guddat, eds., and trans., Writings of the Young Marx on Philosophy and Society (Garden City,
N.Y.: Doubleday Anchor Books, 1967), 402.
[15] Bevans,
Stephen B., Teologi dalam Perspektif
Global, Sebuah Pengantar, Ledalero, Maumere, 2010, 220.
[17] Bevans,
Stephen B., Teologi dalam Perspektif
Global, Sebuah Pengantar, Ledalero, Maumere, 2010, 245.
[18] Rosemary
Radford Ruether, Sexim and God-Talk:
Toward a Feminist Theology, Beacon Press, Boston, 1993, 19.
[21] Stephen
B. Bevans, Model-model Teologi
Kontekstual, Ledalero,2002,134 dikutip dalam Dialog Ekumenis Para Teolog
Dunia Ketiga, Dar es Salaam, Tanzania, 5-12 Agustus 1976.
[22]Stephan B. Bevans,
Model-model Teologi Kontekstual, 138-139.
[23] Lowy, Michael, Teologi Pembebasan, Insist Press,
Yogyakarta, 2013, 22.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar