Kamis, 26 November 2015

Teologi Model Praksis

METODE TEOLOGI MODEL PRAKSIS
Oleh Robertus Cristianto Naku – Mahasiswa Universita Sanata Dharma



Semacam Sebuah Pengantar
Kontekstualisasi teologi adalah suatu upaya untuk memahami iman Kristen ditinjau dari suatu konteks tertentu. Dengan kata lain, konteks atau situasilah yang mengharuskan kita berteologi – sebuah imperatif teologis. Dewasa ini, kita boleh mengatakan bahwa teologi memiliki tiga sumber, yakni Kitab Suci, tradisi dan pengalaman manusia. Pada pemahaman awal mengenai teologi sebagai refleksi iman, kita hanya mengenal dua sumber utama berteologi (loci theologici), yakni Kitab Suci dan tradisi. Namun, pada pemahaman yang lebih progresif, kita juga mengenal istilah teologi kontekstual yang menelurkan ciri baru, yakni refleksi pengalaman manusia dikolaborasi dengan sumber utama – Kitab Suci dan tradisi. Pengintegrasian tiga loci inilah yang membuat teologi menjadi kontekstual. Teologi yang berwajah kontekstual menyadari bahwa kultur, sejarah dan model berpikir temporer, harus dirangkul bersama dengan Kitab Suci dan tradisi.[1]
Sejarah mencatat bahwa berteologi secara kontekstual telah membawa banyak perubahan sekaligus pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Suatu revolusi sosial lahir daricara berteologi seperti ini, contohnya teologi pembebasan di Amerika Latin. Teologi kontekstual pada kenyataannya menawarkan berbagai model atau cara dalam berteologi. Setiap model teologi menyajikan suatu cara berteologi yang khas, mengindahkan konteks tertentu dan pengandaian-pengandaian yang juga khas. Pada kesempatan ini, kelompok akan mengurai sebuah teologi model praksis – yaitu, model berteologi yang bergerak melingkar, yakni dari aksi menuju refleksi, kembali ke aksi, dan seterusnya (ada unsur repetition). Model praksis memberi ruang bagi pengungkapan pengalaman personal dan komunal.[2]
Terminologi
            Kata praksis sering digunakan sebagai sebuah kata untuk menggantikan kata ‘praktik’ atau ‘aksi’. Memang hubungan kata-kata tersebut mempunyai makna yang sama, tapi penggunaannya sering tidak tepat dan hanya untuk memunculkan kesan pandai. Praksis adalah sebuah term teknis yang memiliki akar-akarnya dalam Marxisme, dalam mazhab Frankfurt (misalnya J. Habermas, A. Jorkheimer, T. Adorno) dan dalam filsafat pendidikan Paolo Freire[3].
            Menurut Jon Sobrino, seorang teolog yang berkarya di El Salvador, untuk memahami gagasan mengenai praksis, maka perlulah memahami terlebih dahulu hakikat dua ‘momen’ modernitas. Momen pertama modernitas ditandai oleh pemikiran Descartes dan Kant. Mereka memperkenalkan gagasan tentang rasionalitas dan tanggung jawab subyektif. Dari gagasan ini muncul sebuah tanggapan, bahwa “tidak ada satu pun yang bisa disebut iman yang sejati atau moralitas yang benar kalau bukan menjadi milik diri kita sendiri, dan bahwa, sebagai konsekuensinya, otoritas dari luar pada prinsipnya tidak memiliki dasar yang kokoh dan penilaian individual bukan melulu sebuah hak melainkan kewajiban[4].”
            Tentu saja hal ini berpengaruh dalam pola pikir Gereja. Gereja tidak akan bisa mempertahankan kredibilitasnya jika hanya mengandalkan cara klasik, yaitu mengutip Kitab Suci atau Magisterium. Oleh karena itu Gereja dibantu oleh dua langkah untuk mempertahankan kredibilitasnya di tengah dunia. Pertama, Historis Kritis, menemukan apa yang sungguh Gereja percayai, kemudian alasannya, dan mencari alasan untuk mempertahankan dalam realita zaman (teologi positif). Kedua, Refleksi Rasional, mengusahakan untuk menemukan makna yang mendalam dari apa yang mesti dipercayai (teologi spekulatif).
            Moment kedua modernitas ditandai oleh Karl Marx. Ia menemukan bahwa rasionalitas atau pengetahuan intelektual tidaklah cukup untuk membentuk pengetahuan yang sejati. Kritiknya yang paling terkenal adalah ditujukan kepada Feurbach yang berbunyi, “Para filsuf hanya menafsir dunia dalam rupa-rupa cara, padahal persoalannya ialah mengubah dunia.” Dengan demikian, Teologi adalah suatu cara untuk merumuskan iman seseorang yang mengalir keluar dari komitmen-komitmennya sebagai seorang Kristen kepada satu cara bertindak tertentu serta menetapkan agenda bagi suatu rencana aksi di masa depan yang lebih bijaksana dan lebih sarat pengabdian[5].
            Model praksis dalam hubungannya dengan teologi kontekstual akan memunculkan sebuah paham. Paham tersebut adalah teologi bukan melulu berbicara mengenai teori-teori yang relevan bagi kehidupan Kristiani, tapi lebih pada komitmen tindakan Kristiani. Hal ini selaras dengan pemikiran Paolo Freire, yakni praksis merupakan “aksi dan refleksi”[6]. Para praktisi model praksis meyakini bahwa model ini mampu menilai dan memaknai pengalaman masa lalu (Kitab Suci dan tradisi) dan bertindak pada realita masa kini (pengalaman manusia, kebudayaan, lokasi sosial dan perubahan sosial).
            Model Praksis ini sering disamakan dengan model pembebasan. Hal ini diungkapkan oleh teolog politik di Eropa (J. Moltmann dan J. B Metz), dan para teolog pembebasan di Amerika Latin. Ketika mereka membaca dan mempelajari Kitab Suci dan tradisi Kristen sebagai dasar iman, mereka menemukan akar konteksnya. Kitab Suci merupakan sebuah hasil dari perjuangan pembebasan manusia, pewartaan Yesus bukanlah sebuah doktrin melainkan aksi nyata yang mendobrak segala kemapanan struktur, bahwa dosa bukan dilawan dengan kompromi tapi lebih pada penataan kembali kehidupan seseorang secara radikal. Perubahan sosial mulai dilihat sebagai sumber utama teologi.
            Menurut Stephen Bevans, meski kedua model ini tampak saling berkaitan, tapi ada baiknya jika tidak menyamakan kedua model ini. Ada beberapa perbedaan yang mampu dijadikan alasan untuk tidak menyamakan kedua model ini. Pertama, Teologi tidak mesti mengangkat tema-tema pembebasan. Kedua, kekhasan model praksis tidak terletak pada tema tertentu tapi pada suatu metode tertentu.


Tinjauan Atas Model Praksis

Ketika kita berbicara tentang model praksis itu berarti  menyangkut teologi kontekstual, maka kita berbicara tentang sebuah model, yang wawasan utamanya ialah bahwa teologi itu dilakukan bukan melulu dengan menyediakan ungkapan – ungkapan yang relevan bagi iman kristen, melainkan terutama oleh komitmen kepada tindakan Kristen; Model praksis menggunakan sebuah metode yang dalam artinya yang mendasar dipahami sebagai kesatuan antara pengetahuan sebagai aktivitas dan pengetahuan sebagai isi.[7] Kekuatan utama model praksis adalah metode serta epistemologi yang mendasarinya.[8] Metode yang digunakan oleh model praksis adalah kesatuan antara pengetahuan sebagai aktivitas dan pengetahuan sebagai isi. Metode teologi pembebasan sebagai suatu yang khas namun terkait dengan gerak ganda yang lebih tradisional berupa penyelidikan historis dan refleksi teologis. Semua teologi pembebasan – Amerika Latin, feminis, hitam misalnya dilakukan seturut metode teologi kontekstual ketiga ini.[9] Salah satu segi paling positif dari model melakukan teologi kontekstual seperti ini adalah dasar epistemologinya yang kuat. Hal terpenting bagi suatu pengetahuan yang paling utuh bukan melulu pengetahuan intelektual tentang kebenaran, melainkan satu pengetahuan yang didasarkan pada aksi dan refleksi atas aksi itu (praksis); faktor positif lain yang mendukungnya sebagai salah satu model ialah tanggapan dari para teolog dan umat sederhana terhadap cara melakukan teologi ini. Inti model ini terdapat pada Frasa Jon Sobrino “ Mengenal Kristus berarti mengikuti Dia.”[10] Teologi sebagai refleksi kritis pada praxis historis merupakan sebuah teologi pembebasan, sebuah teologi yang mentransformasikan sejarah umat Allah dan juga oleh karena itu, menjadi bagian dari umat Allah yang berkumpul dalam Gereja (ecclesia) yang secara terbuka mengakui Kristus. Ini merupakan teologi yang tidak hanya berhenti pada refleksi tentang dunia, tetapi lebih daripada itu mencoba mengambil bagian dalam proses yang melaluinya dunia ditransformasi. [11]Membawa refleksi atas suatu situasi khusus ke dalam tindakan itulah praksis yang dimaksudkan. Para teolog dari model ini cenderung memulai dari bawah ke atas (bottom up). Praksis menggabungkan praktik dan teori bersama – sama dan memulai dari tindakan.[12]
Model ini dalam versi teologi pembebasan terkadang terlalu dipengaruhi oleh ideologi pemikiran Marxis. Baik jika kita mencoba melihat tulisan Marx: “Para filsuf hanya menafsir dunia dalam beragam cara; persoalannya adalah mengubahnya.”[13] Perspektif Marxis menyangkut primat praksis merupakan suatu cara mengenal yang jauh lebih utuh dan menyeluruh daripada sekadar persetujuan intelektual. Perspektif praksis semacam ini tidak terbatas sebagai milik kaum Marxis dapat dibuktikan oleh kenyataan bahwa perspektif serupa juga oleh pemikir – pemikir yang dalam banyak hal sangat berbeda dari Marx.[14] Para pemikir itu antara lain Max Scheler, Karl Mannheim, Maurice Blondel, dan Bernard Lonergan. Intipati para pemikir ini adalah pengetahuan itu sendiri tidak cukup untuk suatu pemahaman yang utuh tentang sesuatu. Tujuan pengetahuan bukan sekadar pengetahuan intelektual atas dunia, tetapi harus sampai pada transformasi pribadi dan dunia.[15] Oleh karena hakikatnya, sebagai salah satu metode teologi, model praksis dikawinkan dengan sebuah konteks khusus. Ia tidak pernah menjadi sebuah teologi yang “kakinya tidak berpijak di atas bumi”. Sekalipun sebagian besar tulisan tentang model ini dibuat oleh orang  - orang yang mengangkat ihwal bahwa pembebasan sebagai fokusnya yang pertama dan terutama, akan tetapi model ini memiliki aplikasi – aplikasi bagi kalangan yang lebih luas.[16]
Kita mempunyai dua alasan untuk berbicara mengenai model praksis.[17] Alasan pertama adalah wawasan kunci model ini adalah sentralitas praksis, yakni perpaduan antara praktik atau aksi dan refleksi atas aksi dalam sebuah spiral yang berkelanjutan. Alasan kedua adalah metode ini dapat juga secara masuk akal dilakukan dalam situasi di mana penindasan dan marginalisasi tidak menjadi konteks di dalamnya orang – orang berteologi. Banyak metode refleksi teologis yang menggunakan model ini. Sebagai salah satu contoh James dan Evelyn Whitehead, yang menyajikan tiga langkah refleksi teologis yang berawal dari praktik, bergerak ke dalam satu refleksi cermat atas dan analisis terhadap pengalaman ini, terhadap budaya di mana pengalaman itu berlangsung serta tradisi Kristen yang memberinya kedalaman teologis, dan kemudia bergerak lagi ke arah sebuah refleksi tentang implikasi – implikasi pastoral yang mungkin dari pengalaman tersebut dan bagaimana orang bisa bertindak secara lebih efektif dan setia di masa depan.[18] Teologi pembebasan juga menggunakan metode yang mencakup  “ihwal melihat secara analitis, menimbang secara teologis dan bertindak secara pastoral atau politik, tiga tahap dalam satu komitmen seseorang dalam iman. Sebuah teologi yang dalam cara tertentu tidak berakar dalam praksis, dewasa ini tidak dapat dipandang sebagai teologi yang memadai.
Berteologi sebagai refleksi kritis atas praksis, membuat teologi mampu menjadi sebuah ungkapan yang ampuh mengenai agama Kristen. Dengan secara tetap mengadakan refleksi atas kegiatan kita sehari – hari dalam bingkai Kitab Suci dan tradisi (dan yang sebaliknya), agama Kristen bisa membawa banyak hal untuk dikenakan pada kehidupan sehari – hari, dan sebaliknya kehidupan sehari – hari bisa membantu mempertajam pengungkapan iman Kristen.[19] Model praksis ini memenuhi autentisitas sebuah pengungkapan teologis karena memiliki kekuatan untuk menantang dan memperkaya pengungkapan – pengungkapan khusus lainnya. Teologi pembebasan misalnya, yang merupakan pelaku utama walaupun bukan satu – satunya dari model praksis dapat membuktikan keabsahan model ini. Model ini merupakan perkembangan yang paling penting dalam teologi  dan telah memberi ilham serta menantang teolog lain seraya membantu mereka membahasakan keprihatinan – keprihatinan mereka secara lebih jelas. Selain itu, model ini juga memiliki pemahaman akan pewahyuan sangat segar lagi menarik dan memiliki akar – akar yang kokoh dalam tradisi teologi.
Model praksis juga mendapat krtitik dalam bentuknya yang konkret, yakni teologi pembebasan. Beberapa kalangan merasa tidak nyaman dengan penggunaan Marxisme oleh teologi pembebasan. Ada yang memperlihatkan ciri selektif bahkan naif  dari cara teologi ini dalam membaca Kitab Suci, sedangkan yang lain lagi mengkritik para teolog pembebasan yang terpusat pada hal – hal negatif dalam masyarakat, serta ketidakmampuan mereka untuk melihat perwujudan – perwujudan rahmat secara tidak langsung di tengah masyarakat atau pengungkapan yang berkaitan dengan religiusitas kemasyarakatan.
Model praksis memberi ruang yang luas bagi pengungkapan pengalaman personal dan komunal, pengungkapan budaya atas iman, dan pengungkapan iman dari perspektif lokasi sosial. Pada saat yang sama ia menyediakan pemahaman – pemahaman baru dan menarik tentang Kitab Suci dan kesaksian – kesaksian teologis yang lebih tua. Ia juga mengangkat situasi konkret secara lebih bersungguh – sungguh. Model ini menerapkan teologi bukan sebagai suatu produk yang bisa diterapkan dan berlaku untuk segala waktu dan tempat serta dianggap sudah tuntas paripurna, melainkan sebagai suatu pemahaman tentang pergumulan dengan kehadiran Allah di dalam situasi – situasi yang sangat khusus. Model praksis menawarkan pembenahan kepada suatu teologi yang terlalu umum dan mau berlagak secara universal.[20]

Pengandaian-pengandaian Model Praksis
            Dalam pengandaian-pengandaian model praksis ini, ada dua jenis pengandaian yang penting, yakni:
1.      Pengandaian bahwa tingkat mengetahui yang paling tinggi ialah melakukan secara benar dan bertanggungjawab. Maksudnya, kalau cara berteologi yang lebih tradisional, teologi diterangkan sebagai suatu proses “iman yang mencari pemahaman”, maka model praksis menegaskan bahwa teologi merupakan sebuah proses “iman yang mencari tindakan yang benar”.
Salah satu contoh ialah pada tahun 1976, sekelompok teolog Dunia Ketiga berkumpul di Dar es Salaam, Tanzania guna berbicara tentang suatu jenis teologi baru yang muncul di negeri-negeri mereka. Dalam pernyataan akhirnya, mereka menuliskan kata-kata yang keras menghentak, sebagai berikut: “kami menolak sebagai tidak relevan jenis teologi akademis yang terpisah dari tindakan. Kami siap mengadakan sebuah perubahan radikal dalam epistemologi yang menjadikan komitmen sebagai tindakan pertama dalam teologi, dan terlibat dalam refleksi kritis atas praksis kenyataan Dunia Ketiga.[21]

Dengan pertama-tama bertindak dan kemudian membuat refleksi atas tindakan iman tersebut, para praktisi model praksis yakin bahwa kita dapat mengembangkan sebuah teologi yang sungguh-sungguh relevan untuk satu konteks tertentu. Model teologi praksis tidak bisa disusun dalam bentuk buku, esai, atau artikel tetapi lebih dalam arti sebuah aktivitas, sebuah proses, sebuah cara hidup.


2.      Pengandaian kedua dalam model praksis ini ialah gagasan tentang pewahyuan Allah.
Maksudnya bahwa model praksis memandang pewahyuan sebagai kehadiran Allah di dalam sejarah, di dalam peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari, dalam struktur-struktur sosial dan ekonomi, dalam situasi-situasi penindasan, dan di dalam pengalaman kaum miskin dan yang tertindas. Allah mewahyukan diri-Nya di dalam sejarah, namun bukan hanya sampai di situ saja. Kehadiran Allah adalah suatu isyarat dan undangan, yang mengajak manusia beriman untuk menemukan Allah dan bekerja sama dengan-Nya dalam karya Allah yang menyembuhkan, mendamaikan, dan membebaskan. Kehadiran dan undangan Allah untuk berkarya di samping-Nya disediakan bagi semua orang tanpa pamdang bulu. Inilah alasannya mengapa pengandaian dari model praksis ini menjadi penting sebab semua orang dipanggil untuk berteologi.

            Pada dasarnya, gerak dasar dari model praksis ini berbentuk lingkaran. Ada tiga langkah yang dilakukan untuk berteologi melalui model praksis ini, yakni sebgai berikut:[22]
a.       Langkah pertama, yakni aksi penuh pengabdian yang oleh para teolog praksis menandaskannya sebagai syarat utama yang harus dilakukan.
b.      Langkah kedua, yakni refleksi yang berupa analisis atas tindakan-tindakan kita (pengalaman, kebudayaan, lokasi sosial serta perubahan gerakan sosial) yang dalamnya kita bertindak; membaca ulang Kitab Suci dan Tradisi.
c.       Langkah ketiga, dari model praksis ialah sekali lagi mengadakan aksi (tindakan), namun kali ini aksi yang lebih dimurinikan, lebih diakarkan dalam Kitab Suci dan yang lebih diakarkan dalam realitas kontekstual.

Dari ketiga langkah tersebut, tempat teologi berada terletak pada langkah kedua yakni tahap refleksi dalam proses. Ketika kita beraksi, kita tahu, sebagaimana kita hanya dapat tahu dari refleksi dan kontemplatif; dan ketika kita beraksi secara lebih sadar, kita mengetahuinya secara lebih jelas lagi.

Contoh Model Praksis
            Sebagai contoh dari teologi model praksis adalah gerakan pembebasan masyarakat Amerika Latin. Teologi pemebebasan adalah suatu kemampuan melihat secara analitis, menimbang secara teologis dan bertindak secara pastoral. Latar belakang munculnya teologi pemebebasan ini dimotori oleh kenyataaan tertindas, ketidakadilan, kemiskinan, pemerasan, dll,  yang dialami oleh masyarakat Amerika Latin.[23] Revolusi sosial yang menyejarah sekaligus monumental di seluruh Amerika Latin itu, lahir dari sebuah keprihatinan sosial – bukan sebuah usaha personal. Metode dalam teologi pembebasan boleh kita ringkas demikian, “....refleksi atas aksi dan aksi berdasarkan refleksi”. Refleksi yang terus-menerus antaraksi dan refleksi ini yang kemudian disebut oleh Gutierrez sebagai “refleksi kritis atas praksis”. Menurut Gutierrez, langkah pertama dalam teologi pembebasan adalah aksi, yakni suatu komitmen dan tindakan nyata. Langkah kedua, menurutnya adalah teologi, yakni refleksi atau teori sesudah aksi. Aksi terbenam, terbitlah teologi atau refleksi, dalam roda melingkar (spiral).[24] Perhatian teologi pembebasan tidak hanya sampai pada tataran intelektual (refleksi atas refleksi atau interpretasi atas interpretasi), tetapi lebih dari itu, yakni iman dalam segi perilaku. Teologi pembebasan berawal dari satu komitmen, komitmen dalam iman kepada orang-orang yang terpinggirkan dan tertindas – kaum anawim Allah – kaum miskin Amerika Latin, kaum perempuan yang tertindas, terpinggirkan, dan lain – lain. Jadi, yang pertama-tama bukanlah teologi, melainkan praktik pembebasan. Semboyan teologi pembebasan adalah kembali beraksi.




DAFTAR PUSTAKA

Bevans, B. Stephen, 2002, Model-Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere.
Bevans, B. Stephen, 2010, Teologi dalam Perspektif Global, Ledalero, Maumere.
Lowy, Michael, 2013,Teologi Pembebasan, Insist Press, Yogyakarta.
Rosemary Radford Ruether, 1993, Sexim and God-Talk: Toward a Feminist Theology, Beacon Press, Boston.
Gutieres, 1973, A Theology of Liberation, Maryknoll, Orbis Book, N. Y.
J. J. Mueller, S.J., What Are They Saying About Theological Method?, Paulist Press, New York,
Karl Marx, Theses on Feuerbach, 1967, 11, dalam L.D. Easton and K. H. Guddat, eds., and trans., Writings of the Young Marx on Philosophy and Society (Garden City, N.Y.: Doubleday Anchor Books).








[1] Bevans, B. Stephen, Model-Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002, hal. 1-2.
[2] Bevans, B. Stephen, Teologi dalam Perspektif Global, Ledalero, Maumere, 2010, hal. 221.
[3] Bevans, B. Stephen, Model-Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002,  hal. 129.
[4] Ibid, hal. 130.
[5] Ibid, hal. 131.
[6] Ibid., 132
[7]Ibid., 131.
[8] Ibid.,140.
[9] Bevans, Stephen B., Teologi dalam Perspektif Global, Sebuah Pengantar, Ledalero, Maumere, 2010, 245.
[10] Ibid., 247.
[11] Gustavo Gutieres, A Theology of Liberation, Maryknoll, N. Y.: Orbis Books, 1973, 15.
[12] J. J. Mueller, S.J., What Are They Saying About Theological Method?, Paulist Press, New York, 66.
[13] Karl Marx, Theses on Feuerbach, 11, dalam L.D. Easton and K. H. Guddat, eds., and trans., Writings of the Young Marx on Philosophy and Society (Garden City, N.Y.: Doubleday Anchor Books, 1967), 402.
[14] Bevans, Stephen B., Model – Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002, 140.
[15] Bevans, Stephen B., Teologi dalam Perspektif Global, Sebuah Pengantar, Ledalero, Maumere, 2010, 220.
[16] Bevans, Stephen B., Model – Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002, 141.
[17] Bevans, Stephen B., Teologi dalam Perspektif Global, Sebuah Pengantar, Ledalero, Maumere, 2010, 245.
[18] Rosemary Radford Ruether, Sexim and God-Talk: Toward a Feminist Theology, Beacon Press, Boston, 1993, 19.
[19] Bevans, Stephen B., Model – Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002, 142.
[20] Ibid., 142-145.
[21] Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, Ledalero,2002,134 dikutip dalam Dialog Ekumenis Para Teolog Dunia Ketiga, Dar es Salaam, Tanzania, 5-12 Agustus 1976.
[22]Stephan B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, 138-139.
[23] Lowy, Michael, Teologi Pembebasan, Insist Press, Yogyakarta, 2013, 22.
[24]Bevans, B. Stephen, Teologi dalam Perspektif Global, 222.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar