Kamis, 26 November 2015

Karakter Petrus dalam Injil Matius

KARAKTER PETRUS DALAM MATIUS
Oleh Cristianto Naku

            Karakter Petrus dalam setiap Injil diilustrasikan secara distingsi. Dalam Matius, karakter Petrus diteropong melalui beberapa point of view, salah satunya adalah pendekatan tokoh – dari sudut pandang narator, tokoh sendiri (Petrus) dan tokoh lain (misalnya Yesus). Penelusuran karakter tokoh digali dari beberapa unsur, yakni kata-kata para tokoh dan hal-hal yang mereka lakukan. Petrus dalam Mat 26,26-75 adalah murid yang berapi-api (Mat 26,33-35), cerdas (“Semua murid yang lain pun berkata demikian juga”, Mat 26,35), mendapat kepercayaan dari Yesus (Mat 26,37) dan penakut (Mat 26,58). Umumnya  karakter Petrus dalam Matius 26,26-75, ada dalam dua ekstrim, yakni Petrus yang memiliki iman yang teguh (bdk. “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak”, Mat 26,33 atau “Sekalipun aku harus mati...., aku takkan menyangkal Engkau” Mat 26,35) dan Petrus yang mengalami penurunan stamina atau kualitas iman (bdk. “Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah....Aku tidak kenal orang itu”, Mat 26,74). Karakter Petrus dalam hal ini mengalami penurunan drastis, dari yang semulanya – menampilkan diri sebagai orang over percaya diri (Mat 26,33-35) – menuju seorang penyangkal bahkan mengutuk Yesus (Mat 26,70-75).
            Kualitas iman Petrus ada dalam taraf labil (pandangan umum kelompok) – tidak melulu di puncak, akan tetapi mengalami penurunan – bahkan sampai pada tahap yang ekstrim, mengutuk (26,75). Gambaran kualitas iman Petrus adalah ilustrasi iman kita sebagai Gereja yang sedang berziarah di dunia – mengalami jatuh-bangun dalam mengikuti Yesus. Semula kita berapi-api (bdk. kata-kata Petrus, “Sekalipun aku harus mati bersama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” Mat 26,35) dan di tengah perjalanan atau ketika mendapat tantangan kita memilih lari (bdk. “Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri”, Mat 26,56 – bahkan berani menyangkal dan mengutuk seperti Petrus – Mat 26,71-75).
            Penurunan kualitas iman Petrus, nampak dalam tiga tingkatan. Pertama, tantangan diwakili oleh peran wanita (Mat 26,69), kedua seorang hamba lain (Mat 26,71) dan ketiga orang banyak (Mat 26,73). Grafik tantangan ini semakin lama semakin mencekik leher. Keterwakilan perempuan dalam tantangan yang pertama dianggap mudah, karena perempuan dalam tradisi Yahudi tidak dihitung. Akan tetapi, cobaan mulai meningkat ditandai dengan hadirnya sosok hamba lain dan pada epilog tantangan muncul orang banyak. Petrus sendiri harus melewati tiga tingkatan cobaan ini dan akhirnya memilih menyangkal dan mengutuk – kontras dengan Yesus (bdk. Mat 4,1-11 – semakin diuji semakin kokoh). Dalam hal ini, Petrus adalah penakut, kurang bertanggung jawab dengan pilihannya dan yang paling penting adalah aspek ketidaktaatan Petrus terhadap komitmennya sendiri (bdk. Mat 26,33 – Aku sekali-kali tidak akan mengalami kegoncangan iman) – Petrus tidak menepati janji (Mat 26,35, “Sekalipun aku harus mati, aku takkan menyangkal Engkau”).
            Dari keseluruhan data yang dirangkum dari teks Mat 26,26-75, diramu sebuah kesimpulan mengenai karakter Petrus. Petrus adalah seorang murid yang memiliki kualitas iman yang labil – dalam arti bahwa ia tidak jatuh hanya pada satu ekstrim saja, yakni tokoh yang berapi-api (Mat 26,33-35), juga tidak pada ekstrim penakut (Mat 26,56-58) atau penyangkal (Mat 26,69-75) juga (bdk. Mat 16,23, Petrus dicap iblis oleh Yesus). Ulasan akhir perikop ini – khususnya pada (Mat 26,75 – “Lalu ia (Petrus) pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya”) – merupakan sebuah antiklimaks yang mengantar kita pada pemahaman ulang akan kualitas iman tokoh (Petrus). Petrus memiliki iman yang labil; tidak hanya menyangkal dan bahkan mengutuk (Mat 26,69-75), tetapi ada upaya penyesalan (Mat 26,75) – prospek transformasi diri ke depan. Bisa juga dikatakan bahwa kisah karakter Petrus ini menggambarkan kualitas iman “suatu ketika” dari seseorang. Hal lain hendak disampaikan juga adalah bagaimana kata-kata dan perbuatan itu disikronkan. Komitmen yang diucapkan dengan kata-kata harus direalisasikan dalam perbuatan.        

                                                                                                                                   

Teologi Model Praksis

METODE TEOLOGI MODEL PRAKSIS
Oleh Robertus Cristianto Naku – Mahasiswa Universita Sanata Dharma



Semacam Sebuah Pengantar
Kontekstualisasi teologi adalah suatu upaya untuk memahami iman Kristen ditinjau dari suatu konteks tertentu. Dengan kata lain, konteks atau situasilah yang mengharuskan kita berteologi – sebuah imperatif teologis. Dewasa ini, kita boleh mengatakan bahwa teologi memiliki tiga sumber, yakni Kitab Suci, tradisi dan pengalaman manusia. Pada pemahaman awal mengenai teologi sebagai refleksi iman, kita hanya mengenal dua sumber utama berteologi (loci theologici), yakni Kitab Suci dan tradisi. Namun, pada pemahaman yang lebih progresif, kita juga mengenal istilah teologi kontekstual yang menelurkan ciri baru, yakni refleksi pengalaman manusia dikolaborasi dengan sumber utama – Kitab Suci dan tradisi. Pengintegrasian tiga loci inilah yang membuat teologi menjadi kontekstual. Teologi yang berwajah kontekstual menyadari bahwa kultur, sejarah dan model berpikir temporer, harus dirangkul bersama dengan Kitab Suci dan tradisi.[1]
Sejarah mencatat bahwa berteologi secara kontekstual telah membawa banyak perubahan sekaligus pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Suatu revolusi sosial lahir daricara berteologi seperti ini, contohnya teologi pembebasan di Amerika Latin. Teologi kontekstual pada kenyataannya menawarkan berbagai model atau cara dalam berteologi. Setiap model teologi menyajikan suatu cara berteologi yang khas, mengindahkan konteks tertentu dan pengandaian-pengandaian yang juga khas. Pada kesempatan ini, kelompok akan mengurai sebuah teologi model praksis – yaitu, model berteologi yang bergerak melingkar, yakni dari aksi menuju refleksi, kembali ke aksi, dan seterusnya (ada unsur repetition). Model praksis memberi ruang bagi pengungkapan pengalaman personal dan komunal.[2]
Terminologi
            Kata praksis sering digunakan sebagai sebuah kata untuk menggantikan kata ‘praktik’ atau ‘aksi’. Memang hubungan kata-kata tersebut mempunyai makna yang sama, tapi penggunaannya sering tidak tepat dan hanya untuk memunculkan kesan pandai. Praksis adalah sebuah term teknis yang memiliki akar-akarnya dalam Marxisme, dalam mazhab Frankfurt (misalnya J. Habermas, A. Jorkheimer, T. Adorno) dan dalam filsafat pendidikan Paolo Freire[3].
            Menurut Jon Sobrino, seorang teolog yang berkarya di El Salvador, untuk memahami gagasan mengenai praksis, maka perlulah memahami terlebih dahulu hakikat dua ‘momen’ modernitas. Momen pertama modernitas ditandai oleh pemikiran Descartes dan Kant. Mereka memperkenalkan gagasan tentang rasionalitas dan tanggung jawab subyektif. Dari gagasan ini muncul sebuah tanggapan, bahwa “tidak ada satu pun yang bisa disebut iman yang sejati atau moralitas yang benar kalau bukan menjadi milik diri kita sendiri, dan bahwa, sebagai konsekuensinya, otoritas dari luar pada prinsipnya tidak memiliki dasar yang kokoh dan penilaian individual bukan melulu sebuah hak melainkan kewajiban[4].”
            Tentu saja hal ini berpengaruh dalam pola pikir Gereja. Gereja tidak akan bisa mempertahankan kredibilitasnya jika hanya mengandalkan cara klasik, yaitu mengutip Kitab Suci atau Magisterium. Oleh karena itu Gereja dibantu oleh dua langkah untuk mempertahankan kredibilitasnya di tengah dunia. Pertama, Historis Kritis, menemukan apa yang sungguh Gereja percayai, kemudian alasannya, dan mencari alasan untuk mempertahankan dalam realita zaman (teologi positif). Kedua, Refleksi Rasional, mengusahakan untuk menemukan makna yang mendalam dari apa yang mesti dipercayai (teologi spekulatif).
            Moment kedua modernitas ditandai oleh Karl Marx. Ia menemukan bahwa rasionalitas atau pengetahuan intelektual tidaklah cukup untuk membentuk pengetahuan yang sejati. Kritiknya yang paling terkenal adalah ditujukan kepada Feurbach yang berbunyi, “Para filsuf hanya menafsir dunia dalam rupa-rupa cara, padahal persoalannya ialah mengubah dunia.” Dengan demikian, Teologi adalah suatu cara untuk merumuskan iman seseorang yang mengalir keluar dari komitmen-komitmennya sebagai seorang Kristen kepada satu cara bertindak tertentu serta menetapkan agenda bagi suatu rencana aksi di masa depan yang lebih bijaksana dan lebih sarat pengabdian[5].
            Model praksis dalam hubungannya dengan teologi kontekstual akan memunculkan sebuah paham. Paham tersebut adalah teologi bukan melulu berbicara mengenai teori-teori yang relevan bagi kehidupan Kristiani, tapi lebih pada komitmen tindakan Kristiani. Hal ini selaras dengan pemikiran Paolo Freire, yakni praksis merupakan “aksi dan refleksi”[6]. Para praktisi model praksis meyakini bahwa model ini mampu menilai dan memaknai pengalaman masa lalu (Kitab Suci dan tradisi) dan bertindak pada realita masa kini (pengalaman manusia, kebudayaan, lokasi sosial dan perubahan sosial).
            Model Praksis ini sering disamakan dengan model pembebasan. Hal ini diungkapkan oleh teolog politik di Eropa (J. Moltmann dan J. B Metz), dan para teolog pembebasan di Amerika Latin. Ketika mereka membaca dan mempelajari Kitab Suci dan tradisi Kristen sebagai dasar iman, mereka menemukan akar konteksnya. Kitab Suci merupakan sebuah hasil dari perjuangan pembebasan manusia, pewartaan Yesus bukanlah sebuah doktrin melainkan aksi nyata yang mendobrak segala kemapanan struktur, bahwa dosa bukan dilawan dengan kompromi tapi lebih pada penataan kembali kehidupan seseorang secara radikal. Perubahan sosial mulai dilihat sebagai sumber utama teologi.
            Menurut Stephen Bevans, meski kedua model ini tampak saling berkaitan, tapi ada baiknya jika tidak menyamakan kedua model ini. Ada beberapa perbedaan yang mampu dijadikan alasan untuk tidak menyamakan kedua model ini. Pertama, Teologi tidak mesti mengangkat tema-tema pembebasan. Kedua, kekhasan model praksis tidak terletak pada tema tertentu tapi pada suatu metode tertentu.


Tinjauan Atas Model Praksis

Ketika kita berbicara tentang model praksis itu berarti  menyangkut teologi kontekstual, maka kita berbicara tentang sebuah model, yang wawasan utamanya ialah bahwa teologi itu dilakukan bukan melulu dengan menyediakan ungkapan – ungkapan yang relevan bagi iman kristen, melainkan terutama oleh komitmen kepada tindakan Kristen; Model praksis menggunakan sebuah metode yang dalam artinya yang mendasar dipahami sebagai kesatuan antara pengetahuan sebagai aktivitas dan pengetahuan sebagai isi.[7] Kekuatan utama model praksis adalah metode serta epistemologi yang mendasarinya.[8] Metode yang digunakan oleh model praksis adalah kesatuan antara pengetahuan sebagai aktivitas dan pengetahuan sebagai isi. Metode teologi pembebasan sebagai suatu yang khas namun terkait dengan gerak ganda yang lebih tradisional berupa penyelidikan historis dan refleksi teologis. Semua teologi pembebasan – Amerika Latin, feminis, hitam misalnya dilakukan seturut metode teologi kontekstual ketiga ini.[9] Salah satu segi paling positif dari model melakukan teologi kontekstual seperti ini adalah dasar epistemologinya yang kuat. Hal terpenting bagi suatu pengetahuan yang paling utuh bukan melulu pengetahuan intelektual tentang kebenaran, melainkan satu pengetahuan yang didasarkan pada aksi dan refleksi atas aksi itu (praksis); faktor positif lain yang mendukungnya sebagai salah satu model ialah tanggapan dari para teolog dan umat sederhana terhadap cara melakukan teologi ini. Inti model ini terdapat pada Frasa Jon Sobrino “ Mengenal Kristus berarti mengikuti Dia.”[10] Teologi sebagai refleksi kritis pada praxis historis merupakan sebuah teologi pembebasan, sebuah teologi yang mentransformasikan sejarah umat Allah dan juga oleh karena itu, menjadi bagian dari umat Allah yang berkumpul dalam Gereja (ecclesia) yang secara terbuka mengakui Kristus. Ini merupakan teologi yang tidak hanya berhenti pada refleksi tentang dunia, tetapi lebih daripada itu mencoba mengambil bagian dalam proses yang melaluinya dunia ditransformasi. [11]Membawa refleksi atas suatu situasi khusus ke dalam tindakan itulah praksis yang dimaksudkan. Para teolog dari model ini cenderung memulai dari bawah ke atas (bottom up). Praksis menggabungkan praktik dan teori bersama – sama dan memulai dari tindakan.[12]
Model ini dalam versi teologi pembebasan terkadang terlalu dipengaruhi oleh ideologi pemikiran Marxis. Baik jika kita mencoba melihat tulisan Marx: “Para filsuf hanya menafsir dunia dalam beragam cara; persoalannya adalah mengubahnya.”[13] Perspektif Marxis menyangkut primat praksis merupakan suatu cara mengenal yang jauh lebih utuh dan menyeluruh daripada sekadar persetujuan intelektual. Perspektif praksis semacam ini tidak terbatas sebagai milik kaum Marxis dapat dibuktikan oleh kenyataan bahwa perspektif serupa juga oleh pemikir – pemikir yang dalam banyak hal sangat berbeda dari Marx.[14] Para pemikir itu antara lain Max Scheler, Karl Mannheim, Maurice Blondel, dan Bernard Lonergan. Intipati para pemikir ini adalah pengetahuan itu sendiri tidak cukup untuk suatu pemahaman yang utuh tentang sesuatu. Tujuan pengetahuan bukan sekadar pengetahuan intelektual atas dunia, tetapi harus sampai pada transformasi pribadi dan dunia.[15] Oleh karena hakikatnya, sebagai salah satu metode teologi, model praksis dikawinkan dengan sebuah konteks khusus. Ia tidak pernah menjadi sebuah teologi yang “kakinya tidak berpijak di atas bumi”. Sekalipun sebagian besar tulisan tentang model ini dibuat oleh orang  - orang yang mengangkat ihwal bahwa pembebasan sebagai fokusnya yang pertama dan terutama, akan tetapi model ini memiliki aplikasi – aplikasi bagi kalangan yang lebih luas.[16]
Kita mempunyai dua alasan untuk berbicara mengenai model praksis.[17] Alasan pertama adalah wawasan kunci model ini adalah sentralitas praksis, yakni perpaduan antara praktik atau aksi dan refleksi atas aksi dalam sebuah spiral yang berkelanjutan. Alasan kedua adalah metode ini dapat juga secara masuk akal dilakukan dalam situasi di mana penindasan dan marginalisasi tidak menjadi konteks di dalamnya orang – orang berteologi. Banyak metode refleksi teologis yang menggunakan model ini. Sebagai salah satu contoh James dan Evelyn Whitehead, yang menyajikan tiga langkah refleksi teologis yang berawal dari praktik, bergerak ke dalam satu refleksi cermat atas dan analisis terhadap pengalaman ini, terhadap budaya di mana pengalaman itu berlangsung serta tradisi Kristen yang memberinya kedalaman teologis, dan kemudia bergerak lagi ke arah sebuah refleksi tentang implikasi – implikasi pastoral yang mungkin dari pengalaman tersebut dan bagaimana orang bisa bertindak secara lebih efektif dan setia di masa depan.[18] Teologi pembebasan juga menggunakan metode yang mencakup  “ihwal melihat secara analitis, menimbang secara teologis dan bertindak secara pastoral atau politik, tiga tahap dalam satu komitmen seseorang dalam iman. Sebuah teologi yang dalam cara tertentu tidak berakar dalam praksis, dewasa ini tidak dapat dipandang sebagai teologi yang memadai.
Berteologi sebagai refleksi kritis atas praksis, membuat teologi mampu menjadi sebuah ungkapan yang ampuh mengenai agama Kristen. Dengan secara tetap mengadakan refleksi atas kegiatan kita sehari – hari dalam bingkai Kitab Suci dan tradisi (dan yang sebaliknya), agama Kristen bisa membawa banyak hal untuk dikenakan pada kehidupan sehari – hari, dan sebaliknya kehidupan sehari – hari bisa membantu mempertajam pengungkapan iman Kristen.[19] Model praksis ini memenuhi autentisitas sebuah pengungkapan teologis karena memiliki kekuatan untuk menantang dan memperkaya pengungkapan – pengungkapan khusus lainnya. Teologi pembebasan misalnya, yang merupakan pelaku utama walaupun bukan satu – satunya dari model praksis dapat membuktikan keabsahan model ini. Model ini merupakan perkembangan yang paling penting dalam teologi  dan telah memberi ilham serta menantang teolog lain seraya membantu mereka membahasakan keprihatinan – keprihatinan mereka secara lebih jelas. Selain itu, model ini juga memiliki pemahaman akan pewahyuan sangat segar lagi menarik dan memiliki akar – akar yang kokoh dalam tradisi teologi.
Model praksis juga mendapat krtitik dalam bentuknya yang konkret, yakni teologi pembebasan. Beberapa kalangan merasa tidak nyaman dengan penggunaan Marxisme oleh teologi pembebasan. Ada yang memperlihatkan ciri selektif bahkan naif  dari cara teologi ini dalam membaca Kitab Suci, sedangkan yang lain lagi mengkritik para teolog pembebasan yang terpusat pada hal – hal negatif dalam masyarakat, serta ketidakmampuan mereka untuk melihat perwujudan – perwujudan rahmat secara tidak langsung di tengah masyarakat atau pengungkapan yang berkaitan dengan religiusitas kemasyarakatan.
Model praksis memberi ruang yang luas bagi pengungkapan pengalaman personal dan komunal, pengungkapan budaya atas iman, dan pengungkapan iman dari perspektif lokasi sosial. Pada saat yang sama ia menyediakan pemahaman – pemahaman baru dan menarik tentang Kitab Suci dan kesaksian – kesaksian teologis yang lebih tua. Ia juga mengangkat situasi konkret secara lebih bersungguh – sungguh. Model ini menerapkan teologi bukan sebagai suatu produk yang bisa diterapkan dan berlaku untuk segala waktu dan tempat serta dianggap sudah tuntas paripurna, melainkan sebagai suatu pemahaman tentang pergumulan dengan kehadiran Allah di dalam situasi – situasi yang sangat khusus. Model praksis menawarkan pembenahan kepada suatu teologi yang terlalu umum dan mau berlagak secara universal.[20]

Pengandaian-pengandaian Model Praksis
            Dalam pengandaian-pengandaian model praksis ini, ada dua jenis pengandaian yang penting, yakni:
1.      Pengandaian bahwa tingkat mengetahui yang paling tinggi ialah melakukan secara benar dan bertanggungjawab. Maksudnya, kalau cara berteologi yang lebih tradisional, teologi diterangkan sebagai suatu proses “iman yang mencari pemahaman”, maka model praksis menegaskan bahwa teologi merupakan sebuah proses “iman yang mencari tindakan yang benar”.
Salah satu contoh ialah pada tahun 1976, sekelompok teolog Dunia Ketiga berkumpul di Dar es Salaam, Tanzania guna berbicara tentang suatu jenis teologi baru yang muncul di negeri-negeri mereka. Dalam pernyataan akhirnya, mereka menuliskan kata-kata yang keras menghentak, sebagai berikut: “kami menolak sebagai tidak relevan jenis teologi akademis yang terpisah dari tindakan. Kami siap mengadakan sebuah perubahan radikal dalam epistemologi yang menjadikan komitmen sebagai tindakan pertama dalam teologi, dan terlibat dalam refleksi kritis atas praksis kenyataan Dunia Ketiga.[21]

Dengan pertama-tama bertindak dan kemudian membuat refleksi atas tindakan iman tersebut, para praktisi model praksis yakin bahwa kita dapat mengembangkan sebuah teologi yang sungguh-sungguh relevan untuk satu konteks tertentu. Model teologi praksis tidak bisa disusun dalam bentuk buku, esai, atau artikel tetapi lebih dalam arti sebuah aktivitas, sebuah proses, sebuah cara hidup.


2.      Pengandaian kedua dalam model praksis ini ialah gagasan tentang pewahyuan Allah.
Maksudnya bahwa model praksis memandang pewahyuan sebagai kehadiran Allah di dalam sejarah, di dalam peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari, dalam struktur-struktur sosial dan ekonomi, dalam situasi-situasi penindasan, dan di dalam pengalaman kaum miskin dan yang tertindas. Allah mewahyukan diri-Nya di dalam sejarah, namun bukan hanya sampai di situ saja. Kehadiran Allah adalah suatu isyarat dan undangan, yang mengajak manusia beriman untuk menemukan Allah dan bekerja sama dengan-Nya dalam karya Allah yang menyembuhkan, mendamaikan, dan membebaskan. Kehadiran dan undangan Allah untuk berkarya di samping-Nya disediakan bagi semua orang tanpa pamdang bulu. Inilah alasannya mengapa pengandaian dari model praksis ini menjadi penting sebab semua orang dipanggil untuk berteologi.

            Pada dasarnya, gerak dasar dari model praksis ini berbentuk lingkaran. Ada tiga langkah yang dilakukan untuk berteologi melalui model praksis ini, yakni sebgai berikut:[22]
a.       Langkah pertama, yakni aksi penuh pengabdian yang oleh para teolog praksis menandaskannya sebagai syarat utama yang harus dilakukan.
b.      Langkah kedua, yakni refleksi yang berupa analisis atas tindakan-tindakan kita (pengalaman, kebudayaan, lokasi sosial serta perubahan gerakan sosial) yang dalamnya kita bertindak; membaca ulang Kitab Suci dan Tradisi.
c.       Langkah ketiga, dari model praksis ialah sekali lagi mengadakan aksi (tindakan), namun kali ini aksi yang lebih dimurinikan, lebih diakarkan dalam Kitab Suci dan yang lebih diakarkan dalam realitas kontekstual.

Dari ketiga langkah tersebut, tempat teologi berada terletak pada langkah kedua yakni tahap refleksi dalam proses. Ketika kita beraksi, kita tahu, sebagaimana kita hanya dapat tahu dari refleksi dan kontemplatif; dan ketika kita beraksi secara lebih sadar, kita mengetahuinya secara lebih jelas lagi.

Contoh Model Praksis
            Sebagai contoh dari teologi model praksis adalah gerakan pembebasan masyarakat Amerika Latin. Teologi pemebebasan adalah suatu kemampuan melihat secara analitis, menimbang secara teologis dan bertindak secara pastoral. Latar belakang munculnya teologi pemebebasan ini dimotori oleh kenyataaan tertindas, ketidakadilan, kemiskinan, pemerasan, dll,  yang dialami oleh masyarakat Amerika Latin.[23] Revolusi sosial yang menyejarah sekaligus monumental di seluruh Amerika Latin itu, lahir dari sebuah keprihatinan sosial – bukan sebuah usaha personal. Metode dalam teologi pembebasan boleh kita ringkas demikian, “....refleksi atas aksi dan aksi berdasarkan refleksi”. Refleksi yang terus-menerus antaraksi dan refleksi ini yang kemudian disebut oleh Gutierrez sebagai “refleksi kritis atas praksis”. Menurut Gutierrez, langkah pertama dalam teologi pembebasan adalah aksi, yakni suatu komitmen dan tindakan nyata. Langkah kedua, menurutnya adalah teologi, yakni refleksi atau teori sesudah aksi. Aksi terbenam, terbitlah teologi atau refleksi, dalam roda melingkar (spiral).[24] Perhatian teologi pembebasan tidak hanya sampai pada tataran intelektual (refleksi atas refleksi atau interpretasi atas interpretasi), tetapi lebih dari itu, yakni iman dalam segi perilaku. Teologi pembebasan berawal dari satu komitmen, komitmen dalam iman kepada orang-orang yang terpinggirkan dan tertindas – kaum anawim Allah – kaum miskin Amerika Latin, kaum perempuan yang tertindas, terpinggirkan, dan lain – lain. Jadi, yang pertama-tama bukanlah teologi, melainkan praktik pembebasan. Semboyan teologi pembebasan adalah kembali beraksi.




DAFTAR PUSTAKA

Bevans, B. Stephen, 2002, Model-Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere.
Bevans, B. Stephen, 2010, Teologi dalam Perspektif Global, Ledalero, Maumere.
Lowy, Michael, 2013,Teologi Pembebasan, Insist Press, Yogyakarta.
Rosemary Radford Ruether, 1993, Sexim and God-Talk: Toward a Feminist Theology, Beacon Press, Boston.
Gutieres, 1973, A Theology of Liberation, Maryknoll, Orbis Book, N. Y.
J. J. Mueller, S.J., What Are They Saying About Theological Method?, Paulist Press, New York,
Karl Marx, Theses on Feuerbach, 1967, 11, dalam L.D. Easton and K. H. Guddat, eds., and trans., Writings of the Young Marx on Philosophy and Society (Garden City, N.Y.: Doubleday Anchor Books).








[1] Bevans, B. Stephen, Model-Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002, hal. 1-2.
[2] Bevans, B. Stephen, Teologi dalam Perspektif Global, Ledalero, Maumere, 2010, hal. 221.
[3] Bevans, B. Stephen, Model-Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002,  hal. 129.
[4] Ibid, hal. 130.
[5] Ibid, hal. 131.
[6] Ibid., 132
[7]Ibid., 131.
[8] Ibid.,140.
[9] Bevans, Stephen B., Teologi dalam Perspektif Global, Sebuah Pengantar, Ledalero, Maumere, 2010, 245.
[10] Ibid., 247.
[11] Gustavo Gutieres, A Theology of Liberation, Maryknoll, N. Y.: Orbis Books, 1973, 15.
[12] J. J. Mueller, S.J., What Are They Saying About Theological Method?, Paulist Press, New York, 66.
[13] Karl Marx, Theses on Feuerbach, 11, dalam L.D. Easton and K. H. Guddat, eds., and trans., Writings of the Young Marx on Philosophy and Society (Garden City, N.Y.: Doubleday Anchor Books, 1967), 402.
[14] Bevans, Stephen B., Model – Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002, 140.
[15] Bevans, Stephen B., Teologi dalam Perspektif Global, Sebuah Pengantar, Ledalero, Maumere, 2010, 220.
[16] Bevans, Stephen B., Model – Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002, 141.
[17] Bevans, Stephen B., Teologi dalam Perspektif Global, Sebuah Pengantar, Ledalero, Maumere, 2010, 245.
[18] Rosemary Radford Ruether, Sexim and God-Talk: Toward a Feminist Theology, Beacon Press, Boston, 1993, 19.
[19] Bevans, Stephen B., Model – Model Teologi Kontekstual, Ledalero, Maumere, 2002, 142.
[20] Ibid., 142-145.
[21] Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, Ledalero,2002,134 dikutip dalam Dialog Ekumenis Para Teolog Dunia Ketiga, Dar es Salaam, Tanzania, 5-12 Agustus 1976.
[22]Stephan B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, 138-139.
[23] Lowy, Michael, Teologi Pembebasan, Insist Press, Yogyakarta, 2013, 22.
[24]Bevans, B. Stephen, Teologi dalam Perspektif Global, 222.

Ajahn Brahm dan Konsep Nibbida

AJAHN BRAHM DAN KONSEP NIBBIDA
Oleh Cristianto Naku


Potret Tokoh
Ajahn Brahm lahir di London pada tanggal 7 Agustus 1951. Ia lahir dari sebuah keluarga pekerja di London pada masa seusai Perang Dunia II dengan nama Peter Betts. Ayah Peter (Peter adalah panggilan kecil Ajahn Brahm) adalah seorang pemegang teguh kedisiplinan dalam keluarga[1]. Hal yang selalu didengungkan Piter sebagai bahan refleksinya – hingga di usia senjanya – adalah kata-kata sang ayah, “Nak, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu, tak peduli apapun yang kamu lakukan dalam hidup”. Kata-kata ini pula yang mendorong Ajahn Brahm untuk menulis bukunya yang berjudul “Opening The Door of Your Heart”[2]. Ajahn muda tergolong siswa yang pandai di sekolahnya dan sangat disiplin. Pada usia 16 tahun, Ajahn muda berhasil memenangkan hadiah akademik melalui hasil ujian O-levelnya. Uniknya, uang hasil hadiah itu ia gunakan untuk membeli buku perdana mengenai Buddhisme, karya Christmas Humphries. Keingintahuannya akan Buddhisme, mendorongnya untuk terus mempelajari agama-agama lainnya pula. Karena keuletannya dalam belajar, Ajahn muda mampu menekuni pendidikannya di Cambridge University. Namun, baginya kesuksesan sejati bukanlah kesuksesan di bidang akademik.
Setelah menyelsaikan pendidikannya di Cambridge, Ajahn muda memutuskan untuk mengajar selama setahun di Devon. Setelah setahun menjadi seorang pendidik, ia kembali ke London untuk menjadi seorang bikhu. Ia disarankan oleh para bikhu di wihara Thai di London untuk pergi ke Thailand. Pada tahun 1974 ia thabiskan menjadi Bhiku Brahmavamso alias Ajahn Brahm pada usianya yang ke-23. Ia kemudian berlatih dalam wihara hutan Wat Pah Pong di bawah bimbingan gurunya yang tersohor, yakni Ajahn Chah[3]. Dalam tahun-tahunnya sebagai bhiku yunior, ia diberi kepercayaan untuk mrnghimpun panduan mengenai aturan disiplin monastik Buddhis dalam bahasa Inggris yang kemudian menjadi dasar bagi aturan disiplin di banyak wihara tradisi Theravada di negara-negara Barat.
Pada tahun 1983, Ajahn diutus sebagai pendamping bhiku Ajahn Jagaro[4] di Australia. Ajahn Brahm juga memiliki banyak kesempatan untuk menjadi pembicara seperti di International Buddhist Summit di Phnom Penh (2002) dan pada Global Conference on Buddhism. Hingga sekarang, Ajahn Brahm adalah Bhiku Kepala Wihara Bodhinyana[5] di Serpentine, Australia, Direktur Spiritual Buddhist Society of Western Australia, Advaiser Spiritual Buddhist Society of Victoria, dan kini tengah bekerja sama dengan bikhu dan bikhuni dari semua tradisi Buddhis untuk mendirikan Australian Sangha Association. Pada bulan Oktober 2014 lalu, ia mendapat anugerah Medali John Curtin atas pelayanannya kepada masyarakat Australia[6].

Karya-karya Ajahn Brahm
Karya-karya Ajahn Brahm antara lain adalah menegenai The Art of DissapearingThe Buddha’s Path to Lasting Joy (2011), Mindfulness, Bliss and Beyond-The Meditator’s Handbook (2006), The Basic Method of Meditation. Karya-karyanya dalam bahasa Indonesia ditemukan dalam judul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Hidup Senang Mati Tenang, Superpower Mindfulness, Guru Si Cacing Datang, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya II dan Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya III[7]. Dalam usia senjanya juga Ajahn Brahm tetap aktif berkeliling dunia untuk berceramah dan mengajar meditasi.
            Ajahn Brahm juga telah berperan penting dalam mendirikan Wihara Dhammasara di Gidgegannup, di perbukitan Timur Laut Perth dan menjadi wihara independen bagi para bhikuni, tempat para bhiku Sri Lanka berlatih. Ia juga memberi pelatihan bagi kaum perempuan untuk bisa menjalani hidup suci. Dan banyak bhiku fundamentalis, mengucilkannya. Akan tetapi, tidak sedikit komunitas Buddhis Internasional mendukungnya.


Nibbida[8] sebagai Bentuk Respon atas Penderitaan
Kontemplasi mengenai dhukka atau penderitaan, adalah bagian yang paling penting dari praktek hidup orang Buddhis. Menurut Ajahn Brahm kita tidak diajak untuk mengontrol penderitaan kita, akan tetapi kita berusaha memahaminya melalui investigasi berbagai penyebabnya. Ketika segala sesuatu dalam hidup kita dilakukan secara salah, kita pada akhirnya mengalami penderitaan – yang pada mulanya dari problem psikis hingga pada penderitaan fisik. Menghadapi penderitaan ini, kita dituntut untuk mengubah cara berpikir kita atas apa yang sedang dialami dan berhenti berseteru. Ketika kita berhenti berseteru dengan dunia dan mulai memahami penderitaan, sebetulnya kita mendapat respon yang lain, yang kemudian dikenal dengan nama nibbida.
Ajahn Brahm memperkenal cara pemahaman penderitaan sebagai salah satu upaya menghadapi penderitaan. Nibbida datang dari pemahaman alami seseorang akan tubuh, pikiran dan dunia. Penderitaan, menurutnya, diproduksi dalam pabrik kesengsaraan (the fabric of samsara). Nibbida dengan kata lain adalah sebuah proses pengulitan bagian buah yang busuk. Bagian yang busuk dari buah (misalnya buah apel) dikupas dan dibuang. Akan tetapi, ketika kita bijaksana, kita akan melihat seluruh buah apel menjadi busuk, dan hal yang mungkin adalah nibbida, upaya melepaskan, membuang atau membiarkan apel (baca: pikiran buruk atau penderitaan) musnah dengan sendirinya.
Menurut Ajahn Brahm, manusia dalam perjalanan kehidupannya akan mengalami tiga problem berikut, yakni mengalami ketuaan, mengalami sakit dan mati. Kita pasti akan mengalami tiga hal ini, dan menurutnya kita tidak akan mampu berbuat apa-apa dengan kondisi ini. Hal yang paling mungkin dilakukan menurutnya “membiarkannya”. Ketika kita berusaha untuk memikirkan apa yang kita alami hingga stress atau frustrasi, sebenarnya kita sedang menambah beban baru di pundak kita. Biarkan tubuh yang menyembuhkan kita atau dengan kata lain tubuh yang sakit akan menyembuhkan dirinya sendiri. Melepaskan diri dari kelekatan berpikir akan sesuatu yang terus dikhawatirkan dinamakan nibbida.
Nibbida dalam Strategi Meditasi
Ajahn Brahm juga berbicara banyak mengenai strategi meditasi. Hal ini dapat diketatahui dari bukunya yang secara khusus berbicara mengenai “Dasar-dasar Bermeditasi” (2012). Meditasi adalah sebuah jalan untuk mencapai pelepasan atau pembebasan diri. “The goal of the meditation is the beautiful sillent, stillness and clarity of mind[9].” Sekali lagi Brahm berusaha menampilkan istilah pelepasan atau disengage (nibbida) diri dari pengalaman atau cerita-cerita masa lampau dalam membangun kefokusan pandangan.
Selain keheningan sebagai buah sekaligus strategi mencapai sebuah meditasi yang mendalam, keheningan menurut Ajahn juga dilihat sebagai sesuatu yang jelas dan menampilkan kebijaksanaan daripada berpikir. Keheningan dalam diri melampui kemampuan berpikir manapun. Keheningan adalah nibbida dari segala kebisingan dan keinginan diri yang tak terbendungi. Pikiran sendiri berusaha menemukan keheningan agar ia bisa sampai pada apa yang sedang dipikirkan. Hal yang digarisbawahi di sini adalah mengenai kesadaran akan keheningan dalam situasi sekarang (silent awareness of the present moment). Kesadaraan akan keheningan itu hanya menunjukkan satu hal saja (just one thing) – kita sedang tidak memikirkan sesuatu.
Fokus pada pernapasan adalah salah satu metode bermeditasi yang baik. Dalam bermeditasi, kita tidak dianjurkan untuk menghitung jumlah aktivitas bernapas kita. Kesabaran pun menjadi kunci dalam proses pengaturan pernapasan. Dan pada tahap ini, nibbida tetap hadir untuk menjaga kelancaran proses pernapasan. Segala sesuatu yang ada dalam diri dilepasbebaskan dari dalam diri agar kita dapat bernapas dengan lega.
Tanggapan atas Konsep Nibbida
Konsep nibbida yang ditengarai Ajahn Brahm sulit untuk diterapkan dalam kehidupan senyatanya. Dalam tulisannya mengenai The Art of Disappearing (2011), Ajahn Brahm berusaha mengilustrasikan konsep nibbida  dengan jelas. Ia mengambil contoh demikian,
“When you meditate, remind yourself they are none of your business, they’re the body business – let the body look after them.,,,,,the more you worry about this body, the worse it gets. If you disengage from the body, sit still, and just allow the body to disappear, it tends to heal itself”[10].
Kutipan di atas tentunya berusaha menerangkan keterpisahan tubuh dari kontrol diri kita sendiri. Dengan kata lain, pelepasan mindset mengenai tubuh dari pikiran atau kelekatan dengan kita, sebenarnya hendak menunjukkan bahwa tubuh dianggap sesat, buruk, mengganggu dan oleh karenanya harus dilepaskan atau dibuang atau sebaiknya tidak perlu dipikirkan. Konsep nibbida Ajahn Brahm, hemat saya adalah sebuah cara pandang yang buruk mengenai tubuh. Kutipan lain, yang hemat saya, sungguh disayangkan dalam The Art of Disappearing adalah demikian,
            “The first time I saw that was with Ajahn Tate. When I first went to Thailand in 1974, he was in the hospital with incureable cancer. They gave him the best possible treatment, but nothing would work, so they sent him back to his monastary to die. That’s one example of what happens when monks “go back to their monastery to die”. So you disengage from things – nibbida arises[11].
                Konsep nibbida atau pelepasan seyogianya ditempatkan pada konteks tertentu. Kisah mengenai seorang bhiku yang dipulangkan ke wihara dalam ilustrasi di atas – yang diklaim sebagai ilustrasi nyata menurut Ajahn Brahm – adalah sebuah bentuk ignorance invicibilis[12]. Memulangkan bhiku yang mengalami sakit, secara sederhana adalah suatu proses “nibbida” atau pelepasan dari tanggung jawab sebagai sesama. Kita memberi kesempatan kepada tubuh yang menderita untuk menyembuhkan atau memperbaiki dirinya sendiri adalah suatu keniscayaan. Dalam bahasa Brahm “It’s not your business!”. Mengambil tindakan nibbida sepertinya kurang jelas, terutama mengenai motivasi, apakah memang hanya karena bukan menjadi tanggung jawab kita ataukah karena sebuah alasan ketertarikan belaka?  
 Sebetulnya konsep nibbida masih meneteng pemahaman mengenai ciri negatif badaniah – nafsu berasal dari tubuh. Oleh karena itu, kita tidak perlu ikut campur dalam memahami ruang geraknya atau problem – sakit dan penyakit – yang menderanya. Konsep nibbida juga hendak menunjukkan bahwa tubuh menempati bilik yang yang sangat jauh dari jiwa. Sejatinya bukan tubuh yang membuat jiwa jatuh, bukan tubuh yang memaku jiwa pada tubuh tertentu. Jiwa adalah penggerak dari dirinya sendiri. Maka, konsisten dengan pandangan ini, jiwalah yang menggerakkan tubuh.
Catatan Akhir
Dalam artian tertentu, konsep nibbida dapat membantu kita untuk keluar dari penderitaan yang kita alami. Akan tetapi, konsep ini hanya berlaku sektoral – dalam artian bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu hal ini bisa dipraktikkan. Praktisnya dalam kegiatan meditasi. “It’s not your business!”, akan mengusir segala “capung dan binatang liar lainnya” yang hinggap di atas dan dalam ruang keheningan meditatif. Disengagement, sangat membantu proses terbentuknya situasi “padang gurun” pikiran kita. Proses pelepasan atau ‘tidak mau tahu’ dengan sesuatu yang mengganggu kita dalam suasana meditatif, akan mengantar kita pada ekspektasi dalam petualangan keheningan dan meditatif.


Daftar Pustaka

Brahmavamso, Ajahn, 2012,
The Basic Method of Meditation, The Buddhis Society, Western Australia.
Brahm, Ajahn, 2011,
The Art of Disappearing, Wisdom Publications.                                                            
Ajahn Brahm, Ajahn, 2006,
Mindfulness, Bliss and Beyond, Wisdom Publications, Boston.
Hasil Wawancara, “Ajahn Brahm – Biografi dan Wawancara, Awareness Publications, 2013.






[1] Disadur dari buku hasil wawancara Handaka Vijjananda dan Ajahn Brahm di Hotel Sheraton Bandara, Jakarta Barat, 21 Maret 2012, di sela rangkaian Talk Show Tour d’Indonesia 2012, Ajahn Brahm – Biografi dan Wawancara, Awareness Publication, 2012, 7-9.
[2] Mengenai judul buku pernah disinggung dalam wawancara dengan Hendaka Vijjananda, di sela-sela Talk Show Tour d’Indonesia, ibid., 24.
[3] Ajahn Chah adalah tokoh yang menginspirasi Ajahn Brahm. Pendidikannya lebih rendah dari Ajahn Brahm. Akan tetapi, kebijaksanaan dan kebajikannya mampu memengarui Ajahn muda, ibid., 27-28.
[4] Ajahn Jagaro adalah bhiku pertama yang diutus ke Australia. Pada tahun 1994, ia mengambil cuti dari Australia Barat dan melepaskan jubah di kemudian hari. Posisi ini kemudian ditempati oleh Ajahn Brahm, ibid., 13.
[5] Bodhinyana artinya pengetahuan pencerahan, ibid., 13.
[6] Dirangkum dari biografi penulis dalam, Ajahn Brahmavamso, The Basic Method of Meditation, The Buddhis Society, Western Australia, 2012.
[7] Buku hasil wawancara Ajahn Brahm dan Vijjananda, 15-16.
[8] Pembahasan mengenai nibbida secara keseluruhan disadur dari, Ajahn Brahm, The Art of Disappearing, Wisdom Publications, Boston, 2011, 1-6.
[9] Ajahn Brahm, Mindfulness, Bliss and Beyond, Wisdom Publications, Boston, 2006, 1-3.
[10] Ajahn Brahm, The Art of Disappearing, 6.
[11] Ajahn Brahm, The Art of Disappearing, 6-7.
[12] Istilah ini hendak menggambarkan tentang suatu ketidaktahuan yang dihidupi sebagai tradisi. Misalnya tradisi penduduk Eskimo yang berusaha mempercepat kematian sesorang yang menderita dengan melepaskannya sendirian dalam sebuah gua es.