Kamis, 26 November 2015

Karakter Petrus dalam Injil Matius

KARAKTER PETRUS DALAM MATIUS
Oleh Cristianto Naku

            Karakter Petrus dalam setiap Injil diilustrasikan secara distingsi. Dalam Matius, karakter Petrus diteropong melalui beberapa point of view, salah satunya adalah pendekatan tokoh – dari sudut pandang narator, tokoh sendiri (Petrus) dan tokoh lain (misalnya Yesus). Penelusuran karakter tokoh digali dari beberapa unsur, yakni kata-kata para tokoh dan hal-hal yang mereka lakukan. Petrus dalam Mat 26,26-75 adalah murid yang berapi-api (Mat 26,33-35), cerdas (“Semua murid yang lain pun berkata demikian juga”, Mat 26,35), mendapat kepercayaan dari Yesus (Mat 26,37) dan penakut (Mat 26,58). Umumnya  karakter Petrus dalam Matius 26,26-75, ada dalam dua ekstrim, yakni Petrus yang memiliki iman yang teguh (bdk. “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak”, Mat 26,33 atau “Sekalipun aku harus mati...., aku takkan menyangkal Engkau” Mat 26,35) dan Petrus yang mengalami penurunan stamina atau kualitas iman (bdk. “Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah....Aku tidak kenal orang itu”, Mat 26,74). Karakter Petrus dalam hal ini mengalami penurunan drastis, dari yang semulanya – menampilkan diri sebagai orang over percaya diri (Mat 26,33-35) – menuju seorang penyangkal bahkan mengutuk Yesus (Mat 26,70-75).
            Kualitas iman Petrus ada dalam taraf labil (pandangan umum kelompok) – tidak melulu di puncak, akan tetapi mengalami penurunan – bahkan sampai pada tahap yang ekstrim, mengutuk (26,75). Gambaran kualitas iman Petrus adalah ilustrasi iman kita sebagai Gereja yang sedang berziarah di dunia – mengalami jatuh-bangun dalam mengikuti Yesus. Semula kita berapi-api (bdk. kata-kata Petrus, “Sekalipun aku harus mati bersama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” Mat 26,35) dan di tengah perjalanan atau ketika mendapat tantangan kita memilih lari (bdk. “Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri”, Mat 26,56 – bahkan berani menyangkal dan mengutuk seperti Petrus – Mat 26,71-75).
            Penurunan kualitas iman Petrus, nampak dalam tiga tingkatan. Pertama, tantangan diwakili oleh peran wanita (Mat 26,69), kedua seorang hamba lain (Mat 26,71) dan ketiga orang banyak (Mat 26,73). Grafik tantangan ini semakin lama semakin mencekik leher. Keterwakilan perempuan dalam tantangan yang pertama dianggap mudah, karena perempuan dalam tradisi Yahudi tidak dihitung. Akan tetapi, cobaan mulai meningkat ditandai dengan hadirnya sosok hamba lain dan pada epilog tantangan muncul orang banyak. Petrus sendiri harus melewati tiga tingkatan cobaan ini dan akhirnya memilih menyangkal dan mengutuk – kontras dengan Yesus (bdk. Mat 4,1-11 – semakin diuji semakin kokoh). Dalam hal ini, Petrus adalah penakut, kurang bertanggung jawab dengan pilihannya dan yang paling penting adalah aspek ketidaktaatan Petrus terhadap komitmennya sendiri (bdk. Mat 26,33 – Aku sekali-kali tidak akan mengalami kegoncangan iman) – Petrus tidak menepati janji (Mat 26,35, “Sekalipun aku harus mati, aku takkan menyangkal Engkau”).
            Dari keseluruhan data yang dirangkum dari teks Mat 26,26-75, diramu sebuah kesimpulan mengenai karakter Petrus. Petrus adalah seorang murid yang memiliki kualitas iman yang labil – dalam arti bahwa ia tidak jatuh hanya pada satu ekstrim saja, yakni tokoh yang berapi-api (Mat 26,33-35), juga tidak pada ekstrim penakut (Mat 26,56-58) atau penyangkal (Mat 26,69-75) juga (bdk. Mat 16,23, Petrus dicap iblis oleh Yesus). Ulasan akhir perikop ini – khususnya pada (Mat 26,75 – “Lalu ia (Petrus) pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya”) – merupakan sebuah antiklimaks yang mengantar kita pada pemahaman ulang akan kualitas iman tokoh (Petrus). Petrus memiliki iman yang labil; tidak hanya menyangkal dan bahkan mengutuk (Mat 26,69-75), tetapi ada upaya penyesalan (Mat 26,75) – prospek transformasi diri ke depan. Bisa juga dikatakan bahwa kisah karakter Petrus ini menggambarkan kualitas iman “suatu ketika” dari seseorang. Hal lain hendak disampaikan juga adalah bagaimana kata-kata dan perbuatan itu disikronkan. Komitmen yang diucapkan dengan kata-kata harus direalisasikan dalam perbuatan.        

                                                                                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar