KARAKTER PETRUS DALAM MATIUS
Oleh Cristianto Naku
Karakter Petrus dalam setiap Injil
diilustrasikan secara distingsi. Dalam Matius, karakter Petrus diteropong
melalui beberapa point of view, salah
satunya adalah pendekatan tokoh – dari sudut pandang narator, tokoh sendiri (Petrus)
dan tokoh lain (misalnya Yesus). Penelusuran karakter tokoh digali dari
beberapa unsur, yakni kata-kata para tokoh dan hal-hal yang mereka lakukan.
Petrus dalam Mat 26,26-75 adalah murid yang berapi-api (Mat 26,33-35), cerdas
(“Semua murid yang lain pun berkata demikian juga”, Mat 26,35), mendapat
kepercayaan dari Yesus (Mat 26,37) dan penakut (Mat 26,58). Umumnya karakter Petrus dalam Matius 26,26-75, ada
dalam dua ekstrim, yakni Petrus yang memiliki iman yang teguh (bdk. “Biarpun mereka semua tergoncang
imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak”, Mat 26,33 atau “Sekalipun aku
harus mati...., aku takkan menyangkal Engkau” Mat 26,35) dan Petrus yang
mengalami penurunan stamina atau kualitas iman (bdk. “Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah....Aku tidak
kenal orang itu”, Mat 26,74). Karakter Petrus dalam hal ini mengalami penurunan
drastis, dari yang semulanya – menampilkan diri sebagai orang over percaya diri (Mat 26,33-35) –
menuju seorang penyangkal bahkan mengutuk Yesus (Mat 26,70-75).
Kualitas iman Petrus ada dalam taraf
labil (pandangan umum kelompok) – tidak melulu di puncak, akan tetapi mengalami
penurunan – bahkan sampai pada tahap yang ekstrim, mengutuk (26,75). Gambaran
kualitas iman Petrus adalah ilustrasi iman kita sebagai Gereja yang sedang
berziarah di dunia – mengalami jatuh-bangun dalam mengikuti Yesus. Semula kita
berapi-api (bdk. kata-kata Petrus,
“Sekalipun aku harus mati bersama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” Mat
26,35) dan di tengah perjalanan atau ketika mendapat tantangan kita memilih
lari (bdk. “Lalu semua murid itu
meninggalkan Dia dan melarikan diri”, Mat 26,56 – bahkan berani menyangkal dan
mengutuk seperti Petrus – Mat 26,71-75).
Penurunan kualitas iman Petrus,
nampak dalam tiga tingkatan. Pertama,
tantangan diwakili oleh peran wanita (Mat 26,69), kedua seorang hamba lain (Mat 26,71) dan ketiga orang banyak (Mat 26,73). Grafik tantangan ini semakin lama
semakin mencekik leher. Keterwakilan perempuan dalam tantangan yang pertama
dianggap mudah, karena perempuan dalam tradisi Yahudi tidak dihitung. Akan
tetapi, cobaan mulai meningkat ditandai dengan hadirnya sosok hamba lain dan
pada epilog tantangan muncul orang banyak. Petrus sendiri harus melewati tiga
tingkatan cobaan ini dan akhirnya memilih menyangkal dan mengutuk – kontras
dengan Yesus (bdk. Mat 4,1-11 –
semakin diuji semakin kokoh). Dalam hal ini, Petrus adalah penakut, kurang
bertanggung jawab dengan pilihannya dan yang paling penting adalah aspek ketidaktaatan
Petrus terhadap komitmennya sendiri (bdk.
Mat 26,33 – Aku sekali-kali tidak akan mengalami kegoncangan iman) – Petrus
tidak menepati janji (Mat 26,35, “Sekalipun aku harus mati, aku takkan
menyangkal Engkau”).
Dari keseluruhan data yang dirangkum
dari teks Mat 26,26-75, diramu sebuah kesimpulan mengenai karakter Petrus.
Petrus adalah seorang murid yang memiliki kualitas iman yang labil – dalam arti
bahwa ia tidak jatuh hanya pada satu ekstrim saja, yakni tokoh yang berapi-api
(Mat 26,33-35), juga tidak pada ekstrim penakut (Mat 26,56-58) atau penyangkal
(Mat 26,69-75) juga (bdk. Mat 16,23,
Petrus dicap iblis oleh Yesus). Ulasan akhir perikop ini – khususnya pada (Mat
26,75 – “Lalu ia (Petrus) pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya”) – merupakan
sebuah antiklimaks yang mengantar kita pada pemahaman ulang akan kualitas iman
tokoh (Petrus). Petrus memiliki iman yang labil; tidak hanya menyangkal dan
bahkan mengutuk (Mat 26,69-75), tetapi ada upaya penyesalan (Mat 26,75) –
prospek transformasi diri ke depan. Bisa juga dikatakan bahwa kisah karakter
Petrus ini menggambarkan kualitas iman “suatu ketika” dari seseorang. Hal lain
hendak disampaikan juga adalah bagaimana kata-kata dan perbuatan itu
disikronkan. Komitmen yang diucapkan dengan kata-kata harus direalisasikan
dalam perbuatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar