SIMONE WEIL: PROFESOR PRANCIS YANG
MOGOK MAKAN SAMPAI MATI
Oleh Roberth Cristianto Naku
Perkembangan
kehidupan Gereja dan pemikiran Kristen tidak pernah terlepas dari tokoh
perempuan. Teologi Kristen dan Kristianitas tidak selalu mudah untuk mengakui
kontribusi khusus yang diberikan oleh perempuan. Baru di abad XX, kita
menyaksikan perkembangan pengakuan terhadap perempuan dalam kehidupan Gereja
dan pemikiran Kristen. Kontribusi Weil dalam kehidupan Gereja menunjukkan arti
penting Weil bagi teologi Kristen. Weil tidak pernah dibaptis. Beberapa
tulisannya pun menyimpang dari ajaran iman Kristiani – pandangannya yang
mendukung orang-orang Albigensan. Namun, dibalik semuanya itu, Weil adalah
seorang perempuan yang sangat berkomitmen dalam hidup. Ia adalah seorang
perempuan yang memiliki visi yang kuat – impian untuk menempatkan dirinya di
baris paling depan pasukan perang Prancis merdeka, bergabung dalam suatu
gerakan anti-Fasis di Spanyol, dll – walaupun kadang impiannya tidak semuanya
tercapai.
Simone Weil lahir di Paris pada
tanggal 3 Februari 1909. Ayah Weil adalah seorang dokter umum. Ibunya, meski
tidak terdidik dalam dunia kedokteran – karena ayahnya tidak mengizinkannya –
tahu hampir sebanyak suaminya mengenai duniakarena telah bekerja begitu dekat
dengannya selama bertahun-tahun. Kedua orang tua Weil adalah Yahudi, namun
mereka tidak pernah mempraktikkan hidup keagamaan Yahudi. Ateisme dr. Weil –
sebagai reaksi terhadap kesalehan ibunya – sangat berpengaruh pada anak mereka
Simone Weil; dan ini yang akan membuktikan pemikiran Simone Weil yang
anti-Yahudi di kemudian hari. Dalam suratnya yang ditulis pada tahun 1940,
Simone Weil menjelaskan perasaannya mengenai darah ke-Yahudian-nya. Simone Weil
lebih memandang darah ke-Yahudian-nya hanya dalam konteks anggota ras tertentu –
“Aku tidak memiliki alasan untuk berpendapat bahwa aku mempunyai hubungan apa
pun, baik melalui ayah atau ibuku, dengan orang-orang yang hidup di Palestina
dua ribu tahun yang lalu” – daripada sebagai pengikut agama tertentu – “Aku
tidak pernah memasuki sinagoga dan aku tidak pernah menyaksikan suatu upacara
agama Yahudi”.
Simone Weil tumbuh dalam asupan
keluarga yang sederhana. Kehidupan keluarga Weil selalu berpindah-pindah dari
satu kota ke kota yang lain (nomaden)
akibat peran sang ayah sebagai dokter tentara saat itu. Hal ini tentunya
membuat Weil kecil jarang berhubungan dengan teman-teman sezamannya.
Sebaliknya, masa kanak-kanaknya normal, bahkan biasa, sampai suatu saat di
usianya yang ketiga tahun ia harus mengalami operasi usus buntu. Saudara
Simone, Andre – saudara satu-satunya yang lahir tiga tahun sebelumnya –
sangatlah cerdas, dan Simone merasa bukan apa-apanya. Sebagai seorang dewasa ia
menulis:
Anugerah-anugerah
istimewa saudaraku, yang mempunyai masa kanak-kanak dan remaja seperti Pascal
(matematikus dan filosof Prancis) membuatku merasa tak berarti
(WG 21).
Sejak masa remajanya, Weil telah
memutuskan untuk memilih filsafat daripada matematika sebagai spesialis
akademisnya ke depan. Pada umur 16 tahun pada tahun 1925, ia mendaftar pada
Lycee Henri IV yang ternama di mana ia belajar bahasa Prancis, Inggris, Sejarah
dan Filsafat. Salah seorang pengikut sekaligus sahabatnya, Simone Petrement
berpendapat bahwa Simone Weil adalah perempuan cerdas dengan watak yang baik.
Guru filsafat Weil di Lycee adalah Emile Chartier. Darinya Weil belajar
bagaimana menerapkan ide-idenya dengan jelas dan ringkas.
Pada tahun 1927 – meskipun ia
menduduki tingkat pertama dalam ujian tingkat Filsafat di Sorbonne – ia gagal
pada ujian masuk ke Ecole Normale Superieure
yang sangat kompetetif, dan hal itu membuatnya terpaksa belajar lebih giat
sebelum lulus setahun kemudian. Weil belajar di sana dari tahun 1928 sampai
1931. Pada tahun 1930, karena serangan sinusitis, Weil mulai megalami sakit.
Pada bulan Juli 1931, Weil memenuhi syarat sebagai guru dan mengajukan sebuah
disertasi yang diperpanjang mengenai Science
and Perception dalam karya filosof Prancis Rena Descartes (1596 – 1650).
Tahun-tahunnya di Paris 1925 – 1931 merupakan periode di mana Weil terlibat
secara mendalam dalam refleksi dan kegiatan politik. Peran Weil juga menembus problem
pengangguran di negaranya saat itu. Jatuhnya Wall Street di Amerika,
menghancurkan khayalan akan kemakmuran ekonomi seluruh dunia. Getarannya pun
membentur Prancis, di mana pekerja-pekerjanya menghadapi pengangguran
besar-besaran dan berimbas pada keadaan kerja yang semakin memburuk.
Weil juga berperan penting dalam
upaya revolusi kelas pekerja di Jerman. Ia yakin bahwa karena heroisme bersifat
individual, kelas-kelas pekerja tidak dapat bersatu untuk mencapai suatu
tujuan. Teori-teori politik Weil yang telah berkembang penuh ditemukan dalam Oppression and Liberty, suatu koleksi
esai yang diterbitkan setelah kematiannya. Sejak tahun 1934, Weil menjadi yakin
bahwa alasan pemimpin sosialis begitu terpisah jauh dari kaum pekerjanya adalah
karena tak seorang pun dari mereka yang mengetahui bagaimana rasanya bekerja di
sebuah pabrik. Oleh karena itu, ia mencebur dalam dunia para buruh dan mulai
bekerja di pabrik Alsthom di Paris. Selama liburan musim panasnya, Weil
melakukan perjalanan ke Spanyol dan Portugal dengan orang tuanya. Suatu saat
ketika berjalan-jalan di sebuah dusun kecil di Portugal, hati Weil merasa sedih
mendengar kumandang nyanyian yang menyentuh hati. Untuk itu, ia menulis:
“.......keyakinan tiba-tiba lahir dalam diriku
bahwa Kristianitas terutama adalah agama para budak, bahwa para budak tidak
dapat tidak menjadi bagiannya, dan akulah salah satunya” (WG
24).
Ketika
berusia 27 tahun, Weil kembali mengajar Filsafat di Bourges. Ia mambangun
hubungan yang baik dengan tuan Bernard, seorang manajer pabrik, dengan
memberikan pelbagai saran kepadanya tentang bagaimana menjalankan sebuah
pabrik. Semangat emansipatif Weil pun semakin membara. Kehausannya akan sebuah
masalah membawanya ke Spanyol, di mana perang saudara meletus antara kaum fasis
dan koalisi kaum komunis, sosialis, dan anti-fasis. Ia melakukan perjalanan ke
Barcelona di mana ia mendaftarkan diri pada pihak anti-fasis sebagai anggota
Milisi Anarkis. Ia bahkan bersedia untuk misi-misi berbahaya, namun karena
kurang berpengalaman mambuat ia canggung dan akhirnya gagal.
Pengalaman
sebagai pekerja pabrik dan keterlibatannya yang singkat dalam Perang Saudara di
Spanyol membuat ia berefleksi secara mendalam mengenai agama. Pada tahun 1937
dan 1938, kehidupan Weil berbalik secara dramatis. Pengalaman keterlibatan
dengan situasi pekerja pabrik dan berjuang dalam perang membuatnya terbuka
terhadap beberapa perjumpaan spiritual yang mendalam dengan Kristianitas. Dalam
suatu kunjungannya ke Asisi pada tahun 1937, sesuatu yang lebih kuat daripada
kehendaknya sendiri memaksanya untuk pertama kalinya berlutut dalam doa. Selama
setahun, ia menghabiskan Pekan Sucinya di pertapaan Benediktin Solesmes.
Kedekatan Weil pada hal-hal spiritual mulai mendorongnya ketika seorang pemuda
Inggris beragama Katolik membimbingnya untuk merenungkan kekuatan religius
sakramen-sakramen. Pemuda itu memperkenalkan Weil sebuah puisi George Herbert,
seorang penyair Inggris abad XVI, mengenai Kasih Allah. Puisi ini pun
dihafalnya sewaktu derita menghampirinya. Belakangan ia menulis:
“Seperti
yang sudah kukatakan, sewaktu pendarasan berulang-ulang inilah, Kristus sendiri
datang dan memilikiku” (WG 25).
Pengalaman-pengalaman
mistik di atas mengakibatkan Weil berpikir ulang mengenai tema-tema religius
dan teologis. Weil sangat mengecam kekejaman Nazi yang berkuasa saat itu.
Menurutnya, Nazi sejajar dengan Roma Kuno dalam invansinya. Hitler baginya
adalah sosok pemimpin yang telah belajar meniru orang-orang Roma. Layaknya
orang Roma yang bukan hanya percaya bahwa mereka merupakan ras tertinggi,
mereka juga benar-benar kejam dalam penguasaan kota-kota dan
kebudayaan-kebudayaan lain.
Pada
tahun 1940, Weil mulai membaca Kitab Suci Hindu, khususnya Bhagavadgita. Bagi Weil, naskah klasik ini tidak bertentangan
tetapi melengkapi Kristianitas. Pengasingan Weil bersama keluarganya ke
Marseilles pada bulan September 1940 mengawali perjumpaan barunya dengan para
penerus bidaah Gereja Kristen awal. Di Marseilles mereka berkenalan dengan
sebuah bahasa khas daerah itu, yakni Languedoc. Daerah itu ditandai dengan
jelas oleh agama khas, Chatarisme, yang penganut-penganutnya di Languedoc dikenal sebagai orang-orang Albigensian.
Agama ini merupakan generasi penerus bidaah Gereja Kristen awal, di mana
pengikutnya percaya bahwa hidup dikuasai oleh konflik antara kekuatan yang baik
dan jahat. Yesus dilihat sebagai pemberontak terhadap kekejaman Allah
Perjanjian Lama. Pada tahun 1208, pemberantasan dilancarkan terhadap
orang-orang Albigensian oleh Gereja Katolik Roma.
Melihat
panorama sejarah yang terjadi saat itu, Weil tidak hanya menjadi saksi buta. Ia
mempelajari bahasa, sejarah dan agama mereka yang telah meninggal. Beberapa
tulisannya muncul dari studinya terhadap tradisi-tradisi agama dan filsafat, dan
diterbitkan dalam jurnal Cahiers du Sud.
Dalam Cahiers du Sud, Weil menulis
dengan sangat positif mengenai pertemuan-pertemuan Gerakan Pekerja Kristen Muda
(Young Christen Workers’ Movement)
yang dihadirinya. Dalam pertemuan itu, keterlibatannya dengan gerakan-gerakan
para pekerja sebelumnya, dan minat religiusnya yang berkembang, dipadukan. Dia antara
orang-orang Kristen Muda ini, tulisnya, “Kristianitas mempunyai gema yang
murni; yaitu sesuatu yang dulu memberikan kemerdekaan supernatural kepada para
budak”.
Di
Marseilles sikap Weil terhadap Kristianitas dan Gereja resmi menjadi mantap.
Hubungan Weil dengan Kristianitas bersifat mendua – tetapi mendua dalam
kemantapan. Weil melihat dirinya sebagai seorang Kristen, tetapi merasa bahwa
ia tidak dapat dibaptis dan bergabung dengan Gereja. Ia pun tidak pernah ragu
dengan pendapat-pendapat yang dikembangkannya di Marseilles. Di Marseilles,
Weil bertemu dengan seorang pastor Katolik, beranama Pastor Perrin yang
integritas dan intelegensinya memadai untuk dijadikan lawan bicara dalam
memecahkan pertanyaaan seputar iman Kristen. Pastor Perrin adalah seorang
Dominikan di Marseilles. Perjumpaannya dengan Pastor Perrin membantu Weil memahami
makna iman Kristiani. Weil meragukan makna baptis. Dari pembicaraannya dengan Pastor
Perrin, Weil menyimpulkan bahwa meskipun ia melihat dirinya sebagai orang
Kristen, ia tidak dapat dibaptis dalam suatu Gereja yang mengakui begitu banyak
paham iman yang secara nurani tidak dapat disetujuinya. Akan tetapi, Weil tidak
pernah menghasut orang lain agar menjadi sepertinya – bahkan ia menasihati
saudaranya agar membaptiskan anaknya, dan uniknya sewaktu di London ia pernah
meminta kepada seorang teman untuk mengatur pembaptisannya jika suatu saat ia
mengalami koma. Meskipun kelihatannya adanya kontadiksi sikap Weil terhadap
pembaptisan ke dalam Gereja Katolik, kenyataannya ia idak pernah dibaptis.
Weil
adalah seorang pemikir yang berwatak keras. Ia prinsipil dengan segala komitmen
hidup yang ia janjikan dalam hidupnya. Hal ini nampak dalam ringkasan mengenai
kehidupannya dengan awam Katolik yang saleh, Gustave Thibon, seorang petani
anggur di St. Marcel d’Ardeche di tepi sungai Rhone. Weil bekerja untuknya
selama musim panen anggur. Meskipun Thibon menawarinya akomodasi di ruamahnya,
Weil bersikeras untuk tinggal di suatu penginapan bobrok di dekatnya. Selama
bekerja bersama Thibon, Weil mendapat input menyenangkan, di mana ia berhasil
mendaraskan doa Bapa Kami dalam bahasa Yunani asli. Kadang-kadang selama
pendarasan Bapa Kami, ia merasa Kristus hadir padanya,
“Kehadiran-Nya.........terasa
sangat nyata, lebih menyentuh, lebih jelas daripada kehadiran-Nya pada
kesempatan pertama sewaktu Ia menguasaiku” (WG 28).
Kecendrungan
gaya hidup asketis selalu menjadi salah satu sifat Weil. Selama ia berada di
Marseilles, kecendrungan ini berubah menjadi suatu obsesi. Seorang teman baru,
seorang dokter kapal bernama Bercher khawatir akan hal itu. Ia pun memberitahu
Pastor Perrin bahwa bagi Weil, makan merupakan hal yang hina dan menjijikkan.
Weil tersentuh dengan pengalaman seorang biarawati Benediktin – saudari Pastor
Perrin – yang tidak makan dalam jangka waktu yang lama, dan hanya menyantap
ekaristi. Pengalaman ini membuatnya mogok makan sebagai bentuk sumbangannya
akan mereka yang kelaparan di kamp penjara Nazi.
Setelah
dua tahun, tetapi terasa seperti seumur hidup, keluarga Weil diberi izin
meninggalkan Prancis. Masa di Prancis Vichy telah menjadi sangat produktif bagi
Weil, di mana antara 1940 – 1942, Weil telah menulis banyak karangan
diantaranya Intimations of Christiantiy
among the Ancient Greeks, Gravity and
Grace, dan telah menulis dengan lengkap menggenai Languedoc, sastra dan
agamanya. Sebelum keberangkatannya menuju New York Amerika Serikat, ia
memberikan catatan-catatannya kepada Gustave Thibon, dan Spiritual Autobographynya
kepada Pastor Perrin. Dalam perjalanan menuju pelabuhan, Weil merasa terharu
dan simpati terhadap praktik-praktik religius orang Yahudi di salah satu kamp
tahanan.
Tanggal
6 Juli 1942, Weil dan keluarganya tiba di New York, Amerika. Di New York, Weil terus
‘menggangu’ pastor setempat mengenai dialog batinnya sehubungan dengan
pembaptisan, dan menulis surat kepada seorang pastor – dalam Gateway of God – yang berisi apa yang
telah diberitahukannya sebelumnya dengan Pastor Perrin tentang keraguannya.
Semangat Weil untuk menumpas kejahatan dan ketidakadilan di Eropa tetap
menggelora. Bahkan di New York, ia bersama temannya, Somone Deitz, berusaha
untuk membangun sebuah misi terbilang ekstrim, yakni ikut bergabung dalam
angkatan kemerdekaan Prancis. Keduanya berusaha agar mereka mendapat izin ke
London. Dan akhirnya diberi kesempatan ke London.
Di
London, Weil merasa kesulitan untuk mnghampiri kamp pengungsian. Hal ini
diakibatkan oleh hubungan purba Weil dengan komunis. Akan tetapi, Weil selalu
mendapat kesempatan untuk meloloskan prospeknya. Berkat kejeniusannya sewaktu
menjadi mahasiswa, ia pun kemudian dapat berjumpa dengan sahabat lamanya,
Murice Schumann – yang kemudian menjadi Mentri Luar Negeri pemerintahan de Gaulle. Murice kemudian menempatkan
Weil pada posisi yang strategis, yakni pada jajaran mereka yang bekerja untuk
kemerdekaan Prancis. Weil diizinkan tinggal di Holland Park, London Barat,
dengan seorang janda dan dua anaknya. Weil begitu menikmati budaya Inggris.
Namun, ia tidak pernah jatuh pada pengaruh untuk bersenang-senang. Weil sealalu
fokus pada komitmen yang dibangunnya. Di London, Weil tidak pernah
beristirahat. Di sana ia melanjutkan studi teologinya, dan tidur beberapa jam
tiap malam. Orang-orang di sekitarnya khawatir akan keadaan Weil, namun ia
menjawab bahwa ia tidak dapat makan selagi mereka yang berada di Prancis
pendudukan mati kelaparan.
Schumann
mengusahakan pekerjaan bagi Weil di Kementrian Dalam Negeri Pemerintahan
sementara di Komisariat untuk Prancis.
Di sana, atasannya, Calson, memberinya pekejaan untuk melaporkan seluruh
dokumen yang datang dari Prancis yang berhubungan dengan politik. Weil bertugas
meringkas laporan yang diberikan kelompok-kelompok perlawanan mengenai bentuk
politik Prancis setelah perang. Ia cocok untuk tugas itu, akan tetapi hatinya
tidak menghendakinya. Ide nakalnya untuk menempatkan dirinya bersama para
perawat di lini depan pertempuran terus ditolak oleh de Gaulle. Sebagai bagian dari kerjanya di Kemenrian Dalam Negeri,
Weil diminta memberi perhatian pada dasar filosofis bagi Konstitusi Prancis
setelah perang. Hal ini mendorongnya menghasilkan tulisan-tulisan seperti On Human Personality, Draft for Statement of
Human Obligations, dan sebuah buku yang panjang The Need for Roots. Tulisan-tulisan adalah senjata untuk mengusir
Nazi Jerman dari Prancis.
Oleh
karena banyak harapan yang tak terpenuhi, Weil merasa sedih dan kondisi
fisiknya mulai melemah. Pada bulan April 1943, Deitz menemukannya tergeletak
lesu di tempat tinggalnya. Ia dibawa ke Rumah Sakit Middlesex. Dokternya
mendiagnosis tubercolosis, tetapi Weil dengan keras kepala menolak perawatan.
Ia juga menolak makan, karena keprihatinannya akan mereka yang kelaparan di
Prancis. Ia merasa sedih atas penolakan dari atasannya akan semangatnya pergi
ke Prancis. Hal yang membuatnya semakin frustrasi adalah ulah para pejabat
Prancis Merdeka, yang bersemangat memenangkan perang tanpa memikirkan apa yang
akan terjadi sesudahnya. Weil pun mengundurkan diri dari gerakan Prancis
Merdeka pada bulan Juli.
Sebenarnya
keadaan fisik Weil tidak begitu mengancam hidupnya, akan tetapi karena pola
makannya yang terbiasa dengan jatah yang sangat sedikit, maka ia terserang
gangguan pencernaan, dan hal itu membuatnya tidak mampu menyerap kalori yang
memadai untuk memperbaiki kondisi tubuhnya. Wataknya yang keras, selalu menjadi
sesuatu yang merusak hubungannya dengan mereka yang bertugas merawatnya. Kerap
kali ia berseteru dengan para perawat yang membuatnya harus dipindahkan ke
Sanatorium Grosvenor di Asford, Kent. Masa-masa kritisnya dilaluinya di Asford.
Impiannya untuk pergi ke Prancis tidak pernah terwujud. Akhirnya Weil meninggal
pada tanggal 24 Agustus 1943. Tiga hari kemudian tim otopsi melaporkan bahwa ia
meniggal karena,
“.....gagal
jantung karena tuberkolosis yang menyerang jantung dan paru-paru. Almarhumah
sendiri yang membunuh dan membinasakan dirinya dengan menolak makan sementara
keseimbangan pikirannya terganggu”.
Simone
Weil meninggal diusia 34 tahun. Penilaian akan dirinya dilihat dari dua
kriteria, yakni integritas pemikiran dan tindakannya, serta hasil dari apa yang
ditulisnya. Tulisan Weil berkembang dari pengalaman pribadinya. Pengalaman
sakit dan penderitaan yang menghampirinya membuka wawasannya akan cara berpikir
kritis. Pengalaman mistiknya membentuk bahan dasar bagi pikiran kreatifnya
dalam memahami Kasih Allah. Pengalaman membawanya pada ide-ide, dan ia berjuang
untuk membawa ide-idenya ke dalam praksis. Kehidupan menunjukkan kepada kita
model betapa bernilai hasil-hasilnya bila tangan dan pikiran berkolaborasi.
Weil berulangkali menekankan bahwa penderitaan tidak pernah boleh dicari,
sementara kemalangan harus dirangkul bila hal itu datang sebagai jalan bertemu
dengan Allah. Weil menarik kesejajajran antara kebenaran yang termuat dalam
mitos Yunani Kuno mengenai Prometheus dan penderitaan Kristus,
“Allahku,
Alahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Di sana kita mempunyai bukti autentik
bahwa Kristianitas benar-benar ilahi” (GG 79). “Dunia
ini merupakan pintu tertutup, dunia lebih merupakan rintangan. Bersamaan dengan
itu, dunia menjadi jalan tembus” (GG 132). “Allah
melewati batas tebal dunia untuk menemui kita” (GG 82).
Teologi
Weil mempunyai konsep sentral bahwa ada kenyataan di luar kenyataan fisik dunia
ini, dan bahwa kenyataan lebih itu harus menjadi tujuan manusia yang
sesungguhnya. Adapun karya-karya Simone Weil antara lain Gateway to God (Kasih Allah), Gravity
and Grace (catatan pelbagai masalah), Intimations
of Christianity among the Ancient Greeks (tragedi dan Filsafat Yunani
Kuno), The Need for Roots (tentang
Masyarakat) dan Waiting on God
(Spiritual Biografi).
Karya-karya
lain Simone Weil antara lain First and Last
Notebooks, Formative Writings, Lectures in Philosophy, the Notebooks of Simone
Weil, On Science, Necessity and the Love of God, Oppressoin and Liberty,
Selected Essays, and Seventy Letters.
Disadur
dari Buku Seri Tokoh Pemikir Kristen:
Plant,
Stephen, 2001, Simone Weil, Kanisius,
Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar