Senin, 09 November 2015

Simone Weil: Sang Profesor yang Mogok Makan

SIMONE WEIL: PROFESOR PRANCIS YANG MOGOK MAKAN SAMPAI MATI
Oleh Roberth Cristianto Naku

Perkembangan kehidupan Gereja dan pemikiran Kristen tidak pernah terlepas dari tokoh perempuan. Teologi Kristen dan Kristianitas tidak selalu mudah untuk mengakui kontribusi khusus yang diberikan oleh perempuan. Baru di abad XX, kita menyaksikan perkembangan pengakuan terhadap perempuan dalam kehidupan Gereja dan pemikiran Kristen. Kontribusi Weil dalam kehidupan Gereja menunjukkan arti penting Weil bagi teologi Kristen. Weil tidak pernah dibaptis. Beberapa tulisannya pun menyimpang dari ajaran iman Kristiani – pandangannya yang mendukung orang-orang Albigensan. Namun, dibalik semuanya itu, Weil adalah seorang perempuan yang sangat berkomitmen dalam hidup. Ia adalah seorang perempuan yang memiliki visi yang kuat – impian untuk menempatkan dirinya di baris paling depan pasukan perang Prancis merdeka, bergabung dalam suatu gerakan anti-Fasis di Spanyol, dll – walaupun kadang impiannya tidak semuanya tercapai.
            Simone Weil lahir di Paris pada tanggal 3 Februari 1909. Ayah Weil adalah seorang dokter umum. Ibunya, meski tidak terdidik dalam dunia kedokteran – karena ayahnya tidak mengizinkannya – tahu hampir sebanyak suaminya mengenai duniakarena telah bekerja begitu dekat dengannya selama bertahun-tahun. Kedua orang tua Weil adalah Yahudi, namun mereka tidak pernah mempraktikkan hidup keagamaan Yahudi. Ateisme dr. Weil – sebagai reaksi terhadap kesalehan ibunya – sangat berpengaruh pada anak mereka Simone Weil; dan ini yang akan membuktikan pemikiran Simone Weil yang anti-Yahudi di kemudian hari. Dalam suratnya yang ditulis pada tahun 1940, Simone Weil menjelaskan perasaannya mengenai darah ke-Yahudian-nya. Simone Weil lebih memandang darah ke-Yahudian-nya hanya dalam konteks anggota ras tertentu – “Aku tidak memiliki alasan untuk berpendapat bahwa aku mempunyai hubungan apa pun, baik melalui ayah atau ibuku, dengan orang-orang yang hidup di Palestina dua ribu tahun yang lalu” – daripada sebagai pengikut agama tertentu – “Aku tidak pernah memasuki sinagoga dan aku tidak pernah menyaksikan suatu upacara agama Yahudi”.
            Simone Weil tumbuh dalam asupan keluarga yang sederhana. Kehidupan keluarga Weil selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain (nomaden) akibat peran sang ayah sebagai dokter tentara saat itu. Hal ini tentunya membuat Weil kecil jarang berhubungan dengan teman-teman sezamannya. Sebaliknya, masa kanak-kanaknya normal, bahkan biasa, sampai suatu saat di usianya yang ketiga tahun ia harus mengalami operasi usus buntu. Saudara Simone, Andre – saudara satu-satunya yang lahir tiga tahun sebelumnya – sangatlah cerdas, dan Simone merasa bukan apa-apanya. Sebagai seorang dewasa ia menulis:
            Anugerah-anugerah istimewa saudaraku, yang mempunyai masa kanak-kanak dan remaja seperti Pascal (matematikus dan filosof Prancis) membuatku merasa tak berarti (WG 21).
            Sejak masa remajanya, Weil telah memutuskan untuk memilih filsafat daripada matematika sebagai spesialis akademisnya ke depan. Pada umur 16 tahun pada tahun 1925, ia mendaftar pada Lycee Henri IV yang ternama di mana ia belajar bahasa Prancis, Inggris, Sejarah dan Filsafat. Salah seorang pengikut sekaligus sahabatnya, Simone Petrement berpendapat bahwa Simone Weil adalah perempuan cerdas dengan watak yang baik. Guru filsafat Weil di Lycee adalah Emile Chartier. Darinya Weil belajar bagaimana menerapkan ide-idenya dengan jelas dan ringkas.         
            Pada tahun 1927 – meskipun ia menduduki tingkat pertama dalam ujian tingkat Filsafat di Sorbonne – ia gagal pada ujian masuk ke Ecole Normale Superieure yang sangat kompetetif, dan hal itu membuatnya terpaksa belajar lebih giat sebelum lulus setahun kemudian. Weil belajar di sana dari tahun 1928 sampai 1931. Pada tahun 1930, karena serangan sinusitis, Weil mulai megalami sakit. Pada bulan Juli 1931, Weil memenuhi syarat sebagai guru dan mengajukan sebuah disertasi yang diperpanjang mengenai Science and Perception dalam karya filosof Prancis Rena Descartes (1596 – 1650). Tahun-tahunnya di Paris 1925 – 1931 merupakan periode di mana Weil terlibat secara mendalam dalam refleksi dan kegiatan politik. Peran Weil juga menembus problem pengangguran di negaranya saat itu. Jatuhnya Wall Street di Amerika, menghancurkan khayalan akan kemakmuran ekonomi seluruh dunia. Getarannya pun membentur Prancis, di mana pekerja-pekerjanya menghadapi pengangguran besar-besaran dan berimbas pada keadaan kerja yang semakin memburuk.
            Weil juga berperan penting dalam upaya revolusi kelas pekerja di Jerman. Ia yakin bahwa karena heroisme bersifat individual, kelas-kelas pekerja tidak dapat bersatu untuk mencapai suatu tujuan. Teori-teori politik Weil yang telah berkembang penuh ditemukan dalam Oppression and Liberty, suatu koleksi esai yang diterbitkan setelah kematiannya. Sejak tahun 1934, Weil menjadi yakin bahwa alasan pemimpin sosialis begitu terpisah jauh dari kaum pekerjanya adalah karena tak seorang pun dari mereka yang mengetahui bagaimana rasanya bekerja di sebuah pabrik. Oleh karena itu, ia mencebur dalam dunia para buruh dan mulai bekerja di pabrik Alsthom di Paris. Selama liburan musim panasnya, Weil melakukan perjalanan ke Spanyol dan Portugal dengan orang tuanya. Suatu saat ketika berjalan-jalan di sebuah dusun kecil di Portugal, hati Weil merasa sedih mendengar kumandang nyanyian yang menyentuh hati. Untuk itu, ia menulis:
 “.......keyakinan tiba-tiba lahir dalam diriku bahwa Kristianitas terutama adalah agama para budak, bahwa para budak tidak dapat tidak menjadi bagiannya, dan akulah salah satunya” (WG 24)
Ketika berusia 27 tahun, Weil kembali mengajar Filsafat di Bourges. Ia mambangun hubungan yang baik dengan tuan Bernard, seorang manajer pabrik, dengan memberikan pelbagai saran kepadanya tentang bagaimana menjalankan sebuah pabrik. Semangat emansipatif Weil pun semakin membara. Kehausannya akan sebuah masalah membawanya ke Spanyol, di mana perang saudara meletus antara kaum fasis dan koalisi kaum komunis, sosialis, dan anti-fasis. Ia melakukan perjalanan ke Barcelona di mana ia mendaftarkan diri pada pihak anti-fasis sebagai anggota Milisi Anarkis. Ia bahkan bersedia untuk misi-misi berbahaya, namun karena kurang berpengalaman mambuat ia canggung dan akhirnya gagal.
Pengalaman sebagai pekerja pabrik dan keterlibatannya yang singkat dalam Perang Saudara di Spanyol membuat ia berefleksi secara mendalam mengenai agama. Pada tahun 1937 dan 1938, kehidupan Weil berbalik secara dramatis. Pengalaman keterlibatan dengan situasi pekerja pabrik dan berjuang dalam perang membuatnya terbuka terhadap beberapa perjumpaan spiritual yang mendalam dengan Kristianitas. Dalam suatu kunjungannya ke Asisi pada tahun 1937, sesuatu yang lebih kuat daripada kehendaknya sendiri memaksanya untuk pertama kalinya berlutut dalam doa. Selama setahun, ia menghabiskan Pekan Sucinya di pertapaan Benediktin Solesmes. Kedekatan Weil pada hal-hal spiritual mulai mendorongnya ketika seorang pemuda Inggris beragama Katolik membimbingnya untuk merenungkan kekuatan religius sakramen-sakramen. Pemuda itu memperkenalkan Weil sebuah puisi George Herbert, seorang penyair Inggris abad XVI, mengenai Kasih Allah. Puisi ini pun dihafalnya sewaktu derita menghampirinya. Belakangan ia menulis:
“Seperti yang sudah kukatakan, sewaktu pendarasan berulang-ulang inilah, Kristus sendiri datang dan memilikiku” (WG 25).
Pengalaman-pengalaman mistik di atas mengakibatkan Weil berpikir ulang mengenai tema-tema religius dan teologis. Weil sangat mengecam kekejaman Nazi yang berkuasa saat itu. Menurutnya, Nazi sejajar dengan Roma Kuno dalam invansinya. Hitler baginya adalah sosok pemimpin yang telah belajar meniru orang-orang Roma. Layaknya orang Roma yang bukan hanya percaya bahwa mereka merupakan ras tertinggi, mereka juga benar-benar kejam dalam penguasaan kota-kota dan kebudayaan-kebudayaan lain.
Pada tahun 1940, Weil mulai membaca Kitab Suci Hindu, khususnya Bhagavadgita. Bagi Weil, naskah klasik ini tidak bertentangan tetapi melengkapi Kristianitas. Pengasingan Weil bersama keluarganya ke Marseilles pada bulan September 1940 mengawali perjumpaan barunya dengan para penerus bidaah Gereja Kristen awal. Di Marseilles mereka berkenalan dengan sebuah bahasa khas daerah itu, yakni Languedoc. Daerah itu ditandai dengan jelas oleh agama khas, Chatarisme, yang penganut-penganutnya di Languedoc  dikenal sebagai orang-orang Albigensian. Agama ini merupakan generasi penerus bidaah Gereja Kristen awal, di mana pengikutnya percaya bahwa hidup dikuasai oleh konflik antara kekuatan yang baik dan jahat. Yesus dilihat sebagai pemberontak terhadap kekejaman Allah Perjanjian Lama. Pada tahun 1208, pemberantasan dilancarkan terhadap orang-orang Albigensian oleh Gereja Katolik Roma.
Melihat panorama sejarah yang terjadi saat itu, Weil tidak hanya menjadi saksi buta. Ia mempelajari bahasa, sejarah dan agama mereka yang telah meninggal. Beberapa tulisannya muncul dari studinya terhadap tradisi-tradisi agama dan filsafat, dan diterbitkan dalam jurnal Cahiers du Sud. Dalam Cahiers du Sud, Weil menulis dengan sangat positif mengenai pertemuan-pertemuan Gerakan Pekerja Kristen Muda (Young Christen Workers’ Movement) yang dihadirinya. Dalam pertemuan itu, keterlibatannya dengan gerakan-gerakan para pekerja sebelumnya, dan minat religiusnya yang berkembang, dipadukan. Dia antara orang-orang Kristen Muda ini, tulisnya, “Kristianitas mempunyai gema yang murni; yaitu sesuatu yang dulu memberikan kemerdekaan supernatural kepada para budak”.
Di Marseilles sikap Weil terhadap Kristianitas dan Gereja resmi menjadi mantap. Hubungan Weil dengan Kristianitas bersifat mendua – tetapi mendua dalam kemantapan. Weil melihat dirinya sebagai seorang Kristen, tetapi merasa bahwa ia tidak dapat dibaptis dan bergabung dengan Gereja. Ia pun tidak pernah ragu dengan pendapat-pendapat yang dikembangkannya di Marseilles. Di Marseilles, Weil bertemu dengan seorang pastor Katolik, beranama Pastor Perrin yang integritas dan intelegensinya memadai untuk dijadikan lawan bicara dalam memecahkan pertanyaaan seputar iman Kristen. Pastor Perrin adalah seorang Dominikan di Marseilles. Perjumpaannya dengan Pastor Perrin membantu Weil memahami makna iman Kristiani. Weil meragukan makna baptis. Dari pembicaraannya dengan Pastor Perrin, Weil menyimpulkan bahwa meskipun ia melihat dirinya sebagai orang Kristen, ia tidak dapat dibaptis dalam suatu Gereja yang mengakui begitu banyak paham iman yang secara nurani tidak dapat disetujuinya. Akan tetapi, Weil tidak pernah menghasut orang lain agar menjadi sepertinya – bahkan ia menasihati saudaranya agar membaptiskan anaknya, dan uniknya sewaktu di London ia pernah meminta kepada seorang teman untuk mengatur pembaptisannya jika suatu saat ia mengalami koma. Meskipun kelihatannya adanya kontadiksi sikap Weil terhadap pembaptisan ke dalam Gereja Katolik, kenyataannya ia idak pernah dibaptis.
Weil adalah seorang pemikir yang berwatak keras. Ia prinsipil dengan segala komitmen hidup yang ia janjikan dalam hidupnya. Hal ini nampak dalam ringkasan mengenai kehidupannya dengan awam Katolik yang saleh, Gustave Thibon, seorang petani anggur di St. Marcel d’Ardeche di tepi sungai Rhone. Weil bekerja untuknya selama musim panen anggur. Meskipun Thibon menawarinya akomodasi di ruamahnya, Weil bersikeras untuk tinggal di suatu penginapan bobrok di dekatnya. Selama bekerja bersama Thibon, Weil mendapat input menyenangkan, di mana ia berhasil mendaraskan doa Bapa Kami dalam bahasa Yunani asli. Kadang-kadang selama pendarasan Bapa Kami, ia merasa Kristus hadir padanya,
“Kehadiran-Nya.........terasa sangat nyata, lebih menyentuh, lebih jelas daripada kehadiran-Nya pada kesempatan pertama sewaktu Ia menguasaiku” (WG 28).
Kecendrungan gaya hidup asketis selalu menjadi salah satu sifat Weil. Selama ia berada di Marseilles, kecendrungan ini berubah menjadi suatu obsesi. Seorang teman baru, seorang dokter kapal bernama Bercher khawatir akan hal itu. Ia pun memberitahu Pastor Perrin bahwa bagi Weil, makan merupakan hal yang hina dan menjijikkan. Weil tersentuh dengan pengalaman seorang biarawati Benediktin – saudari Pastor Perrin – yang tidak makan dalam jangka waktu yang lama, dan hanya menyantap ekaristi. Pengalaman ini membuatnya mogok makan sebagai bentuk sumbangannya akan mereka yang kelaparan di kamp penjara Nazi.
Setelah dua tahun, tetapi terasa seperti seumur hidup, keluarga Weil diberi izin meninggalkan Prancis. Masa di Prancis Vichy telah menjadi sangat produktif bagi Weil, di mana antara 1940 – 1942, Weil telah menulis banyak karangan diantaranya Intimations of Christiantiy among the Ancient Greeks, Gravity and Grace, dan telah menulis dengan lengkap menggenai Languedoc, sastra dan agamanya. Sebelum keberangkatannya menuju New York Amerika Serikat, ia memberikan catatan-catatannya kepada Gustave Thibon, dan Spiritual Autobographynya kepada Pastor Perrin. Dalam perjalanan menuju pelabuhan, Weil merasa terharu dan simpati terhadap praktik-praktik religius orang Yahudi di salah satu kamp tahanan.
Tanggal 6 Juli 1942, Weil dan keluarganya tiba di New York, Amerika. Di New York, Weil terus ‘menggangu’ pastor setempat mengenai dialog batinnya sehubungan dengan pembaptisan, dan menulis surat kepada seorang pastor – dalam Gateway of God – yang berisi apa yang telah diberitahukannya sebelumnya dengan Pastor Perrin tentang keraguannya. Semangat Weil untuk menumpas kejahatan dan ketidakadilan di Eropa tetap menggelora. Bahkan di New York, ia bersama temannya, Somone Deitz, berusaha untuk membangun sebuah misi terbilang ekstrim, yakni ikut bergabung dalam angkatan kemerdekaan Prancis. Keduanya berusaha agar mereka mendapat izin ke London. Dan akhirnya diberi kesempatan ke London.
Di London, Weil merasa kesulitan untuk mnghampiri kamp pengungsian. Hal ini diakibatkan oleh hubungan purba Weil dengan komunis. Akan tetapi, Weil selalu mendapat kesempatan untuk meloloskan prospeknya. Berkat kejeniusannya sewaktu menjadi mahasiswa, ia pun kemudian dapat berjumpa dengan sahabat lamanya, Murice Schumann – yang kemudian menjadi Mentri Luar Negeri pemerintahan de Gaulle. Murice kemudian menempatkan Weil pada posisi yang strategis, yakni pada jajaran mereka yang bekerja untuk kemerdekaan Prancis. Weil diizinkan tinggal di Holland Park, London Barat, dengan seorang janda dan dua anaknya. Weil begitu menikmati budaya Inggris. Namun, ia tidak pernah jatuh pada pengaruh untuk bersenang-senang. Weil sealalu fokus pada komitmen yang dibangunnya. Di London, Weil tidak pernah beristirahat. Di sana ia melanjutkan studi teologinya, dan tidur beberapa jam tiap malam. Orang-orang di sekitarnya khawatir akan keadaan Weil, namun ia menjawab bahwa ia tidak dapat makan selagi mereka yang berada di Prancis pendudukan mati kelaparan.
Schumann mengusahakan pekerjaan bagi Weil di Kementrian Dalam Negeri Pemerintahan sementara di Komisariat untuk Prancis.  Di sana, atasannya, Calson, memberinya pekejaan untuk melaporkan seluruh dokumen yang datang dari Prancis yang berhubungan dengan politik. Weil bertugas meringkas laporan yang diberikan kelompok-kelompok perlawanan mengenai bentuk politik Prancis setelah perang. Ia cocok untuk tugas itu, akan tetapi hatinya tidak menghendakinya. Ide nakalnya untuk menempatkan dirinya bersama para perawat di lini depan pertempuran terus ditolak oleh de Gaulle. Sebagai bagian dari kerjanya di Kemenrian Dalam Negeri, Weil diminta memberi perhatian pada dasar filosofis bagi Konstitusi Prancis setelah perang. Hal ini mendorongnya menghasilkan tulisan-tulisan seperti On Human Personality, Draft for Statement of Human Obligations, dan sebuah buku yang panjang The Need for Roots. Tulisan-tulisan adalah senjata untuk mengusir Nazi Jerman dari Prancis.
Oleh karena banyak harapan yang tak terpenuhi, Weil merasa sedih dan kondisi fisiknya mulai melemah. Pada bulan April 1943, Deitz menemukannya tergeletak lesu di tempat tinggalnya. Ia dibawa ke Rumah Sakit Middlesex. Dokternya mendiagnosis tubercolosis, tetapi Weil dengan keras kepala menolak perawatan. Ia juga menolak makan, karena keprihatinannya akan mereka yang kelaparan di Prancis. Ia merasa sedih atas penolakan dari atasannya akan semangatnya pergi ke Prancis. Hal yang membuatnya semakin frustrasi adalah ulah para pejabat Prancis Merdeka, yang bersemangat memenangkan perang tanpa memikirkan apa yang akan terjadi sesudahnya. Weil pun mengundurkan diri dari gerakan Prancis Merdeka pada bulan Juli.
Sebenarnya keadaan fisik Weil tidak begitu mengancam hidupnya, akan tetapi karena pola makannya yang terbiasa dengan jatah yang sangat sedikit, maka ia terserang gangguan pencernaan, dan hal itu membuatnya tidak mampu menyerap kalori yang memadai untuk memperbaiki kondisi tubuhnya. Wataknya yang keras, selalu menjadi sesuatu yang merusak hubungannya dengan mereka yang bertugas merawatnya. Kerap kali ia berseteru dengan para perawat yang membuatnya harus dipindahkan ke Sanatorium Grosvenor di Asford, Kent. Masa-masa kritisnya dilaluinya di Asford. Impiannya untuk pergi ke Prancis tidak pernah terwujud. Akhirnya Weil meninggal pada tanggal 24 Agustus 1943. Tiga hari kemudian tim otopsi melaporkan bahwa ia meniggal karena,
“.....gagal jantung karena tuberkolosis yang menyerang jantung dan paru-paru. Almarhumah sendiri yang membunuh dan membinasakan dirinya dengan menolak makan sementara keseimbangan pikirannya terganggu”.              
Simone Weil meninggal diusia 34 tahun. Penilaian akan dirinya dilihat dari dua kriteria, yakni integritas pemikiran dan tindakannya, serta hasil dari apa yang ditulisnya. Tulisan Weil berkembang dari pengalaman pribadinya. Pengalaman sakit dan penderitaan yang menghampirinya membuka wawasannya akan cara berpikir kritis. Pengalaman mistiknya membentuk bahan dasar bagi pikiran kreatifnya dalam memahami Kasih Allah. Pengalaman membawanya pada ide-ide, dan ia berjuang untuk membawa ide-idenya ke dalam praksis. Kehidupan menunjukkan kepada kita model betapa bernilai hasil-hasilnya bila tangan dan pikiran berkolaborasi. Weil berulangkali menekankan bahwa penderitaan tidak pernah boleh dicari, sementara kemalangan harus dirangkul bila hal itu datang sebagai jalan bertemu dengan Allah. Weil menarik kesejajajran antara kebenaran yang termuat dalam mitos Yunani Kuno mengenai Prometheus dan penderitaan Kristus,
“Allahku, Alahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Di sana kita mempunyai bukti autentik bahwa Kristianitas benar-benar ilahi” (GG 79). “Dunia ini merupakan pintu tertutup, dunia lebih merupakan rintangan. Bersamaan dengan itu, dunia menjadi jalan tembus” (GG 132). “Allah melewati batas tebal dunia untuk menemui kita” (GG 82).
Teologi Weil mempunyai konsep sentral bahwa ada kenyataan di luar kenyataan fisik dunia ini, dan bahwa kenyataan lebih itu harus menjadi tujuan manusia yang sesungguhnya. Adapun karya-karya Simone Weil antara lain Gateway to God (Kasih Allah), Gravity and Grace (catatan pelbagai masalah), Intimations of Christianity among the Ancient Greeks (tragedi dan Filsafat Yunani Kuno), The Need for Roots (tentang Masyarakat) dan Waiting on God (Spiritual Biografi).
Karya-karya lain Simone Weil antara lain First and Last Notebooks, Formative Writings, Lectures in Philosophy, the Notebooks of Simone Weil, On Science, Necessity and the Love of God, Oppressoin and Liberty, Selected Essays, and Seventy Letters.



Disadur dari Buku Seri Tokoh Pemikir Kristen:

Plant, Stephen, 2001, Simone Weil, Kanisius, Yogyakarta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar