HUMANISME
MERKELIAN
Oleh
Roberth Kristianto Naku
Mahasiswa
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
Berkat perjuangannya akan kebenaran atas kaum sophists
yang mengklaim ‘yang benar adalah tidak ada kebenaran’, Sokrates dinobatkan
sebagai Bapak Kebijaksanaan. Indonesia mengenal sosok serupa, Munir sang
pejuang HAM. Hari ini, Jerman sedang menelurkan tokoh serupa yang jauh dari
paham rezim Hitler, Angela Merkel.
“Manusia
adalah sebuah pesoalan yang tidak pernah selesai dibicarakan”, kata filosof eksistensialis, Gabriel
Marcel (1889-1973). Perkembangan
dan kompleksitas problem humanisme tidak terlepas dari hakikat manusia sebagai
mahkluk dinamis, misteri, dan paradoksal. Dinamis, karena manusia itu
berkembang. Misteri, karena tidak pernah dipahami secara definitif. Sedangkan
paradoksal, karena semakin didalami, semakin dangkal pengetahuan kita. Tiga hakikat
manusia di atas, mengantar manusia sendiri pada perefleksian akan jati dirinya
yang sebenarnya.
Di era sign in dan sign out ini,
nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi dijunjung tinggi. Mulai dari phedofilia,
KDRT, cyber crime, pembantaian the innocent children, perang tak
kunjung usai, kejahatan genosida di Afrika, human trafficking,
merebaknya prostitusi, teroisme, ISIS, isu rasis, aksi anti imigran, joki
skripsi, kekerasan terhadap anak,
wacana
Islamophobia, serta menguatnya sikap
anti-imigran. Ini hanyalah sebagian daftar kekejian dan fakta bahwa manusia
tidak lagi manusiawi, yang berhasil direkam memori manusia abad ini. Pertanyaan
mendasar kaum humanis dalam perdebatannya dengan kaum skolastik – untuk apa
kita mengetahui dosa, jika setelah diketahui dosa itu tidak kita benci? - pun
dikemas kembali saat ini. Bagi kita sekarang pertanyaannya, “Untuk apa kita
memahami manusia, jika setelah diketahui, manusia itu tidak dicintai?”
Pebantaian di kantor majalah satire, Prancis, Charlie
Hebdo, (7 Januari
lalu), adalah problem kemanusiaan. Apa yang salah, siapa yang pantas
disalahkan, mengapa mereka yang harus menjadi korban, dan apa maksudnya?
Ketelanjangan masalah ini, melahirkan aneka macam penafsiran. Mungkin motif
personal pelaku, problem politik, agama, atau semacam skisofrenia peradaban?
Setiap orang bisa menafsir, merekam,
mendegar, membau, serta memuntahkan argumen. Reaksi niretik bisa saja
muncul, hanya karena memoria passion, atau emosi id yang spontan.
Hanya sedikit yang memakai hati dan nalar untuk mencerna persoalan ini. Hasilnya, banyak
yang menjadi tunaetik, menganggap kebaikan tidak ada, dari tetorispobia menuju
Islamophobia. Hal ini gamblang terjadi di sebagian Eropa.
Trending topic saat ini adalah hijrah para pencuari suaka
ke Eropa. Arus pencari suaka ini sulit dibendung, mengingat kuotanya yang
sangat membeludak. Kisah-kisah perjuangan para migran (pencari suaka) –
menyebrangi laut, menerobos batas, sekurity atas anggota keluarga, jaminan
kesehatan dan perjuangan untuk diwelcome
oleh penduduk setempat – mengetuk hati masyarakat dunia untuk berbuat sesuatu.
Setidaknya ada beberapa negara yang menutup mata atas kenyataan ini. Kecemasan
dan kecurigaan menggumpal di benak mereka yang menolak kehadiran para pencari
suaka ini. Hal ini tentu membuat prospek futuris pencari suaka sirna sejenak.
Akan tetapi, perjuanagan mereka tidak berhenti di situ. Dibidik suatu wilayah
di mana berlimpah susu, madu dan beriklim kondusif – Jerman. Jerman yang
anti-Yahudi (pembantaian massal rezim Hitler) atau Jerman yang inklusif (sosok
humanis kanselir Jerman, Angela Merkel)?
Gerakan anti imigrasi,
Warga
Eropa Patriot Menentang Islamisasi di Barat (PEGIDA), di Dresden Jerman, Kompas, Senin (12/1), seakan mencairkan
kembali ingatan publik akan kebrutalan rezim Hitler. Hitler adalah seorang
anti-Yahudi. Di antara bergelimang pertanyaan
soal hadirnya new Hitler, mucul tokoh humanis Kanselir Jerman, Angela Merkel. Merkel hadir
dengan menjinjing nilai-nilai luhur manusia. Ia bak the new Munir (Indonesia), atau Sokrates.
Merkel sepertinya lebih mengadopsi tradisi filosofis humanis pendahulunya,
yakni Immanuel Kant dan Jurgen Habermas, daripada tradisi absolutisme dan
tiranisme Hitlerian yang lebih mengedepankan kebalikan dari humanisme. Bagi
Merkel, hadir sebagai rival dan oposisi terhadap penentang imigran dan
islamisasi di Barat tidaklah mudah. Tindakan Merkel adalah sebuah praktik representatif dari Jerman yang berlandaskan toleransi, demokrasi
dan keterbukaan di kancah dunia.
“Jerman tidak memberi ruang buat kebencian, rasisme, dan ekstremisme”, kata
Merkel. Merkel lebih bersikap aktif, dengan mengajak publik untuk lebih empati
dan simpati terhadap persoalan kemanusiaan.
Sebagai negara yang demokratis dan mengedepankan
tolerasi, Merkel mengajak publik untuk mempraktikkan nilai-nilai luhur
kemanusiaan. Ia tidak ingin apa yang digagaskan dalam ideologi bangsanya tidak
pernah diperistiwakan. Humanisme Merkelian bukan retorika omong kosong atau
propagandis belaka, melainkan suatu keterlibatan – merasa empati dan
simpati terhadap masalah kemanusiaan dari makhluk yang bernama manusia.
Artinya, apa yang digagaskan tidak hanya sampai wacana (ortodoxy), namun harus dipraktikan (otopraxy). Demokratis: terbuka, termasuk menghormati imigran dan
memberikan kebebasan. Merkel tidak hanya menyerukan, tetapi juga merangkul kaum
imigran yang masuk ke wilayahnya. Bagi Merkel, apa yag disaksikan dunia atas
pembantaian di kantor majalah satire Charlie Hebdo, tidak boleh memendekan usaha kita untuk mencerna
persoalan lebih dalam. Pengelihatan tidak bisa memendekkan persentuhan. Oleh
karena itu, Merkel sehati dan senada dengan Paus Fransiskus menyerukan kepada
seluruh warga dunia agar membuka pintu dan memberikan tumpangan bagi para
imigran.
Apa
yang terjadi dengan Charlie Hebdo, belum tentu karena isu agama, atau
meningkatnya imigran – imigran tidak boleh dipotret sebagai biang problem. Malah
de facto, kini Merkel hadir sebagai
sosok survivor atas para pencari
suaka yang tengah hijrah dari Suriah dan sekitarnya menuju Eropa (Jerman). Bagi
Merkel archrival cinta sekarang
bukanlah benci, melainkan ketidakpeduliaan. Merkel membuka pintu, merangkul dan
merawat ‘orang asing’ di rumahnya. Mari kita belajar dari Merkel dan pejuang
humanis lainnya seperti Sokrates dan Munir yang mati demi menjunjung sisi
humanis dari mahkluk yang bernama manusia. Sosok pejuang seperti Merkel, juga
tokoh serupa – sosok Munir – adalah nafas pengharapan. Munir adalah pejuang
yang jejaknya sengaja mulai dilupakan. Muncul upaya “Menolak lupa!” Perang
melawan ketidakadilan yang ditelah dimulainya, seyogianya mampu menginspirasi
tokoh-tokoh lain di rumah kita (Indonesia).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar