Senin, 09 November 2015

Humanisme Merkelian

HUMANISME MERKELIAN
Oleh Roberth Kristianto Naku
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

            Berkat perjuangannya akan kebenaran atas kaum sophists yang mengklaim ‘yang benar adalah tidak ada kebenaran’, Sokrates dinobatkan sebagai Bapak Kebijaksanaan. Indonesia mengenal sosok serupa, Munir sang pejuang HAM. Hari ini, Jerman sedang menelurkan tokoh serupa yang jauh dari paham rezim Hitler, Angela Merkel.
            Manusia adalah sebuah pesoalan yang tidak pernah selesai dibicarakan”, kata filosof eksistensialis, Gabriel Marcel (1889-1973). Perkembangan dan kompleksitas problem humanisme tidak terlepas dari hakikat manusia sebagai mahkluk dinamis, misteri, dan paradoksal. Dinamis, karena manusia itu berkembang. Misteri, karena tidak pernah dipahami secara definitif. Sedangkan paradoksal, karena semakin didalami, semakin dangkal pengetahuan kita. Tiga hakikat manusia di atas, mengantar manusia sendiri pada perefleksian akan jati dirinya yang sebenarnya.  
            Di era sign in dan sign out ini, nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi dijunjung tinggi. Mulai dari phedofilia, KDRT, cyber crime, pembantaian the innocent children, perang tak kunjung usai, kejahatan genosida di Afrika, human trafficking, merebaknya prostitusi, teroisme, ISIS, isu rasis, aksi anti imigran, joki skripsi, kekerasan terhadap anak, wacana  Islamophobia, serta menguatnya sikap anti-imigran. Ini hanyalah sebagian daftar kekejian dan fakta bahwa manusia tidak lagi manusiawi, yang berhasil direkam memori manusia abad ini. Pertanyaan mendasar kaum humanis dalam perdebatannya dengan kaum skolastik – untuk apa kita mengetahui dosa, jika setelah diketahui dosa itu tidak kita benci? - pun dikemas kembali saat ini. Bagi kita sekarang pertanyaannya, “Untuk apa kita memahami manusia, jika setelah diketahui, manusia itu tidak dicintai?”
            Pebantaian di kantor majalah satire, Prancis, Charlie Hebdo, (7 Januari lalu), adalah problem kemanusiaan. Apa yang salah, siapa yang pantas disalahkan, mengapa mereka yang harus menjadi korban, dan apa maksudnya? Ketelanjangan masalah ini, melahirkan aneka macam penafsiran. Mungkin motif personal pelaku, problem politik, agama, atau semacam skisofrenia peradaban? Setiap orang bisa menafsir, merekam, mendegar, membau, serta memuntahkan argumen. Reaksi niretik bisa saja muncul, hanya karena memoria passion, atau emosi id yang spontan. Hanya sedikit yang memakai hati dan nalar untuk mencerna persoalan ini. Hasilnya, banyak yang menjadi tunaetik, menganggap kebaikan tidak ada, dari tetorispobia menuju Islamophobia. Hal ini gamblang terjadi di sebagian Eropa.
            Trending topic saat ini adalah hijrah para pencuari suaka ke Eropa. Arus pencari suaka ini sulit dibendung, mengingat kuotanya yang sangat membeludak. Kisah-kisah perjuangan para migran (pencari suaka) – menyebrangi laut, menerobos batas, sekurity atas anggota keluarga, jaminan kesehatan dan perjuangan untuk diwelcome oleh penduduk setempat – mengetuk hati masyarakat dunia untuk berbuat sesuatu. Setidaknya ada beberapa negara yang menutup mata atas kenyataan ini. Kecemasan dan kecurigaan menggumpal di benak mereka yang menolak kehadiran para pencari suaka ini. Hal ini tentu membuat prospek futuris pencari suaka sirna sejenak. Akan tetapi, perjuanagan mereka tidak berhenti di situ. Dibidik suatu wilayah di mana berlimpah susu, madu dan beriklim kondusif – Jerman. Jerman yang anti-Yahudi (pembantaian massal rezim Hitler) atau Jerman yang inklusif (sosok humanis kanselir Jerman, Angela Merkel)?
            Gerakan anti imigrasi, Warga Eropa Patriot Menentang Islamisasi di Barat (PEGIDA), di Dresden Jerman, Kompas, Senin (12/1), seakan mencairkan kembali ingatan publik akan kebrutalan rezim Hitler. Hitler adalah seorang anti-Yahudi. Di antara bergelimang pertanyaan soal hadirnya new Hitler, mucul tokoh humanis Kanselir Jerman, Angela Merkel. Merkel hadir dengan menjinjing nilai-nilai luhur manusia. Ia bak the new Munir (Indonesia), atau Sokrates. Merkel sepertinya lebih mengadopsi tradisi filosofis humanis pendahulunya, yakni Immanuel Kant dan Jurgen Habermas, daripada tradisi absolutisme dan tiranisme Hitlerian yang lebih mengedepankan kebalikan dari humanisme. Bagi Merkel, hadir sebagai rival dan oposisi terhadap penentang imigran dan islamisasi di Barat tidaklah mudah. Tindakan Merkel adalah sebuah praktik representatif dari Jerman yang berlandaskan toleransi, demokrasi dan keterbukaan di kancah dunia. “Jerman tidak memberi ruang buat kebencian, rasisme, dan ekstremisme”, kata Merkel. Merkel lebih bersikap aktif, dengan mengajak publik untuk lebih empati dan simpati terhadap persoalan kemanusiaan.
            Sebagai negara yang demokratis dan mengedepankan tolerasi, Merkel mengajak publik untuk mempraktikkan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Ia tidak ingin apa yang digagaskan dalam ideologi bangsanya tidak pernah diperistiwakan. Humanisme Merkelian bukan retorika omong kosong atau propagandis belaka, melainkan suatu keterlibatan – merasa empati dan simpati terhadap masalah kemanusiaan dari makhluk yang bernama manusia. Artinya, apa yang digagaskan tidak hanya sampai wacana (ortodoxy), namun harus dipraktikan (otopraxy). Demokratis: terbuka, termasuk menghormati imigran dan memberikan kebebasan. Merkel tidak hanya menyerukan, tetapi juga merangkul kaum imigran yang masuk ke wilayahnya. Bagi Merkel, apa yag disaksikan dunia atas pembantaian di kantor majalah satire Charlie Hebdo, tidak boleh memendekan usaha kita untuk mencerna persoalan lebih dalam. Pengelihatan tidak bisa memendekkan persentuhan. Oleh karena itu, Merkel sehati dan senada dengan Paus Fransiskus menyerukan kepada seluruh warga dunia agar membuka pintu dan memberikan tumpangan bagi para imigran. 

Apa yang terjadi dengan Charlie Hebdo, belum tentu karena isu agama, atau meningkatnya imigran – imigran tidak boleh dipotret sebagai biang problem. Malah de facto, kini Merkel hadir sebagai sosok survivor atas para pencari suaka yang tengah hijrah dari Suriah dan sekitarnya menuju Eropa (Jerman). Bagi Merkel archrival cinta sekarang bukanlah benci, melainkan ketidakpeduliaan. Merkel membuka pintu, merangkul dan merawat ‘orang asing’ di rumahnya. Mari kita belajar dari Merkel dan pejuang humanis lainnya seperti Sokrates dan Munir yang mati demi menjunjung sisi humanis dari mahkluk yang bernama manusia. Sosok pejuang seperti Merkel, juga tokoh serupa – sosok Munir – adalah nafas pengharapan. Munir adalah pejuang yang jejaknya sengaja mulai dilupakan. Muncul upaya “Menolak lupa!” Perang melawan ketidakadilan yang ditelah dimulainya, seyogianya mampu menginspirasi tokoh-tokoh lain di rumah kita (Indonesia).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar