Kamis, 26 November 2015

Ajahn Brahm dan Konsep Nibbida

AJAHN BRAHM DAN KONSEP NIBBIDA
Oleh Cristianto Naku


Potret Tokoh
Ajahn Brahm lahir di London pada tanggal 7 Agustus 1951. Ia lahir dari sebuah keluarga pekerja di London pada masa seusai Perang Dunia II dengan nama Peter Betts. Ayah Peter (Peter adalah panggilan kecil Ajahn Brahm) adalah seorang pemegang teguh kedisiplinan dalam keluarga[1]. Hal yang selalu didengungkan Piter sebagai bahan refleksinya – hingga di usia senjanya – adalah kata-kata sang ayah, “Nak, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu, tak peduli apapun yang kamu lakukan dalam hidup”. Kata-kata ini pula yang mendorong Ajahn Brahm untuk menulis bukunya yang berjudul “Opening The Door of Your Heart”[2]. Ajahn muda tergolong siswa yang pandai di sekolahnya dan sangat disiplin. Pada usia 16 tahun, Ajahn muda berhasil memenangkan hadiah akademik melalui hasil ujian O-levelnya. Uniknya, uang hasil hadiah itu ia gunakan untuk membeli buku perdana mengenai Buddhisme, karya Christmas Humphries. Keingintahuannya akan Buddhisme, mendorongnya untuk terus mempelajari agama-agama lainnya pula. Karena keuletannya dalam belajar, Ajahn muda mampu menekuni pendidikannya di Cambridge University. Namun, baginya kesuksesan sejati bukanlah kesuksesan di bidang akademik.
Setelah menyelsaikan pendidikannya di Cambridge, Ajahn muda memutuskan untuk mengajar selama setahun di Devon. Setelah setahun menjadi seorang pendidik, ia kembali ke London untuk menjadi seorang bikhu. Ia disarankan oleh para bikhu di wihara Thai di London untuk pergi ke Thailand. Pada tahun 1974 ia thabiskan menjadi Bhiku Brahmavamso alias Ajahn Brahm pada usianya yang ke-23. Ia kemudian berlatih dalam wihara hutan Wat Pah Pong di bawah bimbingan gurunya yang tersohor, yakni Ajahn Chah[3]. Dalam tahun-tahunnya sebagai bhiku yunior, ia diberi kepercayaan untuk mrnghimpun panduan mengenai aturan disiplin monastik Buddhis dalam bahasa Inggris yang kemudian menjadi dasar bagi aturan disiplin di banyak wihara tradisi Theravada di negara-negara Barat.
Pada tahun 1983, Ajahn diutus sebagai pendamping bhiku Ajahn Jagaro[4] di Australia. Ajahn Brahm juga memiliki banyak kesempatan untuk menjadi pembicara seperti di International Buddhist Summit di Phnom Penh (2002) dan pada Global Conference on Buddhism. Hingga sekarang, Ajahn Brahm adalah Bhiku Kepala Wihara Bodhinyana[5] di Serpentine, Australia, Direktur Spiritual Buddhist Society of Western Australia, Advaiser Spiritual Buddhist Society of Victoria, dan kini tengah bekerja sama dengan bikhu dan bikhuni dari semua tradisi Buddhis untuk mendirikan Australian Sangha Association. Pada bulan Oktober 2014 lalu, ia mendapat anugerah Medali John Curtin atas pelayanannya kepada masyarakat Australia[6].

Karya-karya Ajahn Brahm
Karya-karya Ajahn Brahm antara lain adalah menegenai The Art of DissapearingThe Buddha’s Path to Lasting Joy (2011), Mindfulness, Bliss and Beyond-The Meditator’s Handbook (2006), The Basic Method of Meditation. Karya-karyanya dalam bahasa Indonesia ditemukan dalam judul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Hidup Senang Mati Tenang, Superpower Mindfulness, Guru Si Cacing Datang, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya II dan Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya III[7]. Dalam usia senjanya juga Ajahn Brahm tetap aktif berkeliling dunia untuk berceramah dan mengajar meditasi.
            Ajahn Brahm juga telah berperan penting dalam mendirikan Wihara Dhammasara di Gidgegannup, di perbukitan Timur Laut Perth dan menjadi wihara independen bagi para bhikuni, tempat para bhiku Sri Lanka berlatih. Ia juga memberi pelatihan bagi kaum perempuan untuk bisa menjalani hidup suci. Dan banyak bhiku fundamentalis, mengucilkannya. Akan tetapi, tidak sedikit komunitas Buddhis Internasional mendukungnya.


Nibbida[8] sebagai Bentuk Respon atas Penderitaan
Kontemplasi mengenai dhukka atau penderitaan, adalah bagian yang paling penting dari praktek hidup orang Buddhis. Menurut Ajahn Brahm kita tidak diajak untuk mengontrol penderitaan kita, akan tetapi kita berusaha memahaminya melalui investigasi berbagai penyebabnya. Ketika segala sesuatu dalam hidup kita dilakukan secara salah, kita pada akhirnya mengalami penderitaan – yang pada mulanya dari problem psikis hingga pada penderitaan fisik. Menghadapi penderitaan ini, kita dituntut untuk mengubah cara berpikir kita atas apa yang sedang dialami dan berhenti berseteru. Ketika kita berhenti berseteru dengan dunia dan mulai memahami penderitaan, sebetulnya kita mendapat respon yang lain, yang kemudian dikenal dengan nama nibbida.
Ajahn Brahm memperkenal cara pemahaman penderitaan sebagai salah satu upaya menghadapi penderitaan. Nibbida datang dari pemahaman alami seseorang akan tubuh, pikiran dan dunia. Penderitaan, menurutnya, diproduksi dalam pabrik kesengsaraan (the fabric of samsara). Nibbida dengan kata lain adalah sebuah proses pengulitan bagian buah yang busuk. Bagian yang busuk dari buah (misalnya buah apel) dikupas dan dibuang. Akan tetapi, ketika kita bijaksana, kita akan melihat seluruh buah apel menjadi busuk, dan hal yang mungkin adalah nibbida, upaya melepaskan, membuang atau membiarkan apel (baca: pikiran buruk atau penderitaan) musnah dengan sendirinya.
Menurut Ajahn Brahm, manusia dalam perjalanan kehidupannya akan mengalami tiga problem berikut, yakni mengalami ketuaan, mengalami sakit dan mati. Kita pasti akan mengalami tiga hal ini, dan menurutnya kita tidak akan mampu berbuat apa-apa dengan kondisi ini. Hal yang paling mungkin dilakukan menurutnya “membiarkannya”. Ketika kita berusaha untuk memikirkan apa yang kita alami hingga stress atau frustrasi, sebenarnya kita sedang menambah beban baru di pundak kita. Biarkan tubuh yang menyembuhkan kita atau dengan kata lain tubuh yang sakit akan menyembuhkan dirinya sendiri. Melepaskan diri dari kelekatan berpikir akan sesuatu yang terus dikhawatirkan dinamakan nibbida.
Nibbida dalam Strategi Meditasi
Ajahn Brahm juga berbicara banyak mengenai strategi meditasi. Hal ini dapat diketatahui dari bukunya yang secara khusus berbicara mengenai “Dasar-dasar Bermeditasi” (2012). Meditasi adalah sebuah jalan untuk mencapai pelepasan atau pembebasan diri. “The goal of the meditation is the beautiful sillent, stillness and clarity of mind[9].” Sekali lagi Brahm berusaha menampilkan istilah pelepasan atau disengage (nibbida) diri dari pengalaman atau cerita-cerita masa lampau dalam membangun kefokusan pandangan.
Selain keheningan sebagai buah sekaligus strategi mencapai sebuah meditasi yang mendalam, keheningan menurut Ajahn juga dilihat sebagai sesuatu yang jelas dan menampilkan kebijaksanaan daripada berpikir. Keheningan dalam diri melampui kemampuan berpikir manapun. Keheningan adalah nibbida dari segala kebisingan dan keinginan diri yang tak terbendungi. Pikiran sendiri berusaha menemukan keheningan agar ia bisa sampai pada apa yang sedang dipikirkan. Hal yang digarisbawahi di sini adalah mengenai kesadaran akan keheningan dalam situasi sekarang (silent awareness of the present moment). Kesadaraan akan keheningan itu hanya menunjukkan satu hal saja (just one thing) – kita sedang tidak memikirkan sesuatu.
Fokus pada pernapasan adalah salah satu metode bermeditasi yang baik. Dalam bermeditasi, kita tidak dianjurkan untuk menghitung jumlah aktivitas bernapas kita. Kesabaran pun menjadi kunci dalam proses pengaturan pernapasan. Dan pada tahap ini, nibbida tetap hadir untuk menjaga kelancaran proses pernapasan. Segala sesuatu yang ada dalam diri dilepasbebaskan dari dalam diri agar kita dapat bernapas dengan lega.
Tanggapan atas Konsep Nibbida
Konsep nibbida yang ditengarai Ajahn Brahm sulit untuk diterapkan dalam kehidupan senyatanya. Dalam tulisannya mengenai The Art of Disappearing (2011), Ajahn Brahm berusaha mengilustrasikan konsep nibbida  dengan jelas. Ia mengambil contoh demikian,
“When you meditate, remind yourself they are none of your business, they’re the body business – let the body look after them.,,,,,the more you worry about this body, the worse it gets. If you disengage from the body, sit still, and just allow the body to disappear, it tends to heal itself”[10].
Kutipan di atas tentunya berusaha menerangkan keterpisahan tubuh dari kontrol diri kita sendiri. Dengan kata lain, pelepasan mindset mengenai tubuh dari pikiran atau kelekatan dengan kita, sebenarnya hendak menunjukkan bahwa tubuh dianggap sesat, buruk, mengganggu dan oleh karenanya harus dilepaskan atau dibuang atau sebaiknya tidak perlu dipikirkan. Konsep nibbida Ajahn Brahm, hemat saya adalah sebuah cara pandang yang buruk mengenai tubuh. Kutipan lain, yang hemat saya, sungguh disayangkan dalam The Art of Disappearing adalah demikian,
            “The first time I saw that was with Ajahn Tate. When I first went to Thailand in 1974, he was in the hospital with incureable cancer. They gave him the best possible treatment, but nothing would work, so they sent him back to his monastary to die. That’s one example of what happens when monks “go back to their monastery to die”. So you disengage from things – nibbida arises[11].
                Konsep nibbida atau pelepasan seyogianya ditempatkan pada konteks tertentu. Kisah mengenai seorang bhiku yang dipulangkan ke wihara dalam ilustrasi di atas – yang diklaim sebagai ilustrasi nyata menurut Ajahn Brahm – adalah sebuah bentuk ignorance invicibilis[12]. Memulangkan bhiku yang mengalami sakit, secara sederhana adalah suatu proses “nibbida” atau pelepasan dari tanggung jawab sebagai sesama. Kita memberi kesempatan kepada tubuh yang menderita untuk menyembuhkan atau memperbaiki dirinya sendiri adalah suatu keniscayaan. Dalam bahasa Brahm “It’s not your business!”. Mengambil tindakan nibbida sepertinya kurang jelas, terutama mengenai motivasi, apakah memang hanya karena bukan menjadi tanggung jawab kita ataukah karena sebuah alasan ketertarikan belaka?  
 Sebetulnya konsep nibbida masih meneteng pemahaman mengenai ciri negatif badaniah – nafsu berasal dari tubuh. Oleh karena itu, kita tidak perlu ikut campur dalam memahami ruang geraknya atau problem – sakit dan penyakit – yang menderanya. Konsep nibbida juga hendak menunjukkan bahwa tubuh menempati bilik yang yang sangat jauh dari jiwa. Sejatinya bukan tubuh yang membuat jiwa jatuh, bukan tubuh yang memaku jiwa pada tubuh tertentu. Jiwa adalah penggerak dari dirinya sendiri. Maka, konsisten dengan pandangan ini, jiwalah yang menggerakkan tubuh.
Catatan Akhir
Dalam artian tertentu, konsep nibbida dapat membantu kita untuk keluar dari penderitaan yang kita alami. Akan tetapi, konsep ini hanya berlaku sektoral – dalam artian bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu hal ini bisa dipraktikkan. Praktisnya dalam kegiatan meditasi. “It’s not your business!”, akan mengusir segala “capung dan binatang liar lainnya” yang hinggap di atas dan dalam ruang keheningan meditatif. Disengagement, sangat membantu proses terbentuknya situasi “padang gurun” pikiran kita. Proses pelepasan atau ‘tidak mau tahu’ dengan sesuatu yang mengganggu kita dalam suasana meditatif, akan mengantar kita pada ekspektasi dalam petualangan keheningan dan meditatif.


Daftar Pustaka

Brahmavamso, Ajahn, 2012,
The Basic Method of Meditation, The Buddhis Society, Western Australia.
Brahm, Ajahn, 2011,
The Art of Disappearing, Wisdom Publications.                                                            
Ajahn Brahm, Ajahn, 2006,
Mindfulness, Bliss and Beyond, Wisdom Publications, Boston.
Hasil Wawancara, “Ajahn Brahm – Biografi dan Wawancara, Awareness Publications, 2013.






[1] Disadur dari buku hasil wawancara Handaka Vijjananda dan Ajahn Brahm di Hotel Sheraton Bandara, Jakarta Barat, 21 Maret 2012, di sela rangkaian Talk Show Tour d’Indonesia 2012, Ajahn Brahm – Biografi dan Wawancara, Awareness Publication, 2012, 7-9.
[2] Mengenai judul buku pernah disinggung dalam wawancara dengan Hendaka Vijjananda, di sela-sela Talk Show Tour d’Indonesia, ibid., 24.
[3] Ajahn Chah adalah tokoh yang menginspirasi Ajahn Brahm. Pendidikannya lebih rendah dari Ajahn Brahm. Akan tetapi, kebijaksanaan dan kebajikannya mampu memengarui Ajahn muda, ibid., 27-28.
[4] Ajahn Jagaro adalah bhiku pertama yang diutus ke Australia. Pada tahun 1994, ia mengambil cuti dari Australia Barat dan melepaskan jubah di kemudian hari. Posisi ini kemudian ditempati oleh Ajahn Brahm, ibid., 13.
[5] Bodhinyana artinya pengetahuan pencerahan, ibid., 13.
[6] Dirangkum dari biografi penulis dalam, Ajahn Brahmavamso, The Basic Method of Meditation, The Buddhis Society, Western Australia, 2012.
[7] Buku hasil wawancara Ajahn Brahm dan Vijjananda, 15-16.
[8] Pembahasan mengenai nibbida secara keseluruhan disadur dari, Ajahn Brahm, The Art of Disappearing, Wisdom Publications, Boston, 2011, 1-6.
[9] Ajahn Brahm, Mindfulness, Bliss and Beyond, Wisdom Publications, Boston, 2006, 1-3.
[10] Ajahn Brahm, The Art of Disappearing, 6.
[11] Ajahn Brahm, The Art of Disappearing, 6-7.
[12] Istilah ini hendak menggambarkan tentang suatu ketidaktahuan yang dihidupi sebagai tradisi. Misalnya tradisi penduduk Eskimo yang berusaha mempercepat kematian sesorang yang menderita dengan melepaskannya sendirian dalam sebuah gua es.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar