AJAHN BRAHM DAN KONSEP NIBBIDA
Oleh Cristianto Naku
Potret Tokoh
Ajahn Brahm lahir
di London pada tanggal 7 Agustus 1951. Ia lahir dari sebuah keluarga pekerja di
London pada masa seusai Perang Dunia II dengan nama Peter Betts. Ayah Peter (Peter
adalah panggilan kecil Ajahn Brahm) adalah seorang pemegang teguh kedisiplinan
dalam keluarga[1].
Hal yang selalu didengungkan Piter sebagai bahan refleksinya – hingga di usia
senjanya – adalah kata-kata sang ayah, “Nak, pintu rumahku akan selalu terbuka
untukmu, tak peduli apapun yang kamu lakukan dalam hidup”. Kata-kata ini pula
yang mendorong Ajahn Brahm untuk menulis bukunya yang berjudul “Opening The
Door of Your Heart”[2].
Ajahn muda tergolong siswa yang pandai di sekolahnya dan sangat disiplin. Pada
usia 16 tahun, Ajahn muda berhasil memenangkan hadiah akademik melalui hasil
ujian O-levelnya. Uniknya, uang hasil hadiah itu ia gunakan untuk membeli buku
perdana mengenai Buddhisme, karya Christmas Humphries. Keingintahuannya akan
Buddhisme, mendorongnya untuk terus mempelajari agama-agama lainnya pula.
Karena keuletannya dalam belajar, Ajahn muda mampu menekuni pendidikannya di
Cambridge University. Namun, baginya kesuksesan sejati bukanlah kesuksesan di
bidang akademik.
Setelah
menyelsaikan pendidikannya di Cambridge, Ajahn muda memutuskan untuk mengajar
selama setahun di Devon. Setelah setahun menjadi seorang pendidik, ia kembali
ke London untuk menjadi seorang bikhu. Ia disarankan oleh para bikhu di wihara
Thai di London untuk pergi ke Thailand. Pada tahun 1974 ia thabiskan menjadi
Bhiku Brahmavamso alias Ajahn Brahm pada usianya yang ke-23. Ia kemudian
berlatih dalam wihara hutan Wat Pah Pong di bawah bimbingan gurunya yang
tersohor, yakni Ajahn Chah[3]. Dalam
tahun-tahunnya sebagai bhiku yunior, ia diberi kepercayaan untuk mrnghimpun
panduan mengenai aturan disiplin monastik Buddhis dalam bahasa Inggris yang
kemudian menjadi dasar bagi aturan disiplin di banyak wihara tradisi Theravada
di negara-negara Barat.
Pada tahun 1983,
Ajahn diutus sebagai pendamping bhiku Ajahn Jagaro[4] di
Australia. Ajahn Brahm juga memiliki banyak kesempatan untuk menjadi pembicara
seperti di International Buddhist Summit
di Phnom Penh (2002) dan pada Global
Conference on Buddhism. Hingga sekarang, Ajahn Brahm adalah Bhiku Kepala
Wihara Bodhinyana[5]
di Serpentine, Australia, Direktur Spiritual Buddhist Society of Western
Australia, Advaiser Spiritual Buddhist Society of Victoria, dan kini tengah
bekerja sama dengan bikhu dan bikhuni dari semua tradisi Buddhis untuk
mendirikan Australian Sangha Association. Pada bulan Oktober 2014 lalu, ia
mendapat anugerah Medali John Curtin atas pelayanannya kepada masyarakat
Australia[6].
Karya-karya Ajahn Brahm
Karya-karya
Ajahn Brahm antara lain adalah menegenai The
Art of Dissapearing – The Buddha’s
Path to Lasting Joy (2011), Mindfulness,
Bliss and Beyond-The Meditator’s Handbook (2006), The Basic Method of Meditation. Karya-karyanya dalam bahasa
Indonesia ditemukan dalam judul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Hidup
Senang Mati Tenang, Superpower Mindfulness, Guru Si Cacing Datang, Si Cacing
dan Kotoran Kesayangannya II dan Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya III[7]. Dalam
usia senjanya juga Ajahn Brahm tetap aktif berkeliling dunia untuk berceramah
dan mengajar meditasi.
Ajahn Brahm juga telah berperan
penting dalam mendirikan Wihara Dhammasara di Gidgegannup, di perbukitan Timur
Laut Perth dan menjadi wihara independen bagi para bhikuni, tempat para bhiku
Sri Lanka berlatih. Ia juga memberi pelatihan bagi kaum perempuan untuk bisa
menjalani hidup suci. Dan banyak bhiku fundamentalis, mengucilkannya. Akan
tetapi, tidak sedikit komunitas Buddhis Internasional mendukungnya.
Nibbida[8] sebagai Bentuk Respon atas
Penderitaan
Kontemplasi
mengenai dhukka atau penderitaan,
adalah bagian yang paling penting dari praktek hidup orang Buddhis. Menurut
Ajahn Brahm kita tidak diajak untuk mengontrol penderitaan kita, akan tetapi
kita berusaha memahaminya melalui investigasi berbagai penyebabnya. Ketika
segala sesuatu dalam hidup kita dilakukan secara salah, kita pada akhirnya
mengalami penderitaan – yang pada mulanya dari problem psikis hingga pada
penderitaan fisik. Menghadapi penderitaan ini, kita dituntut untuk mengubah
cara berpikir kita atas apa yang sedang dialami dan berhenti berseteru. Ketika
kita berhenti berseteru dengan dunia dan mulai memahami penderitaan, sebetulnya
kita mendapat respon yang lain, yang kemudian dikenal dengan nama nibbida.
Ajahn
Brahm memperkenal cara pemahaman penderitaan sebagai salah satu upaya
menghadapi penderitaan. Nibbida datang
dari pemahaman alami seseorang akan tubuh, pikiran dan dunia. Penderitaan,
menurutnya, diproduksi dalam pabrik kesengsaraan (the fabric of samsara). Nibbida
dengan kata lain adalah sebuah proses pengulitan bagian buah yang busuk. Bagian
yang busuk dari buah (misalnya buah apel) dikupas dan dibuang. Akan tetapi,
ketika kita bijaksana, kita akan melihat seluruh buah apel menjadi busuk, dan
hal yang mungkin adalah nibbida, upaya
melepaskan, membuang atau membiarkan apel (baca: pikiran buruk atau
penderitaan) musnah dengan sendirinya.
Menurut
Ajahn Brahm, manusia dalam perjalanan kehidupannya akan mengalami tiga problem
berikut, yakni mengalami ketuaan, mengalami sakit dan mati. Kita pasti akan
mengalami tiga hal ini, dan menurutnya kita tidak akan mampu berbuat apa-apa
dengan kondisi ini. Hal yang paling mungkin dilakukan menurutnya
“membiarkannya”. Ketika kita berusaha untuk memikirkan apa yang kita alami
hingga stress atau frustrasi, sebenarnya kita sedang menambah beban baru di
pundak kita. Biarkan tubuh yang menyembuhkan kita atau dengan kata lain tubuh
yang sakit akan menyembuhkan dirinya sendiri. Melepaskan diri dari kelekatan
berpikir akan sesuatu yang terus dikhawatirkan dinamakan nibbida.
Nibbida dalam Strategi Meditasi
Ajahn
Brahm juga berbicara banyak mengenai strategi meditasi. Hal ini dapat
diketatahui dari bukunya yang secara khusus berbicara mengenai “Dasar-dasar
Bermeditasi” (2012). Meditasi adalah sebuah jalan untuk mencapai pelepasan atau
pembebasan diri. “The goal of the meditation is the beautiful sillent,
stillness and clarity of mind[9].” Sekali
lagi Brahm berusaha menampilkan istilah pelepasan atau disengage (nibbida) diri
dari pengalaman atau cerita-cerita masa lampau dalam membangun kefokusan
pandangan.
Selain
keheningan sebagai buah sekaligus strategi mencapai sebuah meditasi yang
mendalam, keheningan menurut Ajahn juga dilihat sebagai sesuatu yang jelas dan
menampilkan kebijaksanaan daripada berpikir. Keheningan dalam diri melampui kemampuan
berpikir manapun. Keheningan adalah nibbida
dari segala kebisingan dan keinginan diri yang tak terbendungi. Pikiran sendiri
berusaha menemukan keheningan agar ia bisa sampai pada apa yang sedang
dipikirkan. Hal yang digarisbawahi di sini adalah mengenai kesadaran akan
keheningan dalam situasi sekarang (silent
awareness of the present moment). Kesadaraan akan keheningan itu hanya
menunjukkan satu hal saja (just one thing)
– kita sedang tidak memikirkan sesuatu.
Fokus
pada pernapasan adalah salah satu metode bermeditasi yang baik. Dalam
bermeditasi, kita tidak dianjurkan untuk menghitung jumlah aktivitas bernapas
kita. Kesabaran pun menjadi kunci dalam proses pengaturan pernapasan. Dan pada
tahap ini, nibbida tetap hadir untuk
menjaga kelancaran proses pernapasan. Segala sesuatu yang ada dalam diri
dilepasbebaskan dari dalam diri agar kita dapat bernapas dengan lega.
Tanggapan atas Konsep Nibbida
Konsep
nibbida yang ditengarai Ajahn Brahm
sulit untuk diterapkan dalam kehidupan senyatanya. Dalam tulisannya mengenai The Art of Disappearing (2011), Ajahn
Brahm berusaha mengilustrasikan konsep nibbida
dengan jelas. Ia mengambil contoh
demikian,
“When
you meditate, remind yourself they are none of your business, they’re the body
business – let the body look after them.,,,,,the more you worry about this
body, the worse it gets. If you disengage from the body, sit still, and just
allow the body to disappear, it tends to heal itself”[10].
Kutipan
di atas tentunya berusaha menerangkan keterpisahan tubuh dari kontrol diri kita
sendiri. Dengan kata lain, pelepasan mindset
mengenai tubuh dari pikiran atau kelekatan dengan kita, sebenarnya hendak
menunjukkan bahwa tubuh dianggap sesat, buruk, mengganggu dan oleh karenanya
harus dilepaskan atau dibuang atau sebaiknya tidak perlu dipikirkan. Konsep nibbida Ajahn Brahm, hemat saya adalah
sebuah cara pandang yang buruk mengenai tubuh. Kutipan lain, yang hemat saya,
sungguh disayangkan dalam The Art of
Disappearing adalah demikian,
“The first time I saw
that was with Ajahn Tate. When I first went to Thailand in 1974, he was in the
hospital with incureable cancer. They gave him the best possible treatment, but
nothing would work, so they sent him back to his monastary to
die. That’s one example of what happens when monks “go back to their monastery
to die”. So you disengage from things – nibbida
arises[11].”
Konsep nibbida atau pelepasan seyogianya
ditempatkan pada konteks tertentu. Kisah mengenai seorang bhiku yang
dipulangkan ke wihara dalam ilustrasi di atas – yang diklaim sebagai ilustrasi
nyata menurut Ajahn Brahm – adalah sebuah bentuk ignorance invicibilis[12].
Memulangkan bhiku yang mengalami sakit, secara sederhana adalah suatu proses
“nibbida” atau pelepasan dari tanggung jawab sebagai sesama. Kita memberi
kesempatan kepada tubuh yang menderita untuk menyembuhkan atau memperbaiki
dirinya sendiri adalah suatu keniscayaan. Dalam bahasa Brahm “It’s not your
business!”. Mengambil tindakan nibbida
sepertinya kurang jelas, terutama mengenai motivasi, apakah memang hanya karena
bukan menjadi tanggung jawab kita ataukah karena sebuah alasan ketertarikan
belaka?
Sebetulnya konsep nibbida masih meneteng pemahaman mengenai ciri negatif badaniah –
nafsu berasal dari tubuh. Oleh karena itu, kita tidak perlu ikut campur dalam
memahami ruang geraknya atau problem – sakit dan penyakit – yang menderanya. Konsep
nibbida juga hendak menunjukkan bahwa
tubuh menempati bilik yang yang sangat jauh dari jiwa. Sejatinya bukan tubuh
yang membuat jiwa jatuh, bukan tubuh yang memaku jiwa pada tubuh tertentu. Jiwa
adalah penggerak dari dirinya sendiri. Maka, konsisten dengan pandangan ini,
jiwalah yang menggerakkan tubuh.
Catatan Akhir
Dalam
artian tertentu, konsep nibbida dapat
membantu kita untuk keluar dari penderitaan yang kita alami. Akan tetapi,
konsep ini hanya berlaku sektoral – dalam artian bahwa dalam kondisi-kondisi
tertentu hal ini bisa dipraktikkan. Praktisnya dalam kegiatan meditasi. “It’s
not your business!”, akan mengusir segala “capung dan binatang liar lainnya”
yang hinggap di atas dan dalam ruang keheningan meditatif. Disengagement, sangat membantu proses terbentuknya situasi “padang
gurun” pikiran kita. Proses pelepasan atau ‘tidak mau tahu’ dengan sesuatu yang
mengganggu kita dalam suasana meditatif, akan mengantar kita pada ekspektasi
dalam petualangan keheningan dan meditatif.
Daftar
Pustaka
Brahmavamso, Ajahn, 2012,
The
Basic Method of Meditation, The Buddhis Society, Western
Australia.
Brahm, Ajahn, 2011,
The Art of Disappearing, Wisdom
Publications.
Ajahn Brahm, Ajahn, 2006,
Mindfulness,
Bliss and Beyond, Wisdom Publications, Boston.
Hasil Wawancara, “Ajahn
Brahm – Biografi dan Wawancara, Awareness Publications, 2013.
[1] Disadur dari buku hasil wawancara
Handaka Vijjananda dan Ajahn Brahm di Hotel Sheraton Bandara, Jakarta Barat, 21
Maret 2012, di sela rangkaian Talk Show Tour d’Indonesia 2012, Ajahn Brahm – Biografi dan Wawancara, Awareness
Publication, 2012, 7-9.
[2] Mengenai judul buku pernah
disinggung dalam wawancara dengan Hendaka Vijjananda, di sela-sela Talk Show
Tour d’Indonesia, ibid., 24.
[3] Ajahn Chah adalah tokoh yang
menginspirasi Ajahn Brahm. Pendidikannya lebih rendah dari Ajahn Brahm. Akan
tetapi, kebijaksanaan dan kebajikannya mampu memengarui Ajahn muda, ibid., 27-28.
[4] Ajahn Jagaro adalah bhiku pertama
yang diutus ke Australia. Pada tahun 1994, ia mengambil cuti dari Australia
Barat dan melepaskan jubah di kemudian hari. Posisi ini kemudian ditempati oleh
Ajahn Brahm, ibid., 13.
[5] Bodhinyana artinya pengetahuan
pencerahan, ibid., 13.
[6] Dirangkum dari biografi penulis
dalam, Ajahn Brahmavamso, The Basic
Method of Meditation, The Buddhis Society, Western Australia, 2012.
[7] Buku hasil wawancara Ajahn Brahm
dan Vijjananda, 15-16.
[8] Pembahasan mengenai nibbida secara keseluruhan disadur dari,
Ajahn Brahm, The Art of Disappearing, Wisdom
Publications, Boston, 2011, 1-6.
[9] Ajahn Brahm, Mindfulness, Bliss and Beyond, Wisdom Publications, Boston, 2006,
1-3.
[10] Ajahn Brahm, The Art of Disappearing, 6.
[11] Ajahn Brahm, The Art of Disappearing, 6-7.
[12] Istilah ini hendak menggambarkan
tentang suatu ketidaktahuan yang dihidupi sebagai tradisi. Misalnya tradisi
penduduk Eskimo yang berusaha mempercepat kematian sesorang yang menderita
dengan melepaskannya sendirian dalam sebuah gua es.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar