Senin, 09 November 2015

Agama Buddha dalam Pra-Pemahaman

PANORAMA BUDDHA
 (Sebuah Upaya Merangkai dan Memahami)
 Oleh Roberth Cristianto Naku
Prolog
            Pluralisme agama dan kepercayaan adalah sebuah kenyataan yang selalu menarik untuk dikaji. Kisah banyaknya perang dan perebutan kekuasaan ataupun pengaruh antara agama-agama di masa lampau selalu menjadi peristiwa monumental yang mendorong manusia untuk selalu memaknai setiap  peristiwa tersebut. Agama selalu mempunyai daya tariknya sendiri dalam menggalang pengikutnya sebanyak-banyaknya. Perkembangan agama selalu melahirkan sebuah corak pemikiran baru. Aspek baru yang ditawarkan oleh sebuah agama atau kepercayaan selalu mengajarkan hal-hal yang membantu manusia sendiri dalam proses perkembangan kehidupannya.
            Banyaknya kepercayaan dan agama yang ada, tentunya memperkaya manusia di satu sisi dan sisi lain menciptakan kebingungan. Masing-masing agama mempunyai Tuhan-nya sendiri, dan masing-masing pemeluk agama memiliki sebutan untuk sesuatu yang diwahyukan. Misalnya, Yesus yang diimani oleh oleh Kristen atau Muhammad oleh orang Islam. Dalam agama Buddha, kita mengenal Siddhartha Gautama – orang pertama dalam agama Budhha yang mengalami pencerahan (enlightenment) sekaligus pendiri agama Buddha. Agama Buddha lahir di India[1] dan berkembang di berbagai belahan dunia. Agama Budhha terbagi dalam dua aliran mayor, diantaranya aliran Buddha Theravada dan Buddha Mahayana. Buddha bukan sebuah nama untuk seseorang seperti Tuhan – dalam agama Katolik – tetapi lebih pada artian sesorang yang mendapat pencerahan (enlightenment one).[2]
Yang Ilahi semacam Dirahasiakan
            Agama Buddha tidak menerima argumen tentang Tuhan sebagai pencipta alam dari ketiadaan[3] – seperti yang diklaim oleh agama Katolik. Akan tetapi, agama Buddha mengklaim bahwa pikiran (mind) yang menjadi sesuatu yang harus ditransformasi. Agama Buddha percaya pada sabda Sang Buddha – orang pertama yang mendapat pencerahan. Cita-cita religius Buddha adalah pembebasan dari perbudakan dan kelahiran kembali, dari kematian dan derita, singkatnya untuk memperoleh kedamaian dan kesadaran yang lebih tinggi dalam nirvana.[4] Kehadiran Sang Buddha ditunjukkan secara simbolis dengan sebuah pohon (enlightenment), sebuah stupa, sebuah roda (dharma), atau dengan jejak kaki; karena dikhawatirkan bahwa setelah kematian Sang Buddha, orang akan memuja suatu gambaran yang berbentuk pribadi. Paham tentang yang kudus dialami melalui ketenangan batiniah dan ketidakacuhan tubuh. Dalam meditatif yang khusyuk, segala sesuatu berada dalam ketenangan. Dalam paham Buddha Mahayana, kekudusan paling ideal diungkapkan dalam Bodhisattva – seseorang yang hakikat jati dirinya digerakkan oleh hasrat untuk memperoleh penerangan penuh, yaitu menjadi seorang Buddha, yakni Buddha yang dukuasai oleh dua kekuatan: belas kasih dan kebijaksanaan.[5] Buddha tidak pernah mengklaim dirinya sebagai seorang penyelamat (Savior)[6] seperti Yesus dalam agama Katolik. Menyoal eksistensi Yang Ilahi, Sang Buddha memilih diam. Diam Sang Buddha adalah upaya menghilangkan berbagai pemahaman yang salah. Yang Ilahi yang dihayati oleh agama Buddha seperti dirahasiakan dengan bersikap diam berhormat. Maka makna hidup bagi umat Buddhis bernada etis.[7] Ajaran Bodhisattva dalam Buddhisme Mahayana mempunyai makna yang luas mengenai konsep keselamatan. Kaum Theravada menganggap Buddha hanya sebagai pendamping yang tidak bisa keliru – yang menunjukkan jalan nyata menuju keselamatan – dan keselamatan itu sendiri merupakan kepentingan individu serta tergabung dalam usaha individu sendiri.[8] Sarana- sarana mencapai keselamatan adalah melalui Buddha, Dhama dan Sangha.
Alam Semesta sebagai Akibat Hukum Determinasi
            Agama Buddha tidak berbicara mengenai penciptaan. Mengenai penciptaan itu sendiri Sang Buddha memilih diam. Sang Buddha melihat alam sebagai bagian yang tak terpisahkan dari manusia. Agama Buddha sangat bersahabat dengan alam. Alam, menurut umat Buddhis adalah sesama yang harus dirawat, dijaga dan dipelihara. Konsep ini lahir dari pandangan tentang kelahiran kembali atau reinkarnasi (rebirth). Paham reinkarnasi mempengarui cara berpikir umat Buddhis akan alam semesta. Umat Buddhis percaya bahwa, setelah hidup di dunia fana ini, sesorang akan mengalami proses kelahiran kembali (rebirth) dengan rupa yang berbeda – tergantung pada sikap dan tingkah lakunya (kualitas karma) semasa hidup. Dunia dalam pandangan umat Buddha adalah sesuatu yang berwujud kasar dan untuk mencapai suatu keadaan yang halus, seseorang harus menciptakan keheningan melalui meditasi. Dalam agama Buddha dipercaya bahwa manusia dan binatang sama-sama mengalami reinkarnasi. Suatu saat manusia akan mengalami rupa seperti hewan atau pada kesempatan berbeda hewan akan berubah menjadi manusia. Jadi, manusia dalam pandangan Buddhis tidak jauh berbeda dengan binatang, yakni sama-sama mengalami penderitaan (suffering).[9]
Manusia dan Alam adalah Saudara
            Berbicara mengenai relasi antara alam dan manusia, mempertemukan kita pada pemahaman filsuf modern Baruch Spinoza mengenai relasi intim antarmanusia dan alam. Spinoza menyebut alam sebagai Allah, dan Allah adalah alam (penganut pantheisme). Memahami relasi manusia-ekologi, Arne Naess memperkenalkan istilah deep ecology. Menurut Naess, cara yang paling mudah memahami deep ecology adalah dimulai dari cara pandang agama Buddha. Agama Buddha menghidupi beberapa aspek mengenai relasi manusia-alam. Pandangan pertama berkaitan dengan green thingking atau deep ecology ini dimulai dengan penolakkan terhadap pandangan bahwa manusia merupakan centrum dari segala yang ada (anthropocentrism). Kedua, penolakkan terhadap sikap egois (no-self) – bagi Nass, hal ini disebut dengan istilah self-realization. Pada intinya bahwa manusia adalah bagian dari alam yang tidak dapat dilepaspisahkan.[10]
            Arne Naess, John Seed dan Joanna Macy memperkenalkan sebuah model penyatuan dengan alam melalui kontemplasi Buddha. Mereka menyebut kontemplasi dengan istilah ‘ritual reuni’ segala yang ada (Council of All Beings). Ritual ini dimulai dengan sebuah meditasi dalam keheningan sambil menghadirkan objek-objek minor di alam semesta. Dalam keheningan dibangun sebuah percakapan dengan objek yang dikontemplasikan. Tujuan dari ritual ini adalah untuk membangun kesadaran manusia akan relasinya yang tak terputuskan dengan alam sekalipun dengan objek yang paling kecil.[11]
Manusia dan Sesamanya – Relasi Intersosio-Politis
            Etika Buddhis mengajarkan tentang kebahagiaan – di mana tidak ada penderitaan. Umat Buddha berusaha melepaskan penderitaan (samsara) melalui meditasi. Meditasi dipercaya sebagai instrumen yang membantu seseorang terbebas dari derita (suffering). Memahami relasi societas dalam agama Buddha selalu dipengarui oleh dua aliran besar yang berdiri kokoh dalam agama Buddha, yakni aliran Theravada dan aliran Mahayana. Dua aliran ini, memiliki cara pandang yang berbeda, dan ini berimplikasi pada relasi intersosial kehidupan bermasyarakat. Ditinjau dari konsep keselamatan masing-masing, kita bisa melihat betapa kontrasnya ekspektasi dua aliran besar ini. Mahayana memperkenalkan konsep keselamatan kepada setiap orang dengan pola struggle untuk orang lain (public salvation), sedangkan Theravada lebih memperkenalkan jalan menuju keselamatan melalui sabda Sang Buddha – keselamatan menjadi usaha setiap individu. Oleh karena dua model pandangan ini, muncul sebuah kesimpulan prematur bahwa relasi interpersonal dan intersocietas sangat dipengarui oleh prospek dua model ajaran ini – dua model relasi yakni, eksklusivitas (Theravada) dan inklusivtas (Mahayana). Realitas yang nampak sekarang adalah dasar analisis atas pandangan mengenai umat Buddha akan persaudaraan (fraternity). Kontribusi Buddhis dalam hal politik, sosial dan budaya juga sangat bergantung pada cara pandang dua aliran besar di atas, yakni Mahayana dan Theravada. Relasi sosio-politis dalam agama Buddha juga mengikuti Ten Duties of the King (Dasa Raja Dhama), yakni: (1) ajaran kebebasan, kasih dan keramahan (dana) bagi setiap orang agar dicapai kesejahteraan bersama, (2) tidak boleh mengeksploitasi orang lain atau karakter moral (sila), (3) mengorbankan segalanya (pariccaga) untuk kebaikan banyak orang, (4) integritas dan kejujuran (ajjava), (5) kebaikan dan kemurahan (maddava), (6) kesederhanaan serta mengusahakan self-control (tapa), (7) bebas dari kebencian atau permusuhan (akkodha) dengan sesama, (8) menghindari kekerasan (ahimsa) atau promosi kedamaian/cegah konflik atau perang, (9) saling menghormati dan sikap toleransi (khanti) dan menghargai martabat orang lain atau hidup dalam keharmonisan (avirodha).[12]

Catatan Pamungkas
Agama Buddha bukanlah tujuan hidup, melainkan instrumen agar sesorang memiliki pedoman dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari, sehingga kebahagiaan duniawi dan nibbana dapat diperoleh. Ajaran Buddha lebih mengusahakan sebuah pelepasan diri (self-liberation) dari kelekatan buta hal-hal duniawi. Pencerahan adalah sebuah tahap final – enlightenment leads to liberation. Dalam agama Katolik kita mengenal konsep keselamatan yang diperoleh melalui penyerahan diri Yesus di kayu Salib. Sedangkan agama Buddha mengenal istilah pencerahan – bukan atas dasar totalitas penyerahan diri apalagi penderitaan. Peristiwa Salib adalah sebuah proses penyelamatan sekaligus kebangkitan, sedangkan pencerahan adalah sebuah pencapain atau ketertujuan dari masing-masing umat Buddha. Kritik terhadap agama Buddha mengenai ritual penyembahan kepada Sang Buddha sendiri, di mana Buddha tidak pernah mengajarkan penyembahan atas apa pun termasuk dirinya. Model penghormatan umat Buddhis seperti menyembah diri sendiri (self) – pencerahan diperoleh dari dalam diri sang calon Bodhisattva. Apa yang dituju oleh umat Buddhis seperti sebuah ilusi belaka atas tindakan mistis. 
DAFTAR PUSTAKA
Conze, Edward, 1993,
Buddhism – A Short History, Oneworld Publications, England.
Dhavamony, Mariasusai, 1995,
Fenomenologi Agama, Kanisius, Yogyakarta.
Hervey, Peter, 2013,
Buddhism, Cambridge University Press, Cambridge.
King, B. Sallie, 2009, 
Socially Engaged Buddhism, University of Hawai’i Press, America.
Magnis-Suseno, Frans, 2006,
Menalar Tuhan, Kanisius, Yogyakarta.
Nguyen Hai Minh, Anselmo, 2001,
True Mind in Zen Buddhism, dalam Religious Life in Asia, Institute for Consecrated Life in Asia (ICLA), Philipines.
Rahula, Sri Walpola, 1978,
            What the Buddha Taught, The Gordon Fraser Gallery, London.




[1] Buddha adalah istilah untuk orang yang mendapat pencerahan. Pertama kali dialami oleh Siddartha Gautama di India, c.a 600 atau 400 SM, Edward Conze, Buddhism – A Short History, Oneworld Publications, England, 1993, vi.
[2] Term Buddhis dalam bahasa Inggris mengindikasikan gambaran sebuah agama yang memiliki ciri, yakni berdevosi kepada Sang Buddha, Buddhas atau lingkungan Buddha, Peter Hervey, Buddhism, Cambridge University Press, Cambridge, 2013, 1.
[3] Agama Buddha hanya mengenal hukum sebab-akibat sebagai profil terjadinya alam dan segala ciptaan lain Anselmo Nguyen Hai Minh, True Mind in Zen Buddhism, dalam Religious Life in Asia, Vol. III, No. 4, Oktober-Desember, Institute for Consecrated Life in Asia (ICLA), Philipines, 2001, 120.
[4] Nirvana adalah suatu keadaan keselamatan atau situasi akhir keselamatan. Nirvana juga dipahami sebagai terhentinya penderitaan dan kemalangan – rumusan positifnya adalah kebahagiaan tertinggi. Lebih mudah menerangkan nirvana dalam pengertian negatif daripada dalam pengertian positif. Jadi, nirvana adalah terhentinya hasrat, suatu netralisasi dari tindakan-tindakan dan akhir dari kelahiran yang menyakitkan, Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, Kanisius, Yogyakarta, 1995, 311-312.  
[5] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, 93-95.
[6] Anselmo Nguyen Hai Minh, Reflections on Enlightenment and Salvation, 121.
[7] Frans Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, Kanisius, Yogyakarta, 2006, 33.
[8] Berbeda dengan pandangan Buddha Mahayana yang mencap pandangan aliran Theravada sebagai suatu ajaran yang penuh kepentingan diri. Buddha Mahayana berpendapat bahwa justru orang suci yang sejati harus dengan suka rela mengesampingkan keselamatan diri sendiri dan bersumpah menyelamatkan semua makhluk inderawi sebelum masuk dalam kebahagiaan akhir, Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, 312.
[9] Sallie B. King, Socially Engaged Buddhism, University of Hawai’i Press, America, 2009, 120.
[10] Sallie B. King, Socially Engaged Buddhism, 123.
[11] Ibid., 129.
[12] Keseepuluh Dasa Raja Dhama di atas bukanlah sebuah uthopia, melainkan atas kepercayaan pada model kepemimpinan raja Ashoka yang jaya di India, Walpola Sri Rahula, What the Buddha Taught, The Gordon Fraser Gallery, London, 1978, 84-86.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar