PANORAMA BUDDHA
(Sebuah Upaya
Merangkai dan Memahami)
Oleh Roberth Cristianto Naku
Prolog
Pluralisme agama dan kepercayaan
adalah sebuah kenyataan yang selalu menarik untuk dikaji. Kisah banyaknya
perang dan perebutan kekuasaan ataupun pengaruh antara agama-agama di masa
lampau selalu menjadi peristiwa monumental yang mendorong manusia untuk selalu
memaknai setiap peristiwa tersebut.
Agama selalu mempunyai daya tariknya sendiri dalam menggalang pengikutnya
sebanyak-banyaknya. Perkembangan agama selalu melahirkan sebuah corak pemikiran
baru. Aspek baru yang ditawarkan oleh sebuah agama atau kepercayaan selalu
mengajarkan hal-hal yang membantu manusia sendiri dalam proses perkembangan
kehidupannya.
Banyaknya kepercayaan dan agama yang
ada, tentunya memperkaya manusia di satu sisi dan sisi lain menciptakan
kebingungan. Masing-masing agama mempunyai Tuhan-nya sendiri, dan masing-masing
pemeluk agama memiliki sebutan untuk sesuatu yang diwahyukan. Misalnya, Yesus
yang diimani oleh oleh Kristen atau Muhammad oleh orang Islam. Dalam agama
Buddha, kita mengenal Siddhartha Gautama – orang pertama dalam agama Budhha
yang mengalami pencerahan (enlightenment)
sekaligus pendiri agama Buddha. Agama Buddha lahir di India[1]
dan berkembang di berbagai belahan dunia. Agama Budhha terbagi dalam dua aliran
mayor, diantaranya aliran Buddha Theravada dan Buddha Mahayana. Buddha bukan
sebuah nama untuk seseorang seperti Tuhan – dalam agama Katolik – tetapi lebih
pada artian sesorang yang mendapat pencerahan (enlightenment one).[2]
Yang Ilahi semacam Dirahasiakan
Agama Buddha tidak menerima argumen
tentang Tuhan sebagai pencipta alam dari ketiadaan[3] –
seperti yang diklaim oleh agama Katolik. Akan tetapi, agama Buddha mengklaim
bahwa pikiran (mind) yang menjadi
sesuatu yang harus ditransformasi. Agama Buddha percaya pada sabda Sang Buddha
– orang pertama yang mendapat pencerahan. Cita-cita religius Buddha adalah
pembebasan dari perbudakan dan kelahiran kembali, dari kematian dan derita, singkatnya
untuk memperoleh kedamaian dan kesadaran yang lebih tinggi dalam nirvana.[4]
Kehadiran Sang Buddha ditunjukkan secara simbolis dengan sebuah pohon (enlightenment), sebuah stupa, sebuah
roda (dharma), atau dengan jejak
kaki; karena dikhawatirkan bahwa setelah kematian Sang Buddha, orang akan
memuja suatu gambaran yang berbentuk pribadi. Paham tentang yang kudus dialami
melalui ketenangan batiniah dan ketidakacuhan tubuh. Dalam meditatif yang
khusyuk, segala sesuatu berada dalam ketenangan. Dalam paham Buddha Mahayana,
kekudusan paling ideal diungkapkan dalam Bodhisattva – seseorang yang hakikat
jati dirinya digerakkan oleh hasrat untuk memperoleh penerangan penuh, yaitu
menjadi seorang Buddha, yakni Buddha yang dukuasai oleh dua kekuatan: belas
kasih dan kebijaksanaan.[5]
Buddha tidak pernah mengklaim dirinya sebagai seorang penyelamat (Savior)[6]
seperti Yesus dalam agama Katolik. Menyoal eksistensi Yang Ilahi, Sang Buddha
memilih diam. Diam Sang Buddha adalah upaya menghilangkan berbagai pemahaman
yang salah. Yang Ilahi yang dihayati oleh agama Buddha seperti dirahasiakan
dengan bersikap diam berhormat. Maka makna hidup bagi umat Buddhis bernada
etis.[7] Ajaran
Bodhisattva dalam Buddhisme Mahayana mempunyai makna yang luas mengenai konsep
keselamatan. Kaum Theravada menganggap Buddha hanya sebagai pendamping yang
tidak bisa keliru – yang menunjukkan jalan nyata menuju keselamatan – dan
keselamatan itu sendiri merupakan kepentingan individu serta tergabung dalam
usaha individu sendiri.[8]
Sarana- sarana mencapai keselamatan adalah melalui Buddha, Dhama dan Sangha.
Alam Semesta sebagai Akibat Hukum
Determinasi
Agama
Buddha tidak berbicara mengenai penciptaan. Mengenai penciptaan itu sendiri
Sang Buddha memilih diam. Sang Buddha melihat alam sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari manusia. Agama Buddha sangat bersahabat dengan alam. Alam,
menurut umat Buddhis adalah sesama yang harus dirawat, dijaga dan dipelihara.
Konsep ini lahir dari pandangan tentang kelahiran kembali atau reinkarnasi (rebirth). Paham reinkarnasi mempengarui
cara berpikir umat Buddhis akan alam semesta. Umat Buddhis percaya bahwa,
setelah hidup di dunia fana ini, sesorang akan mengalami proses kelahiran
kembali (rebirth) dengan rupa yang
berbeda – tergantung pada sikap dan tingkah lakunya (kualitas karma) semasa hidup. Dunia dalam
pandangan umat Buddha adalah sesuatu yang berwujud kasar dan untuk mencapai
suatu keadaan yang halus, seseorang harus menciptakan keheningan melalui
meditasi. Dalam agama Buddha dipercaya bahwa manusia dan binatang sama-sama
mengalami reinkarnasi. Suatu saat manusia akan mengalami rupa seperti hewan
atau pada kesempatan berbeda hewan akan berubah menjadi manusia. Jadi, manusia
dalam pandangan Buddhis tidak jauh berbeda dengan binatang, yakni sama-sama
mengalami penderitaan (suffering).[9]
Manusia dan Alam adalah Saudara
Berbicara mengenai relasi antara
alam dan manusia, mempertemukan kita pada pemahaman filsuf modern Baruch
Spinoza mengenai relasi intim antarmanusia dan alam. Spinoza menyebut alam
sebagai Allah, dan Allah adalah alam (penganut pantheisme). Memahami relasi manusia-ekologi, Arne Naess memperkenalkan
istilah deep ecology. Menurut Naess,
cara yang paling mudah memahami deep
ecology adalah dimulai dari cara pandang agama Buddha. Agama Buddha
menghidupi beberapa aspek mengenai relasi manusia-alam. Pandangan pertama
berkaitan dengan green thingking atau
deep ecology ini dimulai dengan
penolakkan terhadap pandangan bahwa manusia merupakan centrum dari segala yang ada (anthropocentrism).
Kedua, penolakkan terhadap sikap egois (no-self)
– bagi Nass, hal ini disebut dengan istilah self-realization.
Pada intinya bahwa manusia adalah bagian dari alam yang tidak dapat
dilepaspisahkan.[10]
Arne Naess, John Seed dan Joanna
Macy memperkenalkan sebuah model penyatuan dengan alam melalui kontemplasi
Buddha. Mereka menyebut kontemplasi dengan istilah ‘ritual reuni’ segala yang
ada (Council of All Beings). Ritual
ini dimulai dengan sebuah meditasi dalam keheningan sambil menghadirkan
objek-objek minor di alam semesta. Dalam keheningan dibangun sebuah percakapan
dengan objek yang dikontemplasikan. Tujuan dari ritual ini adalah untuk
membangun kesadaran manusia akan relasinya yang tak terputuskan dengan alam
sekalipun dengan objek yang paling kecil.[11]
Manusia dan Sesamanya – Relasi Intersosio-Politis
Etika Buddhis mengajarkan tentang
kebahagiaan – di mana tidak ada penderitaan. Umat Buddha berusaha melepaskan
penderitaan (samsara) melalui
meditasi. Meditasi dipercaya sebagai instrumen yang membantu seseorang terbebas
dari derita (suffering). Memahami
relasi societas dalam agama Buddha
selalu dipengarui oleh dua aliran besar yang berdiri kokoh dalam agama Buddha,
yakni aliran Theravada dan aliran Mahayana. Dua aliran ini, memiliki cara
pandang yang berbeda, dan ini berimplikasi pada relasi intersosial kehidupan
bermasyarakat. Ditinjau dari konsep keselamatan masing-masing, kita bisa
melihat betapa kontrasnya ekspektasi dua aliran besar ini. Mahayana
memperkenalkan konsep keselamatan kepada setiap orang dengan pola struggle untuk orang lain (public salvation), sedangkan Theravada
lebih memperkenalkan jalan menuju keselamatan melalui sabda Sang Buddha –
keselamatan menjadi usaha setiap individu. Oleh karena dua model pandangan ini,
muncul sebuah kesimpulan prematur bahwa relasi interpersonal dan intersocietas sangat dipengarui oleh prospek
dua model ajaran ini – dua model relasi yakni, eksklusivitas (Theravada) dan
inklusivtas (Mahayana). Realitas yang nampak sekarang adalah dasar analisis
atas pandangan mengenai umat Buddha akan persaudaraan (fraternity). Kontribusi Buddhis dalam hal politik, sosial dan
budaya juga sangat bergantung pada cara pandang dua aliran besar di atas, yakni
Mahayana dan Theravada. Relasi sosio-politis dalam agama Buddha juga mengikuti Ten Duties of the King (Dasa Raja
Dhama), yakni: (1) ajaran kebebasan, kasih dan keramahan (dana) bagi setiap orang agar dicapai kesejahteraan bersama, (2)
tidak boleh mengeksploitasi orang lain atau karakter moral (sila), (3) mengorbankan segalanya (pariccaga) untuk kebaikan banyak orang,
(4) integritas dan kejujuran (ajjava), (5) kebaikan dan kemurahan (maddava), (6) kesederhanaan serta
mengusahakan self-control (tapa), (7) bebas dari kebencian atau
permusuhan (akkodha) dengan sesama,
(8) menghindari kekerasan (ahimsa)
atau promosi kedamaian/cegah konflik atau perang, (9) saling menghormati dan
sikap toleransi (khanti) dan
menghargai martabat orang lain atau hidup dalam keharmonisan (avirodha).[12]
Catatan Pamungkas
Agama
Buddha bukanlah tujuan hidup, melainkan instrumen agar sesorang memiliki
pedoman dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari, sehingga kebahagiaan duniawi
dan nibbana dapat diperoleh. Ajaran
Buddha lebih mengusahakan sebuah pelepasan diri (self-liberation) dari kelekatan buta hal-hal duniawi. Pencerahan
adalah sebuah tahap final – enlightenment
leads to liberation. Dalam agama Katolik kita mengenal konsep keselamatan
yang diperoleh melalui penyerahan diri Yesus di kayu Salib. Sedangkan agama
Buddha mengenal istilah pencerahan – bukan atas dasar totalitas penyerahan diri
apalagi penderitaan. Peristiwa Salib adalah sebuah proses penyelamatan
sekaligus kebangkitan, sedangkan pencerahan adalah sebuah pencapain atau
ketertujuan dari masing-masing umat Buddha. Kritik terhadap agama Buddha
mengenai ritual penyembahan kepada Sang Buddha sendiri, di mana Buddha tidak
pernah mengajarkan penyembahan atas apa pun termasuk dirinya. Model
penghormatan umat Buddhis seperti menyembah diri sendiri (self) – pencerahan diperoleh dari dalam diri sang calon
Bodhisattva. Apa yang dituju oleh umat Buddhis seperti sebuah ilusi belaka atas
tindakan mistis.
DAFTAR
PUSTAKA
Conze,
Edward, 1993,
Buddhism – A
Short History, Oneworld Publications, England.
Dhavamony,
Mariasusai, 1995,
Fenomenologi
Agama, Kanisius, Yogyakarta.
Hervey,
Peter, 2013,
Buddhism,
Cambridge University Press, Cambridge.
King, B. Sallie,
2009,
Socially Engaged Buddhism,
University of Hawai’i Press, America.
Magnis-Suseno,
Frans, 2006,
Menalar Tuhan,
Kanisius, Yogyakarta.
Nguyen
Hai Minh, Anselmo, 2001,
True Mind in Zen
Buddhism, dalam Religious
Life in Asia, Institute for Consecrated Life in Asia (ICLA), Philipines.
Rahula,
Sri Walpola, 1978,
What the Buddha Taught, The Gordon
Fraser Gallery, London.
[1] Buddha adalah istilah untuk
orang yang mendapat pencerahan. Pertama kali dialami oleh Siddartha Gautama di
India, c.a 600 atau 400 SM, Edward Conze, Buddhism
– A Short History, Oneworld Publications, England, 1993, vi.
[2] Term Buddhis dalam bahasa
Inggris mengindikasikan gambaran sebuah agama yang memiliki ciri, yakni
berdevosi kepada Sang Buddha, Buddhas atau lingkungan Buddha, Peter Hervey, Buddhism, Cambridge University Press,
Cambridge, 2013, 1.
[3] Agama Buddha hanya mengenal
hukum sebab-akibat sebagai profil terjadinya alam dan segala ciptaan lain Anselmo
Nguyen Hai Minh, True Mind in Zen
Buddhism, dalam Religious Life in Asia, Vol. III, No. 4, Oktober-Desember,
Institute for Consecrated Life in Asia (ICLA), Philipines, 2001, 120.
[4] Nirvana adalah suatu keadaan keselamatan atau situasi akhir
keselamatan. Nirvana juga dipahami
sebagai terhentinya penderitaan dan kemalangan – rumusan positifnya adalah
kebahagiaan tertinggi. Lebih mudah menerangkan nirvana dalam pengertian negatif daripada dalam pengertian positif.
Jadi, nirvana adalah terhentinya
hasrat, suatu netralisasi dari tindakan-tindakan dan akhir dari kelahiran yang
menyakitkan, Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi
Agama, Kanisius, Yogyakarta, 1995, 311-312.
[5] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, 93-95.
[6] Anselmo Nguyen Hai Minh, Reflections on Enlightenment and Salvation,
121.
[7] Frans Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, Kanisius, Yogyakarta,
2006, 33.
[8] Berbeda dengan pandangan Buddha
Mahayana yang mencap pandangan aliran Theravada sebagai suatu ajaran yang penuh
kepentingan diri. Buddha Mahayana berpendapat bahwa justru orang suci yang
sejati harus dengan suka rela mengesampingkan keselamatan diri sendiri dan
bersumpah menyelamatkan semua makhluk inderawi sebelum masuk dalam kebahagiaan
akhir, Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi
Agama, 312.
[9] Sallie B. King, Socially Engaged Buddhism, University of
Hawai’i Press, America, 2009, 120.
[10] Sallie B. King, Socially Engaged Buddhism, 123.
[12] Keseepuluh Dasa Raja Dhama di
atas bukanlah sebuah uthopia, melainkan atas kepercayaan pada model
kepemimpinan raja Ashoka yang jaya di India, Walpola Sri Rahula, What the Buddha Taught, The Gordon
Fraser Gallery, London, 1978, 84-86.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar