GENDER
DAN SEXUALITAS
Judul
Asli Gender and Sexuality (bagian IV
– 21 halaman), ditulis
oleh Ronald Hendel, Chana Kronfeld, and Ilana
Pardes, dalam Hendel, Ronald (ed), 2010,
Reading Genesis – Ten Methods,
Cambridge University Press, New York
Oleh Roberth Cristianto Naku
Panorama
Pemahaman
Artikel ini umumnya berbicara
mengenai sketsa sektoral – sebagian kisah yang ditampilkan dari kaca mata
Perjanjian Lama – mengenai seks dan gender. Kedua hal ini, seksualitas dan
gender, dikupas panjang lebar oleh beberapa pemikir sesuai dengan alam pikir
dan konteks yang melatarbelakangi mereka saat itu. Dasar pemahaman tentang seks
dan gender dilatarbelakangi oleh kenyataan sosial dan dibandingkan dengan
kisah-kisah yang ditampilkan pada teks Kitab Suci terutama yang dijabarkan
dalam teks Perjanjian Lama. Banyak ahli berusaha memahami arti, makna dan
pengaruh gender dan seksualitas ini bertolak dari kisah-kisah seperti
Penciptaan Manusia (Kej 1 dan 2), kisah Sodom dan Gomora – Lot dan anak-anaknya
(Kej 19:1-38), kisah Abraham dan Abimelekh (Kej 20 dan 21), kisah Boas dan Ruth
(Ruth 3:11), serta kisah-kisah lain seperti Tamar dan Yehuda (Kej 38:1-30).
Masing-masing kisah melukiskan bagaimana sistem gender dan kehidupan seksual
dibangun dan dihidupi. Banyak pakar yang juga memakai teks-teks ini sebagai
tameng untuk menjastifikasi tindakan-tindakan buruk dalam kehidupan
bermasyarakat. Akan tetapi, ada pula tokoh-tokoh pemikir lainnya yang melihat –
kisah-kisah yang ditampilkan dalam ‘mitologi’ Perjanjian Lama – sebagai sebuah
gagasan transformatif atas pemahaman yang keliru mengenai seksualitas dan
gender. Adapun kisah awal pembahasan mengenai seksualitas dan gender ini
“diprovokasi” oleh pendapat Simone de Beauvioir yang dipublikasikannya dalam sebuah tulisan yang berjudul The Second Sex atau Kelas Kedua (1949).
Dalam
studinya tentang gender – The Second Sex
(1949) – Simone de Beauvoir menampilkan sebuah kisah tentang penciptaan
perempuan dengan kaca mata “kasta”. Pemikiran Beauvoir ini pun memberi pengaruh
yang cukup luas bagi perkembangan model berpikir orang-orang Barat saat itu.
Beauvoir menulis demikian:
“Eva
kadang tidak terlalu modis seperti laki-laki; dia bukan merupakan penjelmaan
dari substansi yang berbeda, juga tidak dari tanah liat yang sama yang dipakai
untuk menciptakan Adam: ia diambil dari tulang rusuk manusia pertama. Allah
tidak secara spontan memilih untuk menciptakannya sebagaimana ia sendiri
adanya,.......ia ditakdirkan Allah untuk laki-laki; ia dipersiapkan untuk
menjadi penolong Adam – pasangannya yang asli dalam ketertujuannya – dalam kesepian, dia adalah pelengkap laki-laki
dalam hal yang tidak esensial.”
Pendapat Beauvoir ini, pada intinya berusaha
menempatkan wanita di kelas yang kedua (the
second sex). Ungkapan Beauvoir yang terkenal adalah sesorang tidak
dilahirkan, tetapi menjadi seseorang – sebuah formulasi fundamental atas
definisi gender sebagai sebuah konstruksi sosial. Kehadiran wanita dalam
kehidupan, menurut Beauvoir adalah sebagai pelangkap atau “pelayan” laki-laki.
Ia (wanita) diciptakan untuk melayani suaminya. Akan tetapi, pendapat Beauvoir
ini ditentang oleh Philip Tribe. Tribe – God
and the Rhetoric of Sexuality (1978) – menempatkan posisi perempuan dan
laki-laki pada tataran yang sama. Laki-laki dan perempuan adalah sejajar.
Konsep citra Allah (Kej 1:27) yang diadopsi Tribe memperkuat dalihnya tentang
kesetaraan gender. Allah menciptakan manusia, bukan untuk menjadi ‘budak’ bagi
yang lain, melainkan menjadi penyempurna. Tribe juga mengkritik kaum feminis
yang menolak eksistensi Kitab Suci – karena model penyajian tentang pria dan
wanita yang kontras. Menurut Beauvoir, jika kaum feminis menolak Kitab Suci,
sebenarnya secara tidak sadar mereka mengakui
keberadaan laki-laki di kelas utama. Tribe tidak menyetujui bahwa materi
penciptaan wanita diambil dari tulang rusuk manusia pertama.
Pandangan Tribe di atas juga didukung oleh Sarah
Grimk’e. Menurutnya, baik laki-laki dan perempuan, keduanya diciptakan sama (created equal). Mereka secara moral
adalah sama dan apa yang benar menurut laki-laki juga sama untuk perempuan.
Sebaliknya Elizabeth Schussler Fiorenza berpendapat bahwa Tribe menghilangkan
peran laki-laki. Dalam tulisannya Lethal
Love: Feminisf Literary of Biblical Love Stories (1987), menawarkan cara
membaca teks secara berbeda. Sedangkan Judith Butler – bertolak dari kisah Kej
1:27 – mengklaim diri seseorang baik pria maupun wanita ada atau terlibat
secara bersamaan, yakni tunggal dan plural. Konsep ini hendak menggambarkan posisi
perempuan dan laki-laki yang setara. Butler lebih melihat konstruksi bahasa
yang digunakan dalam menyajikan kisah. Bahasa yang dipakai dalam teks Kejadian
adalah bahasa puitis, di mana cara pemahamannya tidak terbatas pada satu jenis
penafsiran saja. Menurut Butler, manusia secara tata bahasa adalah maskulin dan
tunggal, akan tetapi ia ditentukan sebagai seorang pria dan wanita –
konsekuensi pluralis kehadiran dari makhluk maskulin-tunggal. Penulis Kitab
Perjanjian Lama menyajikan teks apa adanya. Ia tidak pernah memikirkan apa yang
ditulisnya akan menimbulkan perdebatan sengit bagi para pembacanya di kemudian
hari. Penafsiran atas teks tergantung pembaca – karena teks yang ada adalah
sebuah refleksi iman manusia bukan fakta – namun isi teks menjadi milik
penulis.
Sketsa Sodom Serta Beragam
Pemahaman
Bagian
ini umumnya mengisahkan gambaran tentang
Sodom dan Gomora. Kisah dimulai dengan kehadiran dua orang utusan Tuhan yang
datang ke Sodom (Kej 19:1-38). Keduanya disambut oleh seorang laki-laki tua bernama
Lot. Lot memiliki dua orang anak perempuan. Lot memberikan tumpangan bagi kedua
orang asing tersebut sebagaimana yang dilakukan Abraham. Akan tetapi, niat baik
Lot ditentang oleh warga kampung – yang menilai Lot telah menyembunyikan orang asing di rumahnya.
Kisah Sodom dan Gomora ini pada dasarnya menampilkan berbagai macam tindakan
pelanggaran berkaitan dengan seksualitas. Diakhir kisah, bahkan diceritakan
bahwa Lot bersetubuh dengan anak-anaknya. Tabo, incest, serta pelanggaran seksualitas
lainnya dipotret dari kisah ini. Karena keberanian serta kegamblangan penyajian
kisah, menimbulkan banyak penafsiran. Pertama,
permintaan para warga (mayoritas laki-laki) agar Lot menunjukkan kepada mereka
kedua orang asing yang menumpang dalam rumahnya – melahirkan penafsiran tentang
sodomi dan homoseksual. Kedua, Lot
menawarkan kedua putrinya yang masih perawan – pelacuran, prostitusi bahkan human trafficing. Ketiga, Lot bersetubuh dengan kedua putrinya – incest dan tabo.
Kisah ini menimbulkan berbagai penafsiran, dan bahkan ada orang yang memakai
teks ini sebagai benteng untuk membenarkan tindakan homoseksual dan pelacuran.
Akan tetapi, kisah Lot bersetubuh dengan anak-anaknya selalu berkaitan dengan
problem keturunan. Hal ini yang akan kita temukan dalam kisah-kisah amatir
selanjutnya seputar problem keturunan dan mandul. Sekali lagi, kisah-kisah
dalam teks di atas selalu menimbulkan perdebatan dan multi tafsir. Kisah di
luar Sodom juga menampilkan hal sama, di mana problem utama tindakan pelegalan
perbuatan buruk selalu dilatarbelakangi oleh problem keturunan. Masalah
keturunan membuat siapa saja (dalam kisah Araham, Ruth, Yehuda dan Tamar) harus
menggunakan segala sarana yang mungkin (all
means possible) untuk mencapai prospek. Semua kisah ini hanya menggambarkan
perjalanan bangsa pilihan Allah (Israel) secara holistik.
Catatan Kritis
Penyajian
kisah-kisah dalam teks di atas – penciptaan manusia maupun kisah Sodom –
menimbulkan berbagai macam perdebatan. Informasi yang dilukiskan menimbulkan
berbagai spekulasi tentang kebenaran kisah. Akan tetapi, kisah-kisah ini
menimbulkan pengaruh yang cukup masif. Apa yang dikemukakan Beauvoir mungkin
benar dan konsep Tribe dan sekutunya juga tidak salah. Penting untuk diketahui
bahwa fakta kebenaran kisah dalam Kejadian benar-benar dimulai dari bab 12.
Oleh karena itu, kisah Kejadian 1 dan 2 yang menjadi perdebatan para ahli,
hemat saya hanyalah sebuah bentuk kontribusi atas pemahaman para ahli tentang
Kitab Suci. Sinyal buruk tentang bias gender dalam kehidupan sehari-hari
membuat siapa saja berusaha mendobraknya sekaligus berusaha menemukan titik
pijak atau dasar pemahaman, yakni Kitab Suci. Sedangkan kisah Sodom adalah
sebuah model pembelajaran moral (moral
lesson). Nilai moral dipahami dari kisah ini, di mana setiap kita bisa
memetik pelajarannya dari setiap alur yang diceritakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar