Senin, 09 November 2015

Sexualitas & Gender

GENDER DAN SEXUALITAS
Judul Asli Gender and Sexuality (bagian IV – 21 halaman), ditulis oleh Ronald Hendel, Chana Kronfeld, and Ilana Pardes, dalam Hendel, Ronald (ed), 2010,  Reading Genesis – Ten Methods, Cambridge University Press, New York
Oleh Roberth Cristianto Naku
Panorama Pemahaman
            Artikel ini umumnya berbicara mengenai sketsa sektoral – sebagian kisah yang ditampilkan dari kaca mata Perjanjian Lama – mengenai seks dan gender. Kedua hal ini, seksualitas dan gender, dikupas panjang lebar oleh beberapa pemikir sesuai dengan alam pikir dan konteks yang melatarbelakangi mereka saat itu. Dasar pemahaman tentang seks dan gender dilatarbelakangi oleh kenyataan sosial dan dibandingkan dengan kisah-kisah yang ditampilkan pada teks Kitab Suci terutama yang dijabarkan dalam teks Perjanjian Lama. Banyak ahli berusaha memahami arti, makna dan pengaruh gender dan seksualitas ini bertolak dari kisah-kisah seperti Penciptaan Manusia (Kej 1 dan 2), kisah Sodom dan Gomora – Lot dan anak-anaknya (Kej 19:1-38), kisah Abraham dan Abimelekh (Kej 20 dan 21), kisah Boas dan Ruth (Ruth 3:11), serta kisah-kisah lain seperti Tamar dan Yehuda (Kej 38:1-30). Masing-masing kisah melukiskan bagaimana sistem gender dan kehidupan seksual dibangun dan dihidupi. Banyak pakar yang juga memakai teks-teks ini sebagai tameng untuk menjastifikasi tindakan-tindakan buruk dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi, ada pula tokoh-tokoh pemikir lainnya yang melihat – kisah-kisah yang ditampilkan dalam ‘mitologi’ Perjanjian Lama – sebagai sebuah gagasan transformatif atas pemahaman yang keliru mengenai seksualitas dan gender. Adapun kisah awal pembahasan mengenai seksualitas dan gender ini “diprovokasi” oleh pendapat Simone de Beauvioir yang dipublikasikannya dalam  sebuah tulisan yang berjudul The Second Sex atau Kelas Kedua (1949).
      Dalam studinya tentang gender – The Second Sex (1949) – Simone de Beauvoir menampilkan sebuah kisah tentang penciptaan perempuan dengan kaca mata “kasta”. Pemikiran Beauvoir ini pun memberi pengaruh yang cukup luas bagi perkembangan model berpikir orang-orang Barat saat itu. Beauvoir menulis demikian:
“Eva kadang tidak terlalu modis seperti laki-laki; dia bukan merupakan penjelmaan dari substansi yang berbeda, juga tidak dari tanah liat yang sama yang dipakai untuk menciptakan Adam: ia diambil dari tulang rusuk manusia pertama. Allah tidak secara spontan memilih untuk menciptakannya sebagaimana ia sendiri adanya,.......ia ditakdirkan Allah untuk laki-laki; ia dipersiapkan untuk menjadi penolong Adam – pasangannya yang asli dalam ketertujuannya –  dalam kesepian, dia adalah pelengkap laki-laki dalam hal yang tidak esensial.”
Pendapat Beauvoir ini, pada intinya berusaha menempatkan wanita di kelas yang kedua (the second sex). Ungkapan Beauvoir yang terkenal adalah sesorang tidak dilahirkan, tetapi menjadi seseorang – sebuah formulasi fundamental atas definisi gender sebagai sebuah konstruksi sosial. Kehadiran wanita dalam kehidupan, menurut Beauvoir adalah sebagai pelangkap atau “pelayan” laki-laki. Ia (wanita) diciptakan untuk melayani suaminya. Akan tetapi, pendapat Beauvoir ini ditentang oleh Philip Tribe. Tribe – God and the Rhetoric of Sexuality (1978) – menempatkan posisi perempuan dan laki-laki pada tataran yang sama. Laki-laki dan perempuan adalah sejajar. Konsep citra Allah (Kej 1:27) yang diadopsi Tribe memperkuat dalihnya tentang kesetaraan gender. Allah menciptakan manusia, bukan untuk menjadi ‘budak’ bagi yang lain, melainkan menjadi penyempurna. Tribe juga mengkritik kaum feminis yang menolak eksistensi Kitab Suci – karena model penyajian tentang pria dan wanita yang kontras. Menurut Beauvoir, jika kaum feminis menolak Kitab Suci, sebenarnya secara tidak sadar mereka mengakui  keberadaan laki-laki di kelas utama. Tribe tidak menyetujui bahwa materi penciptaan wanita diambil dari tulang rusuk manusia pertama.
Pandangan Tribe di atas juga didukung oleh Sarah Grimk’e. Menurutnya, baik laki-laki dan perempuan, keduanya diciptakan sama (created equal). Mereka secara moral adalah sama dan apa yang benar menurut laki-laki juga sama untuk perempuan. Sebaliknya Elizabeth Schussler Fiorenza berpendapat bahwa Tribe menghilangkan peran laki-laki. Dalam tulisannya Lethal Love: Feminisf Literary of Biblical Love Stories (1987), menawarkan cara membaca teks secara berbeda. Sedangkan Judith Butler – bertolak dari kisah Kej 1:27 – mengklaim diri seseorang baik pria maupun wanita ada atau terlibat secara bersamaan, yakni tunggal dan plural. Konsep ini hendak menggambarkan posisi perempuan dan laki-laki yang setara. Butler lebih melihat konstruksi bahasa yang digunakan dalam menyajikan kisah. Bahasa yang dipakai dalam teks Kejadian adalah bahasa puitis, di mana cara pemahamannya tidak terbatas pada satu jenis penafsiran saja. Menurut Butler, manusia secara tata bahasa adalah maskulin dan tunggal, akan tetapi ia ditentukan sebagai seorang pria dan wanita – konsekuensi pluralis kehadiran dari makhluk maskulin-tunggal. Penulis Kitab Perjanjian Lama menyajikan teks apa adanya. Ia tidak pernah memikirkan apa yang ditulisnya akan menimbulkan perdebatan sengit bagi para pembacanya di kemudian hari. Penafsiran atas teks tergantung pembaca – karena teks yang ada adalah sebuah refleksi iman manusia bukan fakta – namun isi teks menjadi milik penulis.

Sketsa Sodom Serta Beragam Pemahaman
            Bagian ini  umumnya mengisahkan gambaran tentang Sodom dan Gomora. Kisah dimulai dengan kehadiran dua orang utusan Tuhan yang datang ke Sodom (Kej 19:1-38). Keduanya disambut oleh seorang laki-laki tua bernama Lot. Lot memiliki dua orang anak perempuan. Lot memberikan tumpangan bagi kedua orang asing tersebut sebagaimana yang dilakukan Abraham. Akan tetapi, niat baik Lot ditentang oleh warga kampung – yang menilai  Lot telah menyembunyikan orang asing di rumahnya. Kisah Sodom dan Gomora ini pada dasarnya menampilkan berbagai macam tindakan pelanggaran berkaitan dengan seksualitas. Diakhir kisah, bahkan diceritakan bahwa Lot bersetubuh dengan anak-anaknya. Tabo, incest, serta pelanggaran seksualitas lainnya dipotret dari kisah ini. Karena keberanian serta kegamblangan penyajian kisah, menimbulkan banyak penafsiran. Pertama, permintaan para warga (mayoritas laki-laki) agar Lot menunjukkan kepada mereka kedua orang asing yang menumpang dalam rumahnya – melahirkan penafsiran tentang sodomi dan homoseksual. Kedua, Lot menawarkan kedua putrinya yang masih perawan – pelacuran, prostitusi bahkan human trafficing. Ketiga, Lot bersetubuh dengan kedua putrinya – incest dan tabo. Kisah ini menimbulkan berbagai penafsiran, dan bahkan ada orang yang memakai teks ini sebagai benteng untuk membenarkan tindakan homoseksual dan pelacuran. Akan tetapi, kisah Lot bersetubuh dengan anak-anaknya selalu berkaitan dengan problem keturunan. Hal ini yang akan kita temukan dalam kisah-kisah amatir selanjutnya seputar problem keturunan dan mandul. Sekali lagi, kisah-kisah dalam teks di atas selalu menimbulkan perdebatan dan multi tafsir. Kisah di luar Sodom juga menampilkan hal sama, di mana problem utama tindakan pelegalan perbuatan buruk selalu dilatarbelakangi oleh problem keturunan. Masalah keturunan membuat siapa saja (dalam kisah Araham, Ruth, Yehuda dan Tamar) harus menggunakan segala sarana yang mungkin (all means possible) untuk mencapai prospek. Semua kisah ini hanya menggambarkan perjalanan bangsa pilihan Allah (Israel) secara holistik.

Catatan Kritis
            Penyajian kisah-kisah dalam teks di atas – penciptaan manusia maupun kisah Sodom – menimbulkan berbagai macam perdebatan. Informasi yang dilukiskan menimbulkan berbagai spekulasi tentang kebenaran kisah. Akan tetapi, kisah-kisah ini menimbulkan pengaruh yang cukup masif. Apa yang dikemukakan Beauvoir mungkin benar dan konsep Tribe dan sekutunya juga tidak salah. Penting untuk diketahui bahwa fakta kebenaran kisah dalam Kejadian benar-benar dimulai dari bab 12. Oleh karena itu, kisah Kejadian 1 dan 2 yang menjadi perdebatan para ahli, hemat saya hanyalah sebuah bentuk kontribusi atas pemahaman para ahli tentang Kitab Suci. Sinyal buruk tentang bias gender dalam kehidupan sehari-hari membuat siapa saja berusaha mendobraknya sekaligus berusaha menemukan titik pijak atau dasar pemahaman, yakni Kitab Suci. Sedangkan kisah Sodom adalah sebuah model pembelajaran moral (moral lesson). Nilai moral dipahami dari kisah ini, di mana setiap kita bisa memetik pelajarannya dari setiap alur yang diceritakan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar